Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 87. Jangan Berhenti Sampai di sini.


__ADS_3

Tubuh Hasna terasa seperti tersengat aliran listrik hingga terjadi tegangan tinggi saat mendengar ucapan Abbas. Dadanya juga semakin berdegup kencang hingga merasa akan meloncat keluar dari tempatnya.


"Aku ingin memberikan kebahagiaan yang seutuhnya untuk anak-anak, juga cucu-cucu kita, Hasna. Maukah kau melakukannya bersamaku?" untuk sekali lagi Abbas meyakinkan Hasna bahwa dia akan melakukan yang terbaik, juga akan memberikan kebahagian pada semua orang khususnya wanita itu.


Hasna terdiam dengan tubuh gemetar. Dia menggigit bibir bawahnya yang sudah akan menjawab pernyataan Abbas, padahal dia ingin memikirkannya terlebih dahulu. Apalagi dia masih harus membicarakan tentang semua ini pada anak-anaknya.


"A-aku tidak tahu harus berkata apa, Mas. Ta-tapi, tapi terima kasih banyak atas pengakuanmu ini. Aku tidak menyangka akan sangat dicintai oleh laki-laki yang hebat dan baik sepertimu, sampai rasanya aku tidak pantas untuk-"


"Jangan mengatakan sesuatu yang sama seperti puluhan tahun silam, Hasna," potong Abbas dengan cepat membuat Hasna yang sejak tadi menunduk tampak meliriknya ragu. "Kau wanita yang baik, kau ibu yang hebat, dan kau juga seorang nenek yang penuh cinta kasih. Lalu, di mana letak ketidak pantasan yang kau katakan?"


Hasna terdiam. Yah, segala sesuatu memang tidak bisa hanya diukur dengan kekuasaan dan uang. Hanya saja, kedudukan mereka sangat jauh berbeda, baik dulu dan juga sekarang. Memangnya apa yang akan dikatakan oleh keluarga besar Abbas jika mengetahui tentang hal ini?


"Semua keluargaku sudah tahu tentang semua ini, dan mereka tidak berhak untuk ikut campur apapun yang aku lakukan."


Hasna terkesiap. Dia merasa terkejut dengan ucapan Abbas yang seolah tahu tentang apa yang sedang dia pikirkan, sementara Abbas sendiri tersenyum tipis karena jelas tahu apa yang ada dalam pikiran wanita itu.


"Jangan berpikir terlalu jauh, Hasna. Cukup pikirkan tentang kita dan keluarga kecil kita saja, karena kita sendirilah yang menentukan kebahagiaan kita," ucap Abbas kemudian. Pokoknya dia tidak ingin lagi mendapat penolakan, suka tidak suka dia harus menikah dengan wanita itu.


Hasna menghela napas kasar, sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti, Mas. Bolehkah aku meminta waktu? Aku harus memikirkan semuanya dengan baik, dan aku juga harus memberitahukannya pada yang lain."


Abbas langsung menyetujui permintaan Hasna, dia malah merasa senang jika wanita itu langsung yang mengatakan pada anak-anak, karena jelas saja mereka akan mendukung apa yang dia lakukan.


Sementara itu, di rumah Fathir tampak semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga. Para anak-anak duduk lesehan di atas kerpet berbulu yang sangat lembut, sementara para orang tua duduk di atas sofa.


"Puding buatanmu ini sangat enak, Ayun. Tante beruntung sekali bisa memakannya," ucap Alma sambil menepuk punggung tangan Ayun.


Ayun tersenyum malu mendengar pujian itu. "Rasa pudingnya tidak seenak masakan Tante, aku tadi bahkan sampai kekenyangan karena ingin menghabiskan semuanya."


"Hahaha, kamu ini bisa saja," sahut Alma sambil tertawa senang. "Tapi syukurlah kalau kau menyukainya, Nak."


Ayun mengangguk sambil ikut tertawa dengan apa yang sedang mereka bicarakan saat ini, begitu juga dengan Fathir dan papanya yang sedang bersama mereka.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu, Nak? Semuanya berjalan lancar, 'kan?" tanya Farhan kemudian.


Ayun mengangguk sambil melirik ke arah Fathir. "Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, Om. Semua itu berkat bantuan dari Fathir, jika tidak mungkin aku tidak bisa berbuat apa-apa."

__ADS_1


Kedua orang tua Fathir tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka, sementara Fathir sendiri tersenyum simpul mendapat pujian dari Ayun.


"Fathir memang sangat hebat, Nak. Dia ini laki-laki pekerja keras. Sangking kerasnya, dia sampai tidak memikirkan bagaimana masa depannya sendiri," ucap Alma dengan nada suara yang melemah.


Ayun beralih menatap Alma dengan tatapan heran dan bertanya-tanya, sementara Farhan menghela napas kasar karena paham ke mana arah pembicaraan sang istri.


"Apa maksud Mama?" tanya Fathir dengan tajam. "Tentu saja aku memikirkan masa depanku, jika tidak, maka tidak mungkin aku membawa Ayun ke sini."


Ayun terkesiap saat mendengar ucapan Fathir, dia yang sedang melihat ke arah Alma beralih menatap laki-laki itu dengan tidak mengerti.


