Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 90. Gosipan Para Tetangga.


__ADS_3

Sementara itu, Mery yang saat ini sedang berada di dapur dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang tetangganya. Dia segera keluar untuk melihat apa yang terjadi, karena tidak biasanya mereka datang seperti ini ke rumahnya.


"Ada apa, Ini?" tanya Mery saat sudah berada di luar rumah, terlihat suaminya sedang bersama dengan para tetangga yang ada disekitar rumahnya.


"Loh, Buk Mery gak ke kantor polisi?" tanya salah satu dari mereka pada Mery, membuat wanita itu mengernyitkan kening bingung.


Mery segera menghampiri mereka dengan wajah bingung, kanapa mereka tiba-tiba datang dan membahas tentang kantor polisi?


"Kenapa kalian bertanya seperti itu?" tanya Mery.


"Menantu Ibukkan ditangkap polisi,"


"Apa?" Mery memekik kaget saat mendengar ucapan tetangganya. "Ke-kenapa Ayun di tangkap polisi?" Mendadak dia menjadi panik dan menatap mereka semua dengan penuh tanda tanya.


Semua orang tampak saling pandang saat mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Mery, beberapa dari mereka bahkan tampak bisik-bisik tetangga menanggapi reaksi yang wanita itu berikan.


"Kenapa kalian diam?" tanya Mery kembali, sementara suaminya sudah sejak tadi masuk ke dalam rumah karena malas mendengar gibahan mereka.


"Bukan Ayun, Buk. Tapi menantu Ibuk yang lain, istri keduanya Evan," jawab salah satu dari mereka.


Mery langsung terdiam saat mendengar jawaban yang mereka berikan. Dia merasa terkejut sekaligus tidak menyangka jika mereka akan berkata hal seperti ini, dan dari mana mereka tahu mengenai pernikahan kedua Evan?


"Wah, kami tidak menyangka jika anak Ibuk menikah lagi, ya. Kasihan sekali Ayun,"


"Iya benar. Padahal dia wanita yang baik dan rajin, tapi tega sekali Evan mengusir dia dan anak-anaknya juga."

__ADS_1


Mata Mery berkilat marah dengan apa yang mereka katakan. Berani sekali mereka menceritai keluarganya di hadapannya seperti ini?


"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain, hah?" tanya Mery dengan tajam, membuat semua orang terkesiap.


"Kami hanya memberitahu Ibuk loh, apa Ibuk tidak masalah jika anak Ibuk menikah lagi?"


"Iya benar. Kalau anakku yang seperti itu, aku pasti sudah mengusirnya. Bikin malu keluarga saja, tapi sepertinya Ibuk mendukung anak Ibuk menikah lagi ya. Kasihan sekali Ayun."


Semua orang langsung mengiyakan ucapan itu. Mereka merasa iba dengan apa yang terjadi pada Ayun, padahal wanita itu sangat ramah dan suka membantu sesama jika mereka sedang bertemu di pasar atau di masjid.


"Tau apa kalian tentang keluargaku, hah? Jika kalian datang ke sini cuma mau mengoceh hal tidak penting, lebih baik pergi sekarang juga! Urus keluarga kalian sendiri dan jangan pedulikan masalah orang lain," usir Mery dengan tajam. Dia menatap mereka semua dengan nyalang seakan-akan ingin menelan mereka bulat-bulat.


"Cih. Apa-apaan itu, sudah dikasihtau malah nyolot. Pantas saja putranya selingkuh dan menikah lagi, orang ibunya saja bentuknya seperti itu!" ucap salah satu dari mereka dengan ketus sebelum pergi dari tempat itu.


Mery segera berbalik dan masuk ke dalam rumahnya dengan kesal. Dadanya bergemuruh hebat seakan sedang terbakar karena ucapan-ucapan yang semua orang layangkan untuk keluarganya.


Suara pintu yang ditutup dengan kuat menggema di tempat itu, membuat Endri yang sedang berada di dalam kamar segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Apa-apaan mereka itu, apa mereka pikir masalah orang lain adalah sesuatu yang bisa mereka gosipkan?" ucap Mery dengan kesal. "Apa mereka sendiri tidak punya masalah, sehingga sibuk memikirkan masalah orang lain?" Dia mengusap air mata yang menetes di wajahnya.


Ingin sekali Mery menampar dan melawan mulut-mulut jahat mereka yang sudah sok tahu dan ikut campur, tetapi dia tidak bisa melakukan itu atau masalah keluarganya malah akan menjadi konsumsi publik.


"Ada apa, Mery? Kenapa kau seperti ini?" tanya Endri dengan heran saat melihat sang istri menangis.


Mery langsung saja menceritakan apa yang orang-orang itu katakan padanya dengan terisak dan dipenuhi emosi. Darahnya seakan mendidih melihat kekepoan manusia jaman sekarang, padahal mereka sama sekali tidak peduli dan hanya memenuhi rasa penasaran saja.

__ADS_1


"Lalu kita bisa apa jika mereka bicara seperti itu? Toh apa yang mereka katakan memang benar, jadi biarkan saja," ucap Endri. Dia lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.


"Kenapa harus membiarkannya, apa kita akan diam saja saat keluarga kita digosipi seperti itu?" tanya Mery dengan tajam. Dia ikut duduk disofa bersama dengan suaminya, dan menatap laki-laki itu dengan nanar. lihat saja nanti, dia pasti akan membalas perkataan orang-orang tentang keluarganya.


"Kita tidak bisa menutup mulut semua orang, Mery. Yang bisa kita lakukan adalah menutup telinga kita sendiri," balas Endri.


Mery yang akan kembali bicara tidak jadi mengeluarkan suaranya saat mendengar ketukan dipintu. Apa itu para tetangganya yang tadi?


"Biar aku yang buka," ucap Endri sambil beranjak bangun dari sofa. Dia berjalan ke arah pintu dan segera membukanya.


Sella berdiri tepat di hadapan Endri sambil menggendong Suci, terlihat laki-laki itu menatapnya dengan tajam dan bertanya-tanya.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Endri, ucapannya seketika membuat Mery penasaran siapa yang datang ke rumahnya.


"Saya Sella, ibunya Sherly. Dan saya datang ke sini ingin bicara dengan Evan," jawab Sella dengan lengkap.


Endri segera mempersilahkan wanita itu untuk masuk, walau dia sendiri tidak kenal dengan wanita itu apalagi dengan nama anaknya yang baru disebutkan tadi.


Sella segera melangkah masuk sambil memperhatikan seisi rumah itu. Tidak sebesar dan semewah rumah Abbas, tetapi bisa dibilang besar dan lebih baik dari rumah yang di tempati Sherly.


"Kami harus segera tinggal di rumah ini."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2