
Ayun kembali menganggukkan kepala sebagai pertanda bahwa dia mengerti dengan apa yang Fathir inginkan. Namun, dia meminta waktu agar bisa bicara dulu dengan Adel dan memberitahukan tentang semua itu.
"Ambillah. Anda bisa menghubungi saya jika Adel bersedia." Fathir memberikan kartu nama pada Ayun, agar wanita itu bisa memberi kabar baik padanya.
"Baik, Tuan. Terima kasih," ucap Ayun sambil menerima kartu nama itu dengan penuh suka cita, setidaknya dia bisa sedikit membantu laki-laki itu walau tidak tahu apakah Adel mau atau tidak.
Dari kejauhan, tampak Keanu dan Abbas memperhatikan Ayun dan Fathir. Mereka lalu saling pandang dengan tatapan penuh makna, seakan-akan menyimpan sesuatu tentang dua orang yang sejak tadi asik mengobrol ria.
"Sepertinya Ayun cocok dengan asistenmu, Ken," ucap Abbas dengan suara tertahan, supaya tidak ada orang lain yang mendengar ucapannya kecuali Keanu.
"Papa yakin, mereka cocok?" tanya Keanu sambil menghela napas kasar. Dilihat dari ujung sedotan pun, dua orang itu sama sekali tidak cocok.
"Em ... yah, agak enggak cocok sih. Tapi kalau orangnya Fathir masih bisa dibicarakan," jawab Abbas dengan ragu, dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan.
Keanu hanya diam sambil kembali melihat ke arah Fathir, tampak laki-laki itu sudah beranjak keluar dari rumah. "Yah, Fathir memang laki-laki yang baik dan bertangggung jawab. Tapi ...." Dia menggelengkan kepalanya. Tidak bisa dibayangkan jika laki-laki itu kembali berhubungan dengan seorang wanita.
Setelah menerima kartu nama Fathir, Ayun segera memasukkan nomornya ke dalam ponsel. Dia lalu kembali bergabung dengan yang lainnya, tampak semua orang sedang saling berkengkrama dengan hangat.
"Ayo kita ke kamar, Bu!" ajak Adel yang sudah tidak sabar melihat reaksi sang ibu saat melihat kamar yang sudah mereka siapkan.
Ayun menganggukkan kepala dan berlalu pamit pada yang lainnya. Dengan ditemani Adel dan Ezra yang terlihat sangat antusias sekali, dia melangkahkan kaki untuk naik ke lantai 2 di mana kamarnya berada.
Mata Ayun terus memperhatikan ke semua penjuru rumah yang tampak mewah dan rapi. Berbagai barang yang ada di rumah itu juga tidak kalah mewah, tampak jelas jika barang-barang itu bukan barang sembarangan dan pasti harganya juga sangat mahal.
"Nah, kita sudah sampai," ucap Adel saat mereka sudah berdiri di depan salah satu kamar.
"Apa ini kamar Ibu?" tanya Ayun, yang dijawab dengan anggukan kepala kedua anaknya secara bersamaan.
"Tunggu sebentar, Bu."
__ADS_1
Ayun yang sudah memegang gagang pegangan pintu, dan akan membukanya mengurungkan niat saat mendengar suara Ezra. Dia lalu menoleh ke arah putranya itu. "Ada apa, Nak?" Dia bertanya dengan bingung.
Ezra menatap sang ibu dalam, mencoba untuk meyakinkan hati jika apa yang akan dia katakan adalah benar. Dia juga ingin melihat, apakah masih ada perasaan ibunya yang tertinggal di masa lalu.
"Ada apa, Nak? Apa ada masalah?" Ayun bertanya dengan khawatir, apalagi saat melihat sang putra hanya diam sambil menatapnya.
Ezra mengulas senyum tipis, dia yang tadi merasa ragu kini sudah bisa mengendalikan diri. Dengan cepat, dia memegang tangan ibu dan juga adiknya membuat kedua wanita beda generasi itu merasa bingung.
"Sekarang kehidupan kita sudah jauh berbeda Bu, dan perubahan itu dimulai dari rumah ini." Lirih Ezra.
