
Beberapa saat kemudian, Keanu dan Abbas sudah sampai di tempat tujuan. Begitu juga dengan David dan Bram yang memang diajak ke tempat itu.
"Kakek!"
Ezra yang sudah menunggu kedatangan mereka tampak tersenyum cerah, tentu saja dia tahu tentang apa yang kakek dan omnya lakukan saat ini.
"Kau sudah menunggu lama?" tanya Abbas.
Ezra menggelengkan kepalanya. "Belum kok, Kek. Tadi aku singgah ke rumah sakit sebentar." Dia menjawab dengan senyum cerah, lalu beralih melihat ke arah David.
David yang mendapat tatapan ramah dari Ezra tampak menganggukkan kepala, sementara para karyawan lain yang melihat kedatangannya saling menatap dengan penuh tanda tanya.
"Selamat datang kembali, Paman. Mohon bantuan dan bimbingannya," ucap Ezra pada David, membuat laki-laki itu tercengang.
Semua orang yang ada di tempat itu tampak tersenyum tipis, merasa senang dengan sambutan dan kata-kata yang Ezra ucapkan.
"Ezra, terima kasih," balas David dengan lirih, yang disambut dengan anggukan kepala Ezra dan senyum tulus.
Dada David terasa berdenyut sakit saat melihat apa yang Ezra lakukan. Untung saja Abbas dan Keanu menghentikan serta menyadarkannya, jika tidak mungkin dia akan menyakiti atau bahkan menghancurkan hidup pemuda itu.
Setelah sedikit mengobrol, mereka semua segera masuk ke dalam kantor di mana para karyawan tampak menundukkan kepala. Ezra lalu meminta semua orang untuk berkumpul di aula, karena ada hal penting yang akan dia katakan.
Ada sekitar 12 orang karyawan yang bekerja dengan Evan termasuk David, karena memang usaha yang dia dirikan belum terlalu berkembang sukses seperti keluarga Abbas dan Keanu. Namun, ada beberapa orang karyawannya juga yang bekerja di lapangan.
"Maaf karena saya sudah mengganggu pekerjaan Anda semua," ucap Ezra, saat mereka semua sudah berkumpul di dalam aula pertemuan.
Abbas tersenyum bangga saat melihat Ezra. Di umur yang masih terbilang muda, cucunya sudah bisa mengambil keputusan besar juga melindungi ibu serta adiknya. Sungguh jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab sudah terlihat dalam diri Ezra.
"Saya tahu Anda semua saat ini sedang khawatir dan cemas akan keberlangsungan Dhean property, tapi sejak awal saya sudah menekankan bahwa Dhean property akan tetap berjalan dengan baik. Untuk itulah, hari ini saya ingin memperkenalkan kakek dan juga om saya pada Anda semua," lanjut Ezra. Dia menunjuk ke arah Abbas dan Keanu untuk memperkenalkan mereka pada semua orang.
"Mereka adalah keluarga saya, yang nantinya akan membantu ibu saya dalam menjalankan dan mengembangkan kantor kita ini. Saya harap Anda semua dapat menghormati mereka."
__ADS_1
Semua orang tampak tersenyum sambil menganggukkan kepala pada Abbas dan Keanu, walau ada berbagai pertanyaan yang memenuhi kepala mereka saat ini.
"Saya juga ingin memberitahu, bahwasannya mulai sekarang paman David akan kembali bergabung bersama dengan kita," sambung Ezra.
Para karyawan tampak terkejut saat mendengarnya, tetapi senyum bahagia terbit dibibir mereka karena merasa senang melihat David kembali bekerja di kantor itu.
Walau David terkesan tegas, tetapi laki-laki itu yang sudah banyak memberi bantuan dan ilmu pada mereka. Apalagi Davidlah tempat mereka bertanya saat mengalami kesusahan dalam mengerjakan pekerjaan.
