Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 59. Kesabaranku Sudah Habis.


__ADS_3

Semua orang memekik kaget saat melihat Nindi tidak sadarkan diri, begitu juga dengan Ayun yang langsung berlari mendekati wanita itu.


"Apa yang terjadi? Ke-kenapa Nindi pingsan?" tanya Ayun dengan panik, tangannya memegangi tangan Nindi dengan gemetaran.


"Cepat, kita harus segera ke rumah sakit Ken!" ucap Abbas tanpa menghiraukan pertanyaan Ayun.


Dengan cepat Keanu mengangkat tubuh sang istri dan segera membawanya keluar dari tempat itu dengan diikuti oleh Abbas dan juga Ayun. Walau Ayun tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia harus tetap ikut karena benar-benar merasa khawatir.


Semua orang yang ada di restoran tersentak kaget saat melihat Keanu menggendong istrinya. Para karyawan yang ada di tempat itu sudah tahu jika anak dari boss mereka sedang sakit, tetapi bagi para pelanggan yang tidak kenal jelas saja merasa sengat terkejut dengan apa yang terjadi.


Keanu lalu memasukkan tubuh sang istri ke dalam mobil dengan Abbas yang membukakan pintunya, kemudian dia dan yang lainnya juga ikut masuk dan duduk dikursi masing-masing.


Ayun yang saat ini suduk disamping Nindi terus menggenggam tangan wanita itu dengan air mata yang menetes dari sudut matanya. Dia menyandarkan kepala Nindi dibahunya lalu mengusap kening wanita itu yang dibasahi oleh keringat.


Abbas segera menghubungi Dokter yang biasanya menangani Nindi, mulia dari pertama kali putrinya sakita, bahkan sampai sekarang.


"Halo, Dokter,"


"Ya, Tuan Abbas. Ada apa?" tanya Dokter disebrang telepon.


"Nindi pingsan lagi, Dokter. Kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit,"


"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan semuanya."


Tut.


Abbas lalu mematikan panggilan itu dan menoleh ke arah sang putri dengan sendu, bahkan beberapa tetes air mata berhasil menetes dan membasahi wajahnya yang sudah tidak lagi muda.

__ADS_1


Ayun yang merasa penasaran hanya bisa diam, tidak mungkin dia menanyakan tentang apa yang terjadi dengan Nindi pada saat sedang seperti ini.


Sementara itu, Keanu terus menekam pedal gasnya agar bisa lebih cepat sampai ke rumah sakit. Dia bahkan terus menekan klakson agar yang lain minggir dan memberinya jalan, tetapi mereka tetap tidak mau minggir karena menggunakan mobil pribadi, jika ambulance mungkin baru aka diberi jalan.


Beberapa saat kemudian, mobil Keanu sudah sampai di halaman rumah sakit. Dengan cepat mereka semua keluar dari mobil dan membawa Nindi yang langsung disambut oleh Dokter yang selalu merawat wanita itu.


Keanu segera membaringkan tubuh sang istri ke atas atas banker lalu membantu petugas medis untuk mendorongnya menuju ruang IGD.


Semua orang terpaksa menunggu di depan pintu ruangan itu karena tidak diperbolehkan untuk masuk, terlihat dua orang Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan itu.


Ayun mendudukkan tubuhnya di samping Abbas dengan jarak satu kursi, sementara Keanu duduk agak jauh dari mereka sambil menundukkan kepalanya dan menatap lantai.


Keanu mengusap wajahnya dengan kasar. Akhir-akhir ini kondisi kesehatan istrinya jauh lebih buruk dari bulan lalu. Hampir setiap minggu Nindi pasti masuk ke rumah sakit, apalagi ada masalah seperti ini yang pasti mengganggu pikiran wanita itu.


"Seharusnya kami tinggal saja di luar negeri dan tidak kembali lagi ke tempat ini." Keanu sangat kesal dengan kekeras kepalaan istrinya yang tidak mau dirawat di luar negeri, karena Nindi ingin selalu dekat dengan papanya sebelum maut datang menjemput.


