
Ayun tercengang saat mendengar keinginan Adel dan Ezra, begitu juga dengan Faiz yang ikut menyuarakan hal yang sama.
"Aku akan menemani Ibu," ucap Ezra, begitu juga dengan Adel yang langsung memeluk lengan kiri ibunya dengan erat.
"A-aku juga akan menemani Tante." Faiz juga tidak mau kalah. Dengan cepat dia membuka baju sekolah yang masih dipakai, dan hanya menyisakan kaos berwarna hitam yang sejak tadi dia pakai di balik seragam sekolah.
Ayun menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya. "Kenapa kalian mau ikut? Ibu cuma sebentar kok, paling juga satu jam." Dia berucap dengan lembut sambil menatap ketiga manusia itu.
Tanpa memperdulikan ucapan Ayun. Ezra, Adel, dan juga Faiz tetap ingin ikut ke rumah sakit bersamanya. Mau tidak mau dia terpaksa mengiyakan permintaan mereka, karena jika tidak mereka pasti akan tetap menyusulnya.
"Ya sudah, kalau gitu kalian makan siang dulu. Abis itu kita baru pergi. Kalian belum shalat zuhur juga 'kan?" tanya Ayun sambil menatap dengan gemas. Bisa-bisanya mereka ngotot ingin ikut, seperti masih anak-anak saja.
Ezra, Adel, dan juga Faiz mengangguk dengan patuh. Mereka semua lalu berjalan masuk ke dalam rumah untuk menikmati makan siang bersama, setelah itu mengerjakan shalat zuhur berjamaah dengan Ezra sebagai imamnya.
"Ayo, kita ruang shalat, Faiz! Kak Ezra dan Adel pasti sudah menunggu di sana," ajak Ayun saat melihat Faiz masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Faiz terdiam sambil menundukkan kepala, wajahnya terasa panas dan memerah karena saat ini merasa sangat malu.
"Ada apa, Nak? Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Ayun kemudian saat menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi pada Faiz.
Faiz mengangguk dengan lemah. "Ma-maaf, Tante. Aku, aku lupa do'a berwudhu dan juga bacaan shalat." Dia berucap dengan lirih.
Ayun tertegun saat mendengar jawaban Faiz. Tidak disangka ternyata sejak tadi anak itu diam karena lupa tentang wudhu dan juga shalat, dia malah mengira jika Faiz diam saja karena merasa segan dengan mereka.
"Tidak apa-apa, Faiz. Tante bisa mengajarimu. Ayo, kita ambil wudhu dulu!" ucap Ayun dengan lembut sambil menepuk bahu Faiz.
Dengan perlahan Faiz mendongakkan kepalanya untuk menatap Ayun. Dia yang semula merasa malu karena lupa do'a wudhu dan juga bacaan shalat, kini merasa sedikit tenang karena reaksi yang wanita itu berikan.
Ayun lalu mengajari Faiz tentang tata cara berwudhu yang baik dan benar, mulai dari niat sampai do'a terakhir sesudah membasuh kedua kaki.
Entah kapan terakhir kali Faiz mengerjakan shalat, hingga semua do'a dan tata caranya lupa dari ingatan. Padahal sejak kecil omanya sudah mengajari semua itu, tetapi karena tidak dikerjakan maka semua hilang begitu saja.
"Nanti shalatnya ngikuti kak Ezra aja ya, biar tante kasi tahu niatnya. Setelah ini, Faiz harus lebih giat belajar lagi. Supaya kita bisa shalat berjamaah, dan nanti Faiz yang jadi imamnya," ucap Ayun dengan lembut membuat Faiz tertegun dengan dada berdegup kencang.
Faiz menatap Ayun dengan sendu. "A-aku akan belajar dengan giat. Tapi, tapi maukah Tante mengajariku?" Dia bertanya dengan pelan dan penuh keraguan.
__ADS_1
Ayun tersenyum mendengar permintaan Faiz. Untung saja hubungan anak itu dan ayahnya sudah membaik, dan sekarang Faiz sudah bersikap terbuka dan mulai memperbaiki diri sebelum semuanya terlambat.
"Tentu saja, Faiz. Tante pasti akan mengajari Faiz semuanya. Sekarang ayo kita ke ruang shalat, nanti waktunya keburu habis!"
Faiz menganggukkan kepalanya dan segera mengikuti langkah Ayun menuju ruang shalat, di mana Ezra dan Adel sudah sejak tadi menunggu kedatangannya.
"Ngapain aja sih kau, dari tadi ditungguin gak datang-datang?" tanya Adel dengan geram. Hampir setengah jam dia menunggu Faiz, bahkan dia sudah dua kali berwudhu akibat buang angin.