"Pertama kali aku melangkah masuk ke dalam tempat ini, aku sudah berniat untuk membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama. Aku akan berjuang keras untuk menjadikan rumah ini sebagai tempat pulang yang nyaman dan aman, tempat yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Tempat di mana kita hidup bahagia. Bisakah ibu dan Adel juga berpikir seperti itu?" tanya Ezra dengan sendu.
Ayun terdiam dengan mata berkaca-kaca, sungguh hatinya terluka saat mendengar ucapan Ezra. Ucapan dari seorang anak berusia 20 tahun yang dipaksa dewasa karena keadaan, bahkan dipaksa menerima rasa sakit dan luka yang disebabkan oleh kedua orang tua. Padahal putranya baru saja mulai beranjak dewasa.
"Ibu tidak berharap banyak, Nak. Ibu hanya ingin kau dan adikmu hidup sehat dan bahagia. Bisa sekolah seperti biasa, dan bermain dengan teman-teman. Hanya itu, hanya itu yang ibu inginkan," ucap Ayun.
Bagi seorang ibu, kebahagiaan anak adalah yang nomor satu. Tidak peduli walau hidupnya hancur berantakan. Jiwanya disiksa sedemikian rupa, dan harapannya dipatahkan oleh pihak ketiga.
"Jika seorang ibu akan berusaha keras demi kebahagiaan anak mereka, maka seorang anak akan bahagia jika ibu mereka juga bahagia. Jadi, ayo kita hidup bahagia dengan membuka lembaran baru, Bu!" pinta Ezra.
Ayun langsung menganggukkan kepala sambil menggenggam kedua tangan anaknya dengan erat. "Insyaallah, Nak. Insyaallah."
Adel yang sejak tadi diam tampak mengusap air mata yang membasahi wajah sang ibu, lalu kembali mengingatkan jika mereka akan masuk ke dalam kamar.
Dengan mengucap bismillah, Ayun membuka kamar itu secara perlahan sambil melangkahkan kaki. Kedua pupil matanya membesar melihat betapa indah dan cantiknya kamar itu, membuat senyum lebar terbit dibibirnya.
"Kamar ini indah sekali, Nak. Sangat indah," ucap Ayun dengan lirih. Kedua matanya berbinar saat menatap beberapa foto mereka yang tertata rapi di dinding, juga ada beberapa yang berada dirak penyimpanan.
"Silahkan istirahat di kamar baru Ibu, kami senang jika Ibu menyukainya," seru Adel.
__ADS_1
Ayun menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk untuk melihat keseluruhan kamar, sementara Ezra dan Adel keluar dari tempat itu sambil menutup pintu.
"Alhamdulillah. Aku bersyukur atas segala rezeki yang Kau berikan, ya Allah," gumam Ayun sambil memejamkan kedua matanya.
Sementara itu, di tempat lain tampak Evan sedang termenung di atas ranjang. Dia sedang memikirkan tentang kasus yang menimpanya, juga tentang masalah yang harus dia dan Sherly selesaikan.
"Harus ke mana aku mencari uang? Jika aku tidak membayar denda, jelas aku akan masuk penjara. Tidak, aku tidak mau," gumam Evan dengan helaan napas frustasi.
Satu-satunya jalan adalah dengan meminta bantuan Ayun. Baik untuk melepaskannya dari hukuman, juga untuk keberlangsungan Dhean property. Tanpa dia ketahui, jika saat ini David sudah kembali menyusun rencana untuk melanjutkan proyeknya yang tertunda.
Dengan cepat, Evan mengambil ponselnya untuk menghubungi Ayun. Semoga sana wanita itu mau menjawab panggilannya, setelah itu baru dia akan mengatakan bagaimana kondisinya saat ini.
"Halo, Ayun," ucap Evan saat teleponnya sudah dijawab.
"Maaf, ini bukan Ayun."
Evan mengernyitkan kening saat mendengar ucapan wanita yang sedang bicara dengannya, mungkinkah dia sudah salah telepon?
"Ayun sedang istirahat," ucap wanita itu kemudian.
"Ah, jadi begitu. Baiklah, tolong katakan padanya jika aku-"
"Jika kau apa, Evan?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.