
"O-operasi?" tanya Ayun dengan wajah kaget dan bibir yang bergetar. Tangan yang sedang memegang tas juga ikut gemetar, sampai membuat tas itu terjatuh ke lantai.
Brak.
"Ibu!" Pekik Ezra dan Adel sambil segera merangkul sang ibu yang terlihat sangat terkejut. Tentu saja, memangnya ada seorang anak yang tidak akan terkejut saat mendengar berita seperti itu?
Yuni sendiri mendundukkan kepalanya dengan terisak. Dia juga merasa sangat terpukul dengan penjelasan Dokter, yang mengatakan jika ibu mereka harus segera melakukan operasi transplantasi ginjal.
"Ke-kenapa, kenapa, Yuni? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika keadaan Ibu sudah membaik?" Lirih Ayun. Matanya berkaca-kaca dengan wajah memerah, tangannya sudah berpegangan pada lengan Ezra karena kedua kakinya tiba-tiba terasa lemas.
"Ayo Dek, kita bawa Ibu ke sana!" ucap Ezra pada Adel yang langsung dijawab dengan anggukan kepala. Mereka kemudian membawa sang ibu ke kursi yang ada di tempat itu, dari pada terus berdiri dan malah akhirnya terjatuh ke lantai.
Yuni mematung di tempatnya berdiri saat mendengar ucapan sang kakak. Sebenarnya dia sudah berbohong tentang keadaan ibu mereka selama ini, itu pun karena dipaksa oleh sang ibu karena tidak mau membuat Ayun menjadi khawatir dan cemas.
"Maaf, Mbak. Maafkan aku." Lirih Yuni dengan suara yang sangat pelan.
"Ya Allah," ucap Ayun sambil memijat kepalanya yang berdenyut sakit. Permintaan maaf sang adik itu menandakan bahwa selama ini keadaan ibu mereka tidak baik-baik saja, tetapi dia sendiri malah tidak tahu.
"Mbak ini anak ibu juga, Yuni. Jadi biarkan mbak mengkhawatirkan ibu dan mencemaskan ibu setiap waktu, bukankah itu hak juga hak mbak sebagai seorang anak?" tanya Ayun dengan lirih. Tidak peduli sekhawatir dan secemas apa dia, yang pasti dia tahu bagaimana keadaan ibunya yang sesungguhnya.
"Maafkan aku, Mbak. Aku terpaksa berbohong karena ibu tidak mau membuat Mbak khawatir," jawab Yuni dengan kepala yang masih menunduk. Andai waktu bisa diulang pun, dia pasti tetap akan berbohong karena permintaan sang ibu.
__ADS_1
"Hah." Ayun menghela napas kasar. Air mata kembali jatuh membasahi wajah, bahkan luka yang Evan torehkan tidak mampu mengalahkan bagaimana rasa sakit yang saat ini dia rasakan. "Kemarilah, Dek." Lirihnya sambil menunjuk kursi yang ada di samping Adel.
Dengan sigap Adel berpindah tempat duduk agar tantenya bisa duduk di samping sang ibu, sementara Yuni sendiri mengarahkan pandangannya ke arah sang kakak dan berjalan pelan untuk menghampirinya.
"Duduklah, maafkan Mbak." Lirih Ayun dengan wajah sendu, membuat Yuni mengggelengkan kepalanya dan langsung memeluk sang kakak dengan erat.
Untuk beberapa saat kakak dan adik itu saling memeluk dengan terisak, tubuh keduanya bergetar karena tangis yang sedang menusuk relung hati keduanya.
Ezra dan Adel hanya bisa diam dengan tatapan sendu. Walau tidak terlalu dekat dengan nenek dari ibu mereka, tetapi biar bagaimana pun mereka masih ingat betul kasih sayang yang pernah beliau berikan.
"Sudahlah, jangan menangis lagi," ucap Ayun sambil melerai pelukannya, dia mengusap wajah Yuni yang basah karena air mata. "Sekarang katakan apa kata Dokter? Apa mbak boleh menjenguk Ibu?" Dia bertanya sekaligus.
Yuni menggelengkan kepalanya. "Kata Dokter saat ini ibu belum bisa dijenguk oleh siapa pun, Mbak. Karena kondisinya masih sangat lemah." Dia berucap dengan lirih, lalu mulai menceritakan penjelasan Dokter tentang keadaan ibu mereka dan saat dia membawanya ke rumah sakit.
Flashback
Namun, saat sampai di kamar. Yuni mendengar suara ibunya yang sedang muntah-muntah di kamar mandi, dia lalu bergegas untuk menghampiri sang ibu yang sudah sangat pucat.
Ini bukan kali pertama ibunya mengalami muntah-muntah, bahkan dalam sehari bisa 2 sampai 3 kali muntah. Terlebih-lebih jika habis makan, itu sebabnya dia membawa sang ibu ke rumah sakit walau ibunya ngotot tidak mau dibawa saat itu juga.
Dengan paksaan dari Angga, yaitu suaminya Yuni dan beberapa orang tetangga. Akhirnya sang ibu berhasil dibawa ke rumah sakit, dan baru setengah perjalanan, ibunya tidak sadarkan diri dengan suhu tubuh yang sangat dingin.
__ADS_1
Flashback off.
Ayun mengusap wajahnya dengan kasar. Lihat, begitu parah kondisi sang ibu tetapi dia malah tidak tahu dan asyik dengan dunianya sendiri. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan ibunya? Tidak, dia tidak sanggup memikirkan hal seperti itu.
Tidak berselang lama, datanglah Dokter ke ruangan Hasna, yaitu ibu Ayun dan juga Yuni. Mereka semua lalu berdiri di depan ruangan untuk menunggu hasil pemeriksaan Dokter, dan semoga keadaan ibu mereka baik-baik saja.
Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya Dokter keluar dari ruangan itu membuat mereka semua mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Bagaimana keadaan ibu saja, Dokter?" tanya Ayun dengan cepat, terlihat jelas gurat kekhawatiran diwajahnya saat ini.
Dokter itu menghela napas kasar. "Sama seperti yang saya ucapkan tadi malam, bahwasannya fungsi ginjal pasien sudah sangat menurun dan sudah terjadi penumpukan racun di dalam tubuh. Saya sangat menyayangkan sekali karena pasien tidak mendapat penanganan yang benar, sehingga sampai mengalami gagal ginjal kronis stadium akhir seperti ini."
"Ya Allah." Lirih Ayun sambil memegangi dadanya yang terasa sangat amat nyeri, seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum panas yang langsung membakar seluruh hati dan jantungnya.
"Ja-jadi bagaimana, Dok? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yuni dengan terbata karena bibir dan seluruh tubuhnya sudah gemetaran.
"Kita harus segera melakukan transplantasi ginjal, jika tidak mungkin nyawa pasien tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.