"Nak!" seru Ayun sambil menatap Adel membuat putrinya itu menatap ke arahnya. Dia lalu menggelengkan kepala agar Adel tidak membuat keributan, apalagi marah pada Faiz.
Adel mendengus sebal sambil beranjak mengambil poisi yang pas untuk shalat, sementara Ezra yang sudah berada di posisi depan tampak tersenyum tipis sambil menatap ke arah Faiz.
"Dasar anak nakal itu, ternyata dia tidak bisa shalat. Beruntung sekali dia bisa bertemu dan dekat dengan ibu, ibu adalah guru terbaik dan tersabar. Ibu pasti akan mengajarinya." Ezra lalu berbalik dan bersiap-siap untuk memulai shalat.
Ternyata Ezra mengetahui jika Faiz lupa berwudhu dan juga mengerjakan shalat. Dia yang tadi sempat ke dapur karena menunggu lama, tidak sengaja mendengar pembicaraan antara anak itu dan juga ibunya.
Sementara itu, di parkiran rumah sakit terlihat seorang lelaki sedang berdiri di samping mobilnya. Dialah Fathir yang sengaja datang ke tempat itu untuk menemani Ayun memeriksakan kondisi tangan wanita itu.
Fathir tidak sempat datang ke rumah Ayun karena harus menghadiri pertemuan dengan kliennya Keanu, itu sebabnya dia langsung pergi ke rumah sakit dan menunggu di parkiran.
Setengah jam yang lalu Fathir menghubungi Ezra, dan laki-laki itu mengatakan jika akan segera berangkat ke rumah sakit. Namun, kenapa sampai sekarang belum sampai juga?
Fathir lalu kembali mengambil ponselnya untuk menghubungi Ezra, dia takut terjadi sesuatu dengan mereka dalam perjalanan.
"Oh, itu mereka," gumam Fathir saat melihat mobil Ayun memasuki parkiran rumah sakit. Dia lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.
"Loh, itukan om Fathir?"
Ayun yang masih berada di dalam mobil dan melihat ke kanan, langsung menoleh ke arah Adel saat mendengar ucapan putrinya itu.
"Om Fathir?" tanya Ayun dengan heran.
Adel menganggukkan kepalanya dan menunjuk ke arah di mana Fathir berada, membuat sang ibu ikut melihat ke arah yang dia tunjuk.
"Wah, rupanya papa ke sini juga," seru Faiz yang juga melihat keberadaan sang papa.
__ADS_1
Ayun menatap Fathir dengan heran dan bertanya-tanya. Untuk apa laki-laki itu ada di rumah sakit, mungkinkah Fathir juga ingin menemaninya periksa?
"Ah, bisa saja dia ada di sini karena ada keperluan lain," gumam Ayun sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu segera turun dari mobil yang sudah terparkir tepat di samping mobil Fathir.
"Papa di sini juga?" tanya Faiz saat baru turun dari mobil.
Fathir tampak terkejut saat melihat keberadaan putranya. "Iya. Papa ada pertemuan di sekitar sini, jadi sekalian ke sini untuk menamani tante Ayun periksa."
Ayun terkesiap saat mendengar jawaban Fathir, sementara yang lainnya tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka.
"Di-dia datang ke sini karena ingin menemaniku?" Ayun tidak menyangka jika Fathir benar-benar akan menemaninya memeriksakan tangan.
Fathir lalu berjalan mendekati Ayun yang terdiam di samping mobil. Dia mengulas senyum tipis membuat wanita itu semakin terpaku di tempat.
"Maaf, aku tidak sempat bilang kalau datang ke sini. Tidak apa-apa 'kan, kalau aku ikut menemanimu?" tanya Fathir.
Ayun terperanjat dari lamunan saat mendengar suara Fathir. "Ti-tidak apa-apa kok. Hanya saja aku takut merepotkanmu." Balasnya dengan tergagap, tiba-tiba dia merasa gugup.
Fathir menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak merepotkan, justru akulah yang sudah merepotkanmu dan yang lainnya." Dia melirik ke arah Faiz, seolah mengatakan jika putranya pasti merepotkan semua orang.
Ayun yang paham ke mana arah pembicaraan Fathir tersenyum tipis. "Faiz sama sekali tidak merepotkan kok, dia malah membuat suasana rumah jadi ramai."
Adel mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan sang ibu, sementara Faiz tampak tersenyum bangga karena ucapan yang Ayun berikan pada sang papa.
Fathir lalu mengajak mereka semua untuk menemui Dokter, apalagi sebelumnya mereka sudah lebih dulu membuat janji temu.
"Minggir!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1