
Fathan terperanjat kaget dengan apa yang Rian katakan, sementara Rian sendiri tampak menatapnya dengan tatapan ejekan dan penuh dengan ancaman.
"Kau, kau benar-benar bajing*an, Rian! Kau yang telah merencanakan semua itu 'kan?" teriak Fathan dengan kemarahan yang luar biasa. Rahangnya mengeras dengan tatapan tajam bak sinar laser.
Lagi-lagi Rian kembali tertawa seolah apa yang Fathan katakan sangat lucu. "Yah, tapi sayang sekali. Seharusnya salah satu di antara kalian yang kena, tapi malah wanita malang itu." Dia menggelengkan kepalanya seolah prihatin dengan apa yang terjadi pada Clarissa.
Fathan benar-benar berada dipuncak kemarahan yang membuat darahnya terasa mendidih. "Kubunuh kau!" Dengan cepat dia menerjang tubuh Rian hingga tubuh laki-laki itu menghantam dinding menyebabkan suara benturan yang cukup keras.
"Argh!" Rian mengerrang kesakitan saat kepala dan punggungnya menghantam dinding.
"Hentikan, apa yang terjadi?" Dua orang polisi yang ada di tempat itu segera menarik tubuh Fathan agar menjauh dari Rian yang sedang terbaring di atas lantai.
"Lepaskan aku! Aku akan membunuhnya, aku akan membunuh bajing*an itu!" teriak Fathan sambil memberontak dalam pegangan kedua polisi itu.
Rian yang masih tergeletak di atas lantai menggerutu kesal dengan apa yang Fathan lakukan. Kepala dan punggungnya terasa sangat sakit akibat terjangan laki-laki itu, hingga dia menghantam dinding dengan keras.
"Brengs*ek, aku benar-benar akan membunuhmu!" teriak Fathan kembali yang sudah dibawa keluar orang kedua polisi itu dari dalam ruangan.
Rian lalu beranjak bangun dari lantai dengan dibantu oleh seorang polisi yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Dia benar-benar merasa kesal dengan apa yang Fathan lakukan.
"Silahkan tinggalkan tempat ini, Tuan. Waktu Anda sudah habis," ucap polisi tersebut.
Rian menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu seraya menahan sakit dikepala dan punggungnya.
Setelah Rian pergi, polisi yang menolong laki-laki itu tadi segera menghubungi Fathir untuk melaporkan apa yang baru saja terjadi.
"Halo," ucap Fathir diseberang telepon saat panggilan itu sudah tersambung.
"Halo, Tuan." Laki-laki itu segera menceritakan semua yang terjadi antara Fathan dan juga Rian, bukan itu saja. Dia bahkan mengirim rekaman tentang percakapan mereka yang memang telah disiapkan sebelumnya, dan disembunyikan tepat di bawah meja dalam ruangan yang mereka gunakan.
Fathir yang sedang berada dalam perjalanan merasa terkejut dengan laporan dari polisi itu. Tidak disangka kakaknya akan murka seperti itu, dan dia juga tidak menyangka jika Rian akan mengakuai semua perbuatan yang telah dilakukan.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih atas bantuan Anda," ucap Fathir. Dia lalu mematikan panggilan itu dan bergegas mendengarkan rekaman yang dikirim oleh polisi tersebut.
Keanu yang sedang menyetir mobil juga turut mendengarkan rekaman yang berisi percakapan antara Rian dan Fathan. Lalu dia memukul kemudi yang ada di hadapannya dengan kuat saat mendengar ancaman yang Rian lakukan pada Fathan.
"Brengs*ek! Aku benar-benar akan menghancurkannya," ucap Keanu dengan geram.
Fathir sendiri hanya diam mendengar semua isi dari rekaman itu. Terlihat jelas kemarahan dari kedua sorot matanya, tetapi tidak ada satu kata pun yang dia ucapkan.
Sekilas Keanu melirik ke arah Fathir saat tidak mendengar suara laki-laki itu, lalu kembali melihat lurus ke arah jalanan.
"Apa yang akan kita lakukan, Fathir? Aku yakin bajing*an itu pasti akan melakukan sesuatu," tanya Keanu dengan helaan napas frustasi.
Fathir tersenyum tipis sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Kita tetap pada rencana awal, biarkan dia melakukan apa yang dia katakan pada Fathan, sementara kita fokus untuk membereskan bar miliknya."
Keanu merasa terkejut saat mendengar ucapan Fathir, hingga dia menghentikan laju mobil itu secara mendadak.
"Kau, kau bilang apa?" tanya Keanu sambil menatap Fathir dengan tajam.
