
Ayun dan Abbas terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan itu dengan kuat, juga disertai dengan teriakan yang menggema di tempat itu.
"Apa-apaan ini Mas?" tanya Sella dengan tajam. Matanya berkilat marah saat melihat suaminya sedang bersama dengan wanita lain, dan wanita lain itu adalah istri pertama menantunya.
"Apa semenjak tinggal dengan putrimu membuat sopan santunmu menghilang?"
Deg.
Sella terdiam dan mencoba untuk menenangkan diri saat menyadari apa yang telah dia lakukan, sementara Sherly yang juga ada di belakang Sella tampak menatap Ayun dengan tajam.
"Kenapa wanita itu ada di sini, Mas?" tanya Sella sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan itu, nada suaranya terdengar lebih pelan ketimbang yang tadi.
"Assalamu'alaikum wahai hamba Allah."
Deg.
Lagi-lagi Sella terdiam dengan kedua tangan terkepal erat saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut suaminya. Dia menjadi emosional saat melihat keberadaan Ayun di tempat itu, dan kenapa wanita itu menemui suaminya?
Sella lalu mencoba untuk melupakan apa yang baru saja terjadi dan mendekati sang suami. Dia mengusap bahu suaminya, tetapi Abbas langsung berdiri seperti sedang menghindarinya.
"Ada apa, kenapa kalian ke sini?" tanya Abbas sambil berjalan ke arah kursi kerjanya dan duduk di tempat itu.
Sella lalu melihat ke arah Sherly untuk menyuruh anaknya itu masuk, dan dengan perlahan Sherly melanglahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Ayun yang melihat kedatangan dua wanita itu tentu merasa tidak nyaman, dia lalu berdiri dari duduknya dan bermaksud untuk pamit keluar oleh Abbas.
"Aku datang bersama dengan Sherly, Mas. Dia mau-"
"Pa, katanya Pak Johan-" Nindi tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat mama dan adik tirinya ada di ruangan itu, sementara Sella yang sedanf bicara dengan suaminya juga tidak bisa melanjutkam ucapannya karena dipotong begitu saja dengan Nindi.
Seketika ruangan menjadi sunyi senyap saat mereka semua saling bersitatap mata dengan kecanggungan yang luar biasa, terutama Ayun yang merasa sia*l karena berada dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
"Ada apa, Nindi? Di mana Johan?" tanya Abbas saat tidak mendengar suara putrinya lagi.
"Di-dia sedang menyiapkan pesanan untuk tamu VIP sebentar, dan meminta waktu 10 menit saja," jawab Nindi yang mengatakan apa yang ketua koki katakan tadi padanya.
Abbas lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia menyuruh Nindi untuk membawa Ayun ke dalam ruangan putrinya itu untuk menunggu sebentar.
"Kalau gitu saya permisi dulu, Tuan," ucap Ayun sambil menganggukkan kepalanya. Dia dan Nindi lalu segera keluar dari dalam ruangan itu dan berpindah ke ruangan yang ada di sampingnya yaitu ruangan Nindi.
"Kau tunggu di sini sebentar ya, Yun. Aku harus kembali ke ruangan Papa," ucap Nindi. Dia tidak mau meninggalkan papanya seorang diri bersama dengan mereka.
"Iya, pergilah. Aku akan menunggu di sini," balas Ayun membuat Nindi memgangguk lalu beranjak pergi kembali ke ruangan papanya.
Ayun menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah. Apalagi saat melihat apa yang terjadi beberapa saat yang lalu, dan kenapa pula pas dia ada di dalam ruangan itu juga?
"Hah, kenapa ada saja setiap hari yang terjadi ya Allah " gumam Ayun. Lalu tiba-tiba dia merasa terkejut saat ponselnya berdering. Dengan cepat dia mengambil benda pipih itu, lalu menjawab panggilan masuk dari sang pengacara.
"Halo, assalamu'laikum, Pak," ucap Ayun saat sudah menjawab panggilan masuk dari Bram.