Selama ini Keanu sudah sangat sabar melihat apa yang Sherly dan Evan lakukak, dan dia sama sekali tidak peduli walau mereka harus mati sekalipun. Namun, tidak dengan istrinya. Itu sebabnya dia selalu menahan diri, tetapi sekarang tidak lagi. Dia akan menunjukkan siapaa sebenarnya yang hebat.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Sherly sedang mengobati sudut bibir mamanya yang terluka akibat tamparan Keanu.


"Dasar kurang ajar. Lihat, pipi mama jadi bengkak," ucap Sella dengan kesal. Rasanya wajah itu sudah sebesar baskom sekarang.


"Lagian Mama, kan aku udah bilang jangan ganggu Kak Nindi. Mama udah tahu suami dia seperti apa. Hih, aku mah ogah dikasi suami menyeramkan seperti itu," ucap Sherly sambil bergidik ngeri.


Sella menghela napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Dia harus memutar otak agar Abbas tidak menceraikannya, bagaimana pun selama ini dia sudah hidup mewah dan bergelimang harta. Memangnya siapa yang mau kehilangan semua itu?


"Tapi Ma, ada sesuatu yang harus aku lakukan sekarang," ucap Sherly dengan helaan napas frustasi. Dia baru saja mendapat pesan ancaman dari Nia untuk segera mengambil berkas-berkas yang wanita itu inginkan.

__ADS_1


"Apa?" tanya Sella sambil menyipitkan matanya. "Jangan macam-macam Sherly, gara-gara ulahmu rumah tangga mama jadi hancur!" Dia kembali memperingatkan putrinya itu, karena dia tidak mau lagi terjadi masalah.


Sherly lalu menceritakan pada sang mama tentang apa yang harus dia lakukan, dan mamanya harus membantu atau mereka akan benar-benar kehilangan semuanya.


"Jangan gila kau, Sherly! Kalau sampai Evan tahu, habislah kau," ucap Sella dengan tajam. Rumah tangganya dan Abbas saja sudah terancam punah, kalau sampai Sherly juga, bisa jadi gelandangan mereka.


"Tapi aku harus melakukannya, Ma. Kalau tidak maka wanita ular itu akan mengatakan pada orang-orang tentang hubunganmu dan Evan," ujar Sherly dengan serius.


Sella memijat kepalanya yang terasa berdenyut sakit. Sungguh, semua masalah datang secara bertubi-tubi dalam hidupnya.


"Lagian kau juga yang salah. Sudah mama bilang dari dulu, suruh Evan itu menceraikan istrinya, lalu kalian nikah sah. Jadi semua tidak jadi seperti ini!" ucap Sella dengan nada ketus. Lama-lama dia geram juga dengan putrinya itu.


Sherly berdecal kesal saat mendengarnya. Jika sejak dulu dia menikah sah dengan Evan, sudah pasti dia tidak akan bisa hidup tenang dan bebas seperti ini. Sehari-hari waktunya hanya dihabiskan di rumah, dapur, dan kasur. Memangnya yang seperti itu namanya hidup?


"Sudahlah, Mama cuma harus ikutin apa yang aku katakan. Ayo, kita harus ke kantor Evan sekarang!" ajak Sherly kemudian sambil masuk ke dalam kamar. Dia harus membawa Suci dagar bisa mengalihkan perhatiannya, dengan begitu dia akan mudah untuk mencari apa yang wanit itu inginkan.


"Cih, dasar. Bisa-bisanya suka sama suami orang, bagus juga mama. Walau galak, tapi uangnya banyak. Tenaga juga masih aduhai," cibir Sella membuat Sherly berdecak kesal.


Mereka lalu masuk ke dalam mobil dan segera pergi ke kantor Evan dengan membawa sekotak makanan untuk laki-laki itu. Evan pasti suka jika dibawakan bekal makan siang, apalagi saat ini Ayun sudah keluar dari rumah.


"Tapi bagus juga jika Ayun pergi, aku dan Suci bisa lebih cepat masuk ke rumah itu. Lalu suruh Evan untuk mencari pembantu, maka semuanya beres. Kalau makan 'kan ada ibu mertua."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2