Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 101. Berkumpul di Kantor Polisi.


__ADS_3

Sherly terisak sambil menggenggam tangan sang mama, sungguh dia tidak kuat lagi berada dibalik jeruji besi. Apalagi tidak ada satu orang pun yang berada dipihaknya dan tidak ada yang bisa diajak bicara membuat penderitaannya terasa berkali-kali lipat.


"Mama." Suci menatap sang mama dengan kedua mata berkaca-kaca, mimik wajahnya terlihat jelas akan ikut menangis saat ini.


Sherly melepaskan tangannya dari tangan sang mama dan kembali memeluk putrinya dengan erat. "Apa Suci udah makan, hem? Suci makan sama Oma, 'kan?" Lirihnya dengan suara serak menahan tangis.


Suci menggelengkan kepalanya. "Gak mau. Mau sama Mama." Dia menyusupkan kepalanya ke leher sang mama dengan tangan memegang rambut mamanya, kebiasaan yang selalu dia lakukan sebelum tidur.


Sherly memejamkan kedua matanya dengan rasa sakit yang teramat dalam saat mendengar ucapan sang putri. Apa yang harus dia lakukan, pada siapa dia harus meminta bantuan? Satu-satunya orang yang dia harapkan sekaligus yang memasukkannya ke penjara adalah Evan, tetapi sampai sekarang laki-laki itu bahkan tidak datang menemuinya.


"Kenapa dia tidak datang menemuiku, apa dia sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasanku? Padahal aku melakukannya demi menjaga nama baiknya, tapi dia sama sekali tidak peduli. Dia bahkan tidak peduli dengan putrinya sendiri." Batin Sherly terasa sangat amat sakit sekali.


Sherly lalu kembali mengerjapkan kedua matanya dan duduk dikursi yang ada di tempat itu, bersama dengan sang mama. Mamanya lalu mengatakan jika pengacara sedang mengurus tentang masalah ini, dia hanya menanggapinya dengan anggukan kepala dan terus menatap wajah anaknya dengan sendu.


Tanpa mereka sadari, ternyata sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan dari kejauhan. Dialah Evan yang berniat untuk menemui polisi bersama dengan pengacaranya, tetapi tidak disangka dia melihat keberadaan Sella dan sang putri yang akan menemui Sherly.


Evan lalu memutuskan untuk mengikutinya, dan menyaksikan semua yang terjadi di depan matanya saat ini. Kedua tangannya terkepal erat saat melihat apa yang Sherly lakukan, juga ucapan yang terdengar sangat tersiksa.


Jujur saja, hati Evan sangat sakit saat melihatnya. Terutama saat menatap putri kecilnya yang malang, sungguh dia sangat tidak tega melakukan hal sepert ini.

__ADS_1


"Kenapa harus dia, kenapa harus dia yang melakukan semua ini?" Lirih Evan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Siapapun yang melihatnya pasti tidak akan tega, apalagi dia yang merupakan suami dan ayah kandung dari anak yang saat ini sedang menderita akibat perbuatan Sherly.


"Sekarang apa yang akan Anda lakukan, Tuan? Apa Anda akan mencabut laporan tentang kasus ini?" tanya Hery. Dia mengerti bagaimana perasaan laki-laki itu saat ini.


Jika dilanjutkan, jelas Sherly akan mendekam di penjara selama beberapa tahun sekaligus membayar biaya dendanya, dan semua itu pasti tetap Evan juga yang mengalami kerugian. Jika dicabut, maka Evan tidak akan mendapatkan apa-apa juga.


"Cepat jalan!"


Evan dan Hery terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak mereka menoleh ke arah belakang dan membelalak kedua mata saat melihat Nia dan juga Burhan.


Bukan hanya mereka berdua saja yang kaget, Sherly dan Sella juga menoleh ke arah belakang saat mendengar suara berisik, tetapi mereka tidak dapat melihat apa yang terjadi karena terhalang tembok.


Evan menatap kedua orang itu dengan tajam. Beberapa hari yang lalu dia sudah menemui mereka, dan mereka mengatakan jika Sherlylah yang menjual berkas itu, bahkan sampai terjadi baku hantam.


Burhan yang melihat keberadaan Evan tampak menatap laki-laki itu dengan kesal, tetapi rasa kesalnya tidak sebanding dengan kekesalan pada sang istri yang sudah membuat keadaan menjadi seperti ini.


"Kau lihat 'kan, polisi pasti akan menangkapmu!" ucap Evan dengan tajam saat Burhan dan Nia melewatinya hendak di bawa ke sel tahanan.

__ADS_1


"Oh ya?" tukas Nia dengan tersenyum sinis. "Apa kau pikir kami akan berada di sini selamanya, hah? Jelas-jelas yang salah itu adalah istrimu, jadi dia yang akan berada di penjara." Dia berucap dengan tajam dan sarkas.


Evan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia sama sekali tidak bisa membalas ucapan wanita itu, dan hanya bisa menahan kemarahan yang terasa membakar jiwanya.


Sherly dan Sella yang baru keluar dari ruangan itu terpaku di ambang pintu saat melihat keberadaan Evan, apalagi saat melihat Nia dan juga burhan.


Mata Sherly langsung menyala dahsyat saat melihat wanita itu. Dia segera menyerahkan Suci pada sang mama dan bergegas menggampiri Nia.


"Dasar j*a*l*a*ng!" maki Sherly sambil melayangkan tamparan ke wajah Nia tanpa bisa dihindari oleh wanita itu, membuat semua orang terkesiap dan suasana berubah menjadi tegang. "Dasar breng*sek, kau telah menjebakku!" Dia berteriak dengan dipenuhi amarah.


Para polisi segera menghentikan apa yang terjadi dan bergegas membawa Sherly kembali ke sel, tetapi wanita itu memberontak dan berteriak seperti orang kesetanan.


"Lepaskan aku! Wanita itu yang sudah menjebakku dan mengancam akan menghancurkan bisnis suamiku. Dia yang bersalah, dia yang melakukan semua itu!" teriak Sherly dengan wajah merah padam, dan sorot mata yang tampak menyeramkan.


"Tidak. Aku tidak bersalah, dialah yang sudah menawarkan berkas itu dan menjualnya padaku!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2