"Wa'alaikum salam, Buk. Saya ingin mengatakan jika berkas Anda sudah diproses oleh pengadilan agama, dan sidang pertama akan dilanjutkan dalam minggu ini."
"Sore nanti saya akan menumui Anda, dan saya akan menjelaskan semuanya," ucap Bram dari sebrang telepon.
"Baiklah, Pak. Saya akan menunggunya," ucap Ayun dengan mengulas senyum manis walau seseorang yang ada disebrang telepon sana tidak akan melihat apa yang dia lakukan.
Sementara itu, di ruangan Abbas semua orang masih saling tatap dengan keheningan yang terjadi. Nindi yang baru masuk ke dalam ruangan itu segera mengajak Sella dan juga Sherly untuk duduk disofa, agar sesuatu yang akan dibicarakan berjalan dengan lancar.
Sella tersenyum pada Nindi lalu duduk di samping putri sambungnya itu, sementara Sherly masih diam di tempat karena merasa takut saat ingin bergerak.
"Duduklah di sini, Sherly. Kenapa kau berdiri aja?" tanya Nindi, dia mengulas senyum tipis dan melambaikan tangannya agar wanita itu bergabung dengan mereka.
Sherly menganggukkan kepalanya dan berjalan pelan menuju sofa, dia lalu duduk di tempat itu dengan tetap menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Abbas sendiri masih duduk diam dikursi kerjanya tanpa ada niat sedikitpun untuk berpindah ke sofa, tentu saja membuat Nindi menghela napas kasar dan baranjak mendekati sang papa.
"Pa." Nindi menggenggam tangan sang papa, membuat laki-laki paruh baya itu langsung melihat ke arahnya. "Masalah akan semakin berlarut-larut kalau enggak diselesaikan dari sekarang, apa papa mau semua seperti ini terus?" Dia menatap sang papa dengan sendu
Abbas menghela napas kasar. Dia benar-benar malas untuk membahas masalah seperti ini lagi, bahkan dia sudah tidak berharap bisa membangun bahtera rumah tangga lagi bersama dengan Sella.
"Pa, aku mohon." Lirih Nindi. Terserah papanya mau mengambil keputusan seperti apa, yang pasti dia tidak suka jika harus berlarut-larut seperti ini.
Akhirnya Abbas beranjak dari kursi itu dan berjalan ke arah sofa dengan diikuti oleh Nindi. Dia duduk tepat di hadapan Sherly yang masih saja menundukkan kepalanya.
"Baiklah, sekarang cepat katakan apa yang kalian inginkan," ucap Abbas dengan tajam dan penuh dengan penekanan.
Sella menarik napas panjang sebelum mengatakan maksud dan tujuannya datang ke tempat ini. "Mas, aku dan
Sherly datang ke sini ingin minta maaf atas apa yang sudah terjadi. Kami tau telah membuat kesalahan, tapi sekarang semua sudah jadi seperti ini. Apa tidak bisa kita memperbaiki hubungan ini?" Lirihnya. Matanya menatap dengan berkaca-kaca
Nindi dan Sherly hanya diam menunggu ucapan dari papa mereka, sementara Abbas hanya diam dengan pandangan ke arah lain.
"Kami telah menyadari semuanya, Mas. Tapi biar bagaimana pun kita harus memikirkan nasib Suci, bagaimana nanti hidupnya tanpa ayah?"
Abbas tersenyum tipis saat mendengar ucapan terakhir Sella. "Manusia tetap bisa hidup walau tanpa ayah, tanpa ibu. Manusia yang tidak bisa hidup itu adalah manusia tanpa nyawa!"
Perkataan Abbas terasa menghunjam dada Sella. Kenapa suaminya berubah sampai seperti ini? Hanya karena kesalahan satu kali saja, tapi laki-laki itu tidak bisa memaafkan kesalahannya?
"Aku sudah memaafkan kesalahan kalian, semuanya. Aku bahkan sudah melupakannya, jadi jangan pernah minta maaf lagi padaku," ucap Abbas dengan serius membuat wajah Sella dan Sherly berubah ceria.
"Tapi maaf, hatiku sudah bulat untuk berpisah darimu, Sella."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.