Alma yang tadinya menatap sendu kini tampak tersenyum simpul, sementara para anak-anak yang diam-diam memperhatikan tampak tersenyum penuh makna.


"Ya, mama akui kau bergerak cepat, Fathir. Tapi jangan berhenti di sini, karena segala sesuatunya harus diperjelas dengan sejelas mungkin, apalagi untuk seorang wanita yang sangat berharga sepertinya," sahut Alma dengan senyum penuh arti.


Fathir mengangguk paham dengan tatapan mata yang tertuju pada Ayun, sementara Ayun sendiri terpaku dengan dada berdegup kencang mendengar kata demi kata yang mereka ucapkan.


Jelas dia paham ke mana arah pembicaraan mereka. Mungkinkah kedua orang tua Fathir tahu jika laki-laki itu menyukainya? Dan apakah wanita yang sedang mereka bicarakan adalah benar-benar dirinya sendiri?


"Ya Allah, aku mohon tenangkanlah hati ini. Aku mohon." Ayun mencengkram tangannya sendiri untuk menekan gejolak yang ada dalam hatinya. Dia merasa malu, canggung, dan juga gugup saat ini.


"Ini baru namanya mengghibah di depan orangnya secara langsung," gumam Ezra sambil menggelengkan kepalanya.


Lalu obrolan mereka pun terus berlanjut sampai pukul 10 malam. Hingga akhirnya Ayun memutuskan pamit karena waktu sudah mulai larut malam.


"Tante ada sedikit hadiah untukmu, Ayun. Maukah kau ikut untuk mengambilnya?" ucap Alma setelah Ayun pamit untuk kembali ke rumah.


"Kenapa repot-repot pakek hadiah segala, Tante?" tanya Ayun dengan sungkan. Dia sudah merasa malu dengan pujian-pujian yang wanita itu berikan, dan sekarang malah akan diberi hadiah.


"Sama sekali tidak merepotkan kok, ayo!" Alma mengajak Ayun ke kamarnya yang berada di lantai dua, membuat Ayun mau tidak mau menganganggukkan kepalanya dan beranjak mengikuti langkah wanita itu.


Melihat kepergian Alma dan Ayun, Faiz dan Adel tampak heboh karena ingin ikut juga untuk melihat hadiah apa yang dimaksud. Dengan cepat mereka beranjak dari karpet untuk menyusul kepergian dua wanita itu.


"Kalian mau ke mana?"


Faiz dan Adel yang sudah mau menaiki tangga terpaksa menghentikan langkah mereka saat mendengar suara seseorang, mereka lalu berbalik dan memasang wajah cengengesan pada Fathir.

__ADS_1


"Kami mau ikut oma, Pa," jawab Faiz dengan cepat, setelahnya dia kembali berbalik untuk melanjutkan tujuan.


"Kembali ke tempatmu dan jangan sibuk dengan urusan oma!" ucap Fathir sambil menarik kerah belakang kemeja Faiz, membuat laki-laki itu tidak bisa pergi.


"Ah ... memangnya kenapa sih Pa?" tanya Faiz dengan sewot, begitu juga Adel yang sangat ingin ikut dengan ibunya.


Fathir lalu kembali mengulang perintahnya untuk kembali duduk, dan tidak pergi ke mana-mana apalagi mengikuti kepergian mamanya dan juga Ayun.


Dengan kesal Faiz dan Adel kembali duduk di tempat semula sambil mencebikkan bibir mereka, dan hal itu membuat Ezra tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa Kaka ketawa sih? Gak ada yang lucu tau!" omel Adel sambil memukul lengan sang kakak.


"Hahahaha. Abisnya kalian sih, kepo. Rasain kena marah," ejek Ezra dengan gelak tawa yang masih tersisa diwajahnya, membuat kedua bocah itu mendengus sebal.


Pada saat yang sama, Ayun sudah berada di dalam kamar Alma walau dia merasa sangat sungkan sekali masuk ke dalam kamar orang lain seperti ini.


"Duduklah, Nak," ucap Alma sambil menepuk ranjang yang ada di sampingnya.


Ayun mengangguk dan perlahan mendudukkan tubuhnya di samping wanita paruh baya itu. Kemudian Alma meletakkan kotak beludru berwarna merah ke atas tangannya, membuat dia tersentak kaget.


"I-ini apa, Tante?" tanya Ayun dengan tergagap.


Alma membuka kotak beludru itu agar Ayun bisa melihatnya, dan Ayun semakin terkejut saat melihat sebuah gelang yang sangat indah berada di dalam kotak tersebut.


"Tante ada sedikit hadiah untukmu, Ayun. Tante harap kau mau menerimanya," ucap Alma.


Ayun beralih melihat ke arah Alma sambil menggelengkan kepalanya. "Gelang ini sangat indah dan mewah, Tante. Bagaimana mungkin aku pantas menerima hadiah seperti ini?" Dia merasa sangat sungkan sekali.


Alma tersenyum. "Gelang ini tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang sudah kau lakukan pada keluarga tante, Ayun. Sungguh tante tidak tahu dengan cara apa harus berterima kasih padamu, dan hanya bisa memikirkan cara seperti ini saja."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2