Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 40. Keadaan di Penjara.


__ADS_3

Sherly menutup kedua telinganya dengan erat saat mendengar teriakan sang mama. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai tepat dibalik pintu.


Bukan hanya Sherly saja yang menutup kedua telinga, tetapi Suci juga. Dia bahkan menelungkupkan kepalanya di bawah bantal dengan tubuh gemetaran.


Entah sudah berapa kali Suci mengalami hal seperti ini. Teriakan, amarah, makian selalu menghunjam telinganya. Bukan hanya mendengar saja, dia bahkan juga melihat bagaimana pertengkaran yang terjadi antara mamanya dengan orang-orang, membuat tubuhnya selalu bergetar hebat dengan rasa takut teramat dalam.


Setelah tidak mendengar suara teriakan sang mama, Sherly menelungkupkan kepalanya di antara kedua kaki yang terlipat. Tidak peduli dengan luka yang ada ditangan dan kakinya, karena saat ini hatinya jauh lebih sakit.


"Kenapa? Hiks, kenapa kau tega melakukan ini padaku, Evan?" gumam Sherly dengan terisak. "Bukankah kau bilang kau sangat mencintaiku, tapi kenapa kau membuangku seperti ini?"


Sherly menjambak-jambak rambutnya dengan kuat, persis seperti orang yang mengalami depresi atau mungkin memang sudah ada tanda-tandanya. Dia tahu jika sudah melakukan kesalahan, tetapi dia berusaha untuk memperbaiki semua itu. Namun, kenapa Evan malah membuangnya seperti ini? Dia bahkan tidak mendapatkan apa-apa selain kehampaan.


Pada saat yang sama, keadaan menyedihkan juga tampak disebuah sel tahanan di mana Evan berada. Polisi sudah membawanya ke penjara dan menempatkannya bersama 3 orang lelaki yang lainnya.


Sudah hampir 2 jam Evan berada di tempat itu, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Padahal salah satu tahanan sempat bertanya tentang identitasnya, tetapi dia sama sekali tidak menjawab.


"Cih, sombong sekali dia," cibir salah satu orang yang berada dalam satu penjara dengan Evan.


"Benar. Memangnya siapa dia, pejabat? Cih, palingan juga orang pinggiran. Kalau pejabat gak mungkin berada di sel ini bersama kita," ucap yang lainnya.


Evan hanya diam dan tidak menanggapi semua ucapan mereka. Matanya tampak memandang lantai dengan kosong, seakan meratapi apa yang sedang terjadi padanya saat ini.


Tidak pernah terbayangkan dalam hidup Evan jika dia harus mendekam dalam penjara seperti ini. Seumur hidup, dia tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar hukum, semua itu demi menjaga nama baiknya dan juga keluarga.


Namun, apa yang sedang terjadi padanya saat ini? Jelas saja rekam jejaknya ini akan tercatat dalam identitasnya, yaitu mantan narapidana jika sudah keluar nanti.


Evan mengusap wajahnya dengan helaan napas frustasi. Saat ini tidak ada perasaan lain yag sedang dia rasakan selain kekecewaan dan penyeselan. Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan keegoisannya, dan dia merasa menyesal karena tidak bisa mengendalikan keserakahannya hingga membuatnya kehilangan semua yang dia miliki.


Sekarang benar-benar tidak ada lagi yang tersisa, nama baiknya pun sudah tercoreng karena kesalahannya sendiri. Andai waktu itu dia tidak bersikap egois dengan menuduh David begitu saja tanpa bukti, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi.


"Munggir kau!"


Evan terkesiap saat mendengar bentakan dari seseorang. Dia lalu mendongakkan kepala dan menatap laki-laki bertubuh tambun yang sedang berdiri tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Apa kau tuli, hah? Aku bilang minggir!"


Tubuh Evan nyaris menghantam dinding jika saja dia tidak cepat menghindar dari tarikan tangan laki-laki itu, hingga kini dia berdiri tegak di hadapan laki-laki tersebut.


"Apa, kau tidak suka?" tantang laki-laki itu.


