
Evan mengangguk paham saat mendengar ucapan lelaki itu, mereka lalu saling bersalaman sebagai tanda bahwa transaksi sudah selesai dilakukan.
Setelah semua urusan selesai, Evan beranjak pergi dari tempat itu untuk pulang ke rumah. Dia harus segera merencanakan pembangunan untuj ruko itu, agar usahanya bisa cepat terlaksana.
"Suci!"
Evan menghentikan langkah kakinya saat lagi-lagi mendengar nama Suci, sontak dia menghela napas kasar sambil menggelengkan kepala.
"Astaga," gumam Evan dengan lirih. Sepertinya dia sangat merindukan putri kecilnya itu sehingga selalu mendengar namanya.
"Suci!"
Untuk sekali lagi Evan mendengar nama Suci membuat dia langsung menoleh ke arah samping.
Deg.
"Su-Suci," ucap Evan dengan kaget saat benar-benar melihat putri kecilnya sedang berlari di depan kedua matanya. "Di-dia benar-benar Suci?" Dia merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dilihat saat ini.
"Jangan lari, Suci!"
Evan terkesiap saat mendengar teriakan seseorang, tampak seorang wanita sedang berlari ke arah Suci yang juga sedang berlari ke jalan raya.
"Tidak, Suci!" teriak Evan sambil mengejar Suci yang sudah hampir menyebrang jalan.
__ADS_1
Evan semakin mempercepat larinya untuk menggapai Suci, atau akan terjadi sesuatu yang sangat membahayakan pada gadis kecil itu.
"Suci!"
Grep.
Evan berteriak dengan nyaring sambil menarik tangan Suci yang sudah tergapai tangannya. Dengan cepat dia menarik tangan putrinya itu lalu memeluknya dengan erat membuat suara klakson dari kendaraan yang melintas saling bersahutan.
"Apa kau gila?" teriak salah satu pengendara mobil yang hampir saja menabrak Evan dan juga Suci.
Evan langsung menundukkan kepalanya sambil meminta maaf pada pengendara itu, dia lalu membawa Suci ke pinggir jalan agar tidak lagi mengganggu pengguna jalanan.
"Suci, kau, kau tidak apa-apa Nak?" tanya Evan dengan panik. Dia memeriksa seluruh tubuh Suci untuk memastikan vahwa putrinya itu baik-baik saja.
"Ada apa, Nak? Ini papa," ucap Evan sambil berusaha untuk menenangkan sang putri.
"Apa yang kau lakukan?"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita yang sedang berlari ke arah Evan dan Suci, membuat Evan langsung menoleh ke arah wanita tersebut.
"Lepaskan dia!" bentak wanita itu sambil merebut Suci dari pelukan Evan, tentu saja membuat kedua mata Evan menajam dan langsung menepis tangan wanita itu.
"Siapa kau?" tanya Evan dengan tajam. Dia menggendong Suci dan mundur selangkah dari wanita itu.
__ADS_1
Wanita bernama Nirma itu menatap Evan dengan tajam. "Kau yang siapa? Apa kau mau menculik Suci?" Tuduhnya dengan kuat, membuat beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu langsung memperhatikan mereka.
Evan mengernyitkan kening sambil menatap Nirma dengan tajam saat mendengar tuduhan yang wanita itu layangkan. Memangnya siapa wanita itu, kenapa dia bisa bersama dengan Suci dan menuduhnya seperti ini?
"Aku papanya. Lalu kau siapa?" jawab Evan sambil melontarkan pertanyaan pada wanita itu.
Nirma terdiam saat mendengar jawaban laki-laki itu. Mungkinkah laki-laki itu yang bernama Evan, mantan suami Sherly?
"Ka-kau Evan?" tanya Nirma dengan tergagap.
Evan berdecak kesal dengan helaan napas frustasi. Tanpa menjawab pertanyaan wanita itu, dia segera beranjak pergi karena sejak tadi Suci menangis dengan tubuh gemetaran.
"Tunggu, kau mau ke mana?" Nirma kembali berteriak sambil mengejar langkah Evan. Ya kalau laki-laki itu benar-benar ayah kandung Suci, jika tidak maka habis lah dia.
"Tuhan, jangan biarkan Suci yang malang itu diculik."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1