
Evan terdiam dengan tubuh kaku saat mendengar ucapan Adel, sementara Sherly semakin merasa kesal dengan apa yang terjadi saat ini.
"Adel, ini-"
"Ibu!" Adel beralih melihat ke arah sang ibu yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. "Ibu juga gak suka 'kan kalau dia naik ke mobil ayah?" Dia menatap sang ibu dengan cemberut.
Ayun tersenyum sinis saat melihatnya. "Tentu saja, Sayang. Memangnya siapa yang suka jika berada satu mobil dengan orang asing?"
"Ayun!"
"Jangan berteriak di hadapan anakku, Mas!" ucap Ayun dengan tajam, membuat Evan langsung terdiam dengan kilat kemarahan yang terlihat jelas di kedua matanya.
"Kalau memang kau ingin bersamanya, lebih baik kami pergi saja. Untuk apa kami menyambut tamumu yang sama sekali tidak kami kenal itu, lebih bagus jika kau berdua dengan simpananmu saja 'kan, Mas?" ucap Ayun dengan penuh penekanan membuat Evan benar-benar tidak bisa berkutik.
Melihat Evan hanya diam saat mendengar ucapan Hyuna, jelas membuat Sherly benar-benar kesal. Dia lalu menurunkan kakinya dan menutup pintu mobil itu dengan kuat.
Brak.
"Dasar wanita si*alan. Lihat saja kau nanti!" Sherly mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Dia bersumpah akan membalas apa yang sudah Ayun lakukan padanya hari ini.
"Apa kau butuh tumpangan?" Ezra yang masih berada di tempat itu mendekati Sherly dengan menaiki kuda besinya.
Sherly melirik ke arah Ezra yang ada di sampingnya. Ogah sekali rasanya jika harus panas-panasan naik sepeda motor dijalanan.
"Ya sudah kalau tidak mau, di sini sangat susah loh mencari taksi. Tapi baguslah, kau kan jadi tidak perlu ikut dengan kami," cibir Ezra, dia lalu kembali memakai helmnya dan bersiap pergi mengikuti mobil ayahnya yang sudah pergi meninggalkan tempat itu.
Sherly terdiam saat mendengar ucapan Ezra. Tidak, dia harus tetap bersama Evan atau Ayun akan menguasai rekan bisnis suaminya itu. Lalu, dia hanya akan dapat sisanya saja.
"A-aku ikut!" Sherly langsung naik ke atas motor Ezra yang sudah hampir pergi dari tempat itu, tetapi sayangnya laki-laki itu tidak punya helm lagi. Jadilah dia polos begitu saja melewati jalanan yang panasnya luar biasa.
__ADS_1
Ezra memasang smirik iblisnya saat wanita itu sudah baik ke atas kuda besinya. Lihat saja, dia akan membuat wanita itu berada di antara hidup dan mati.
Sementara itu, Burhan dan Nia masih terus mengikuti mobil Evan yang melaju di depan mereka. Lalu tiba-tiba wanita itu tertawa terbahak-bahak saat mengingat apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
"Apa yang terjadi denganmu? Tiba-tiba tertawa seperti itu, membuat orang takut saja," ucap Burhan sambil melirik ke arah sang istri.
"Kau lihat tadi? Bagaimana mungkin selama ini kau bekerja sama dengan seseorang yang sangat bod*oh seperti Evan itu, hah?" tanya Nia, dia kembali tergelak membuat Burhan menggelengkan kepalanya.
"Tapi bukannya sangat tidak sopan, jika mengajak simpanannya untuk menyambut kita? Aku akan lebih suka disambut oleh pembantu dari pada simpanan seperti wanita itu," ucap Nia dengan getir. Nada suaranya sudah berubah, dan seketika membuat suasana menjadi sangat dingin.
"Jika kau berani seperti itu, maka aku akan melemparmu ke jalanan, Burhan. Apa kau mengerti?"
Glek.