Evan mengepalkan kedua tangan dengan geram, tetapi dia masih mencoba untuk menahan amarahnya karena tidak mau membuat keributan.


"Cih, dasar banci!" ejek laki-laki itu sambil tertawa dengan keras, begitu juga dengan 2 orang laki-laki lainnya yang ada di tempat itu.


Beberapa jam kemudian, siang sudah berganti dengan malam. Namun, Evan tetap tidak beranjak dari tempatnya duduk yang ada di sudut ruangan.


Keadaan lapas itu sudah sangat gelap, dan sudah tidak ada lagi suara-suara yang semula ribut di tempat itu karena memang sudah hampir tengah malam.


Evan melirik ke arah 3 orang lelaki yang sudah terlelap di atas kasur mereka masing-masing. Tidak ada lagi tempat untuknya karena kasur lipat yang dibagikan petugas di pakai semua oleh mereka, bahkan selimut yang menjadi bagiannya pun ikut di ambil.


Helaan napas kasar kembali terdengar, dengan perlahan Evan membaringkan tubuhnya di atas lantai yang dingin karena mulai merasa ngantuk. Dia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat saat dinginnya lantai terasa menusuk sampai ke tulang, hingga tidak sadar kedua matanya mulai terpejam.


*


*


Bukan hanya itu saja, perutnya juga terasa kembung dan mual. Jelas saja dia sedang masuk angin karena memang tidak pernah tidur di lantai seperti itu.


"Ngapain kau bengong kayak gitu, hah? Sekarang giliranmu bersihin kamar mandi!" ucap laki-laki yang selalu mencari gara-gara.


Evan menatap laki-laki itu dengan tajam. Dia saja baru masuk ke dalam tempat itu, lalu kenapa dia yang harus membersihkan kamar mandi?


"Kenapa aku?" tanya Evan dengan tajam, jelas saja mereka ingin menindasnya.


"Wah, ternyata kau tidak bisu ya," ucapnya dengan sinis. "Gak usah banyak tanya, cepat bersihkan sebelum aku menghajarmu." Laki-laki itu memberikan ancaman.


Evan membuang napas kasar. Seenaknya saja mereka memerintahnya seperti ini, tentu saja dia tidak akan mau dan tidak takut dengan apapun.

__ADS_1


Tanpa menjawab ucapan laki-laki itu, Evan kembali duduk di atas lantai dengan acuh tak acuh. Jelas saja perbuatannya itu memantik amarah dalam diri ketiga lelaki tersebut.


"Beraninya kau mengacuhkanku!" Dengan cepat lelaki itu mencengkram kerah kemeja Evan dan menariknya dengan kuat, membuat Evan terkesiap.


"Lepaskan aku!" Evan segera menepis tangan laki-laki itu dari lehernya dengan penuh amarah.


"Kau!"


Buak.


Satu pukulan melayang ke wajah Evan membuat tubuhnya terhuyung ke belakang, dia memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Itu balasan untuk orang tidak tau diri sepertimu!" ucap laki-laki itu dengan sarkas.


Kedua mata Evan menyala penuh kemarahan dengan rahang mengeras. Kedua tangannya juga terkepal erat dan siap memberikan balasan untuk laki-laki itu. Namun, tiba-tiba polisi datang menghampiri mereka saat mendengar ada keributan.


Polisi itu lalu memberi peringatan keras agar mereka tidak membuat keributan, atau akan mendapat hukuman yang setimpal.


Tanpa mempedulikan ucapan polisi itu, Evan kembali mendudukkan tubuhnya sambil mencoba untuk menekan amarahnya. Benar, dia tidak boleh membuat keributan yang malah akan memperburuk suasana.


Evan terus diam walau mendapat sindiran dan umpatan dari ketiga lelaki itu, bahkan dia tidak menyentuh makanan yang sudah dibagikan. Jangankan menyentuh, dia bahkan sama sekali tidak berselera.


Beberapa jam kemudian, dua orang polisi datang kembali ke tempat itu membuat semua orang merasa penasaran.


"Saudara Evan Dheandra, silahkan ikut kami."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2