"Tapi bagaimana denganmu, Fathir? Laki-laki itu akan menyerahkan rekaman cctv itu pada polisi, dan kau, kau jelas akan terlibat," ucap Keanu kembali dengan tajam.
Fathir meyakinkan Keanu bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Tidak apa-apa, mungkin sudah saatnya semua orang tahu tentang apa yang terjadi malam itu. Aku juga akan menceritakan semuanya, tapi aku butuh bantuanmu untuk mencari tahu dari mana pistol itu berasal." Dia menatap Keanu dengan penuh harap.
Keanu mengangguk paham. Sepertinya dia harus menyuruh Alden untuk menyelidiki apartemen yang Fathan tempati dulu, karena di tempat itulah kejadian penembakan terjadi.
"Baiklah, kita akan mengumpulkan semua bukti kejahatan Rian. Aku tidak akan membiarkanmu dipenjara," ujar Keanu.
Fathir tersenyum, dia lalu menepuk bahu Keanu dengan penuh syukur karena laki-laki itu sudah sangat banyak membantunya. Namun, di sisi lain dia juga sedang memikirkan rencana pernikahannya dan Ayun.
"Kalau sampai Rian benar-benar menyerahkan rekaman cctv itu pada polisi, aku pasti akan diperiksa dan bisa ditetapkan sebagai tersangka. Lalu kakak, tuduhan terhadapnya pasti akan berganti padaku sehingga sidang akan kembali digelar. Mungkin begini lebih baik, tapi aku benar-benar merasa bersalah pada Ayun." Fathir menghela napas kasar.
Di satu sisi dia ingin membersihkan nama Fathan juga jika kasus kematian Clarissa kembali dibuka, tetapi di sisi lain ada rencana pernikahannya dan Ayun yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Jelas semua itu akan gagal jika dia terlibat.
__ADS_1
Namun, jika bukan karena rekaman cctv milik Rian pun, mungkin kasus kematian Clarissa akan ikut terseret saat terkuaknya bar milik Rian.
"Sudahlah, aku serahkan semuanya pada-Mu. Aku sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik, dan hasilnya sesuai dengan kehendak-Mu saja. Tapi aku mohon jangan sakiti hati orang-orang yang kusayangi, juga hati orang-orang yang telah berkorban dalam semua ini. Aku mohon, ya Allah."
Untuk pertama kalinya, Fathir benar-benar memasrahkan semuanya pada Tuhan. Apa yang terjadi ini diluar kuasanya, dan dia tidak bisa kembali hanya karena ancaman Rian, karena masih ada hal penting yang harus mereka selesaikan menyangkut masa depan gadis-gadis yang tidak berdosa itu.
Keanu yang sedang fokus menyetir sesekali melirik ke arah Fathir yang sedang memalingkan wajah ke arah jalanan. Dia tahu jika laki-laki itu pasti memikirkan ancaman Rian, walau tidak mengatakannya dengan pasti. Apalagi pernikahan Fathir dan Ayun hanya tinggal menghitung hari saja.
"Kau tidak usah khawatir, Fathir. Selagi masih ada aku, maka aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi padamu seperti apa yang Fathan alami. Dan papa juga tidak akan membiarkan hal seperti itu menimpamu, kami pasti akan mencari jalan keluar jika nantinya bajing*an itu benar-benar memberikan rekaman cctv pada polisi." Keanu sudah bertekad akan menghancurkan Rian dan melindungi sahabatnya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun dan keluarganya sedang mencicipi berbagai macam menu masakan yang akan terhidang pada saat pesta pernikahan nanti. Mulai dari makanan utama sampai pencuci mulutnya, tidak lupa berbagai minuman yang akan mereka sajikan juga.
Pyar.
Tiba-tiba gelas yang ada ditangan Ayun terlepas dan jatuh menghantam lantai, hingga membuat semua orang terlonjak kaget karenanya.
"Ada apa, Nak? Apa kau baik-baik saja?" tanya Hasna dengan panik saat mendengar suara pecahan gelas itu.
Ayun yang juga merasa terkejut menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bu. Aku tidak sengaja menjatuhkan gelasnya." Dia segera berjongkok untuk mengutip pecahan gelas itu dengan dibantu oleh Yuni dan Nindi.
Setelah selesai, Ayun membawanya ke dapur lalu memasukkan pecahan gelas itu ke dalam tong sampah agar tidak terkena kaki.
"Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak begini, ya Allah?" gumam Ayun sambil mengusap dadanya yang terasa berdebar kencang. Entah kenapa perasaannya sangat tidak nyaman sekali dan juga merasa cemas akan sesuatu. "Aku harap semuanya baik-baik saja."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1