Burhan langsung mengangguk paham. Tentu saja dia tidak akan berani mencari wanita lain karena semua harta yang dia punya adalah milik sang istri, yang di dapat dari warisan orang tua.
"Wanita yang tidak bekerja, atau tidak kaya memang selalu diperlakukan kejam dengan suaminya. Aku ingin sekali mencakar wajah wanita itu tadi. Siapa namanya, Sherly? Cih, mereka pikir aku tidak tau kalau dia seorang simpanan?" ucap Nia dengan kesal.
"Apa kau mau aku membatalkan semuanya?" tanya Burhan, dia yakin pasti itulah yang diinginkan sang istri.
Nia diam sejenak. Membatalkan kerja sama? Tentu saja itu pasti akan terjadi, tetapi dia harus mengambil keuntungan dulu sebelum itu terjadi.
"Kau bilang dia ikut pelelangan yang akan di adakan minggu depan, 'kan?" tanya Nia yang langsung dijawab dengan anggukan kepala sang suami. "Siapkan uangnya, kita akan mendapatkan rumah dan semua tanah dalam pelelangan itu."
"Apa?" Burhan memekik kaget saat mendangar ucapan sang istri, hampir saja dia menabrak orang sangking terkejutnya.
"Aku akan minta bantuan sama kakak, aku akan mendapatkan semua itu," ucap Nia dengan yakin. Itu adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan, padahal selama ini dia hanya terima bersih saja dari pada mengolah dari awal.
"Tapi Evan udah banyak keluar uang untuk pelelangan itu, dia bahkan melepaskan kesempatan yang lain demi mendapatkannya," ujar Burhan memberitahu.
__ADS_1
"Bukan urusanku. Salahkan saja dirinya sendiri yang sudah menghinaku dengan membawa simpanannya itu," ucap Nia dengan tajam. "Kau siapkan saja uangnya, sisanya biar aku yang urus. Setelah itu baru batalkan perjanjian dengannya."
Burhan menghela napas kasar. "Oke. Tapi kau harus mendapatkan formulirnya, dan itu udah habis."
"Serahkan semuanya padaku."
Burhan hanya mengangguk saja sambil tetap melajukan mobilnya, hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Mereka segera bergabung dengan Evan dan yang lainnya, lalu masuk ke dalam restoran itu.
"Hoek, hoek!"
Sherly langsung muntah-muntah saat baru turun dari motor Ezra, membuat laki-laki itu langsung tergelak.
"Dasar kurang ajar. Kau sengaja melakukan ini 'kan?" teriak Sherly sambil menutupi mulutnya, lalu kembali muntah karena perutnya terus bergejolak.
Ezra tertawa lebar melihat apa yang terjadi pada wanita itu. "Kau saja yang lemah. Ibuku tidak sampai seperti itu jika sedang bersamaku, dasar wanita lemah." Dia lalu berbalik dan meninggalkan wanita itu begitu saja. Suruh siapa membuatnya kesal, dasar wanita tidak tahu malu.
Sherly menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon, perutnya benar-benar bergejolak hebat saat Ezra dengan sengaja meliuk-liukkan motor yang dibawa. Bahkan laki-laki itu terus menyalip kendaraan yang melaju di depan mereka, dan anehnya yang lain malah lebih dulu sampai di restoran itu dari pada mereka.
"Anak sia*lan. Dia pasti sengaja memutar jalan karena ingin mengerjaiku, awas saja dia. Kalau nanti aku sudah bersama dengan Evan, aku pasti akan mengusir mereka semua ke jalanan," gumamnya dengan kesal. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk masuk ke dalam restoran dan mencari keberadaan Evan.
Sementara itu, Ezra yang sudah masuk ke dalam restoran sedang berhadapan dengan sang ayah yang menanyakan keberadaan sang kekasih tercinta.
"Dia sehal wal afiat, jadi Anda tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengotori tanganku untuk menyakitinya walau aku sangat ingin."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.