"Kami mengakui bahwa kantor kita bisa berkembang sampai seperti ini tidak lepas dari kerja keras dan ketekunan beliau. Kesetiaan, ketelitian, dan juga kemampuan beliau membawa kita mampu bersaing dengan yang lain. Itu sebabnya saya meminta padanya supaya kembali agar bisa membantu kita untuk ke depannya."
David menundukkan kepalanya dengan wajah bersemu merah, merasa malu atas pujian yang Ezra berikan padanya. Selama ini, tidak ada yang memuji pekerjaannya sampai seperti itu. Sungguh membuatnya merasa malu, tetapi entah kenapa dadanya berdebar keras karena merasa senang mendengarnya.
"Anda terlalu memuji, Ezra. Saya tidak sehebat itu," ucap David merendah, tentu saja dia harus berkata seperti itu di hadapan Abbas dan Keanu.
Ezra juga mengatakan permintaan maaf pada David atas tuduhan yang telah ayahnya lakukan, dan memastikan bahwa David adalah orang yang setia dan jujur.
"Untuk itu, saya dan keluarga sudah memutuskan akan memberikan jabatan sebagai wakil direktur pada paman David."
Semua orang langsung bersorak senang saat mendengarnya, sementara David sendiri merasa terkejut dengan tatapan tidak percaya.
David lalu mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang Ezra berikan, dia juga berjanji akan selalu setia dan bekerja keras demi memajukan Dhean property.
Setelah semuanya selesai, Ezra dan yang lainnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu, sementara David tetap berada di sana untuk saling bertukar kabar dengan teman-teman kerjanya yang lain.
"Kakek bangga sekali denganmu, Ezra," ucap Abas saat mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Ezra menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kek. Aku cuma melakukan apa yang seharusnya kulakukan sebelum ibu sehat." Dia ingin nantinya sang ibu bekerja dengan nyaman dan tenang.
Abbas dan Keanu menganggukkan kepala mereka. Memang benar bahwa nantinya Ayun yang akan bekerja, karena Ezra masih harus fokus dengan pendidikan. Namun, tidak menutup kemungkinan jika ke depannya Ezra lah yang akan memimpin.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sudah sadar dan sedang diperiksa kembali oleh Dokter. Dia merasa terkejut saat mendengar penjelasan Dokter bahwa dia terkena serangan jantung.
__ADS_1
"Pantas saja akhir-akhir ini jantungku terasa berdenyut sakit dan nyeri," gumam Evan. Rasa sakit yang dia rasakan semakin parah saat semua masalah berdatangan.
"Maaf, tuan. Apa sebelumnya Anda pernah merasakan nyeri disekitar dada?" tanya Dokter itu.
Abbas menganggukkan kepalanya. "Ya, Dokter. Sudah hampir seminggu saya merasakannya."
Dokter itu mengangguk paham. Dia lalu meminta agar Evan tidak memikirkan apa-apa dulu untuk saat ini, agar kondisinya membaik. Apalagi sesuatu yang memicu stres.
"Kau dengar itu, Evan," ucap Mery saat Dokter sudah keluar dari ruangan.
Evan menghela napas kasar. Bagaimana mungkin dia tidak stres dalam keadaan seperti ini? Dia bahkan sudah akan dipenjara sekarang.
Endri lalu menyuruh Evan untuk istirahat dulu, dan mengajak sang istri keluar. Tampak 2 orang polisi menunggu di depan ruangan itu, tentu saja untuk menjaga Evan yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan seharusnya sudah masuk ke dalam jeruji besi.
"Ada apa, Mas?" tanya Mery. Dia ingin menjaga Evan, tetapi suaminya malah mengajak keluar.
"Kita harus membahas hasil sidang tadi," jawab Endri.
Mery terdiam saat mendengarnya. Apa yang suaminya katakan benar, mereka harus melakukan sesuatu agar Evan tidak di penjara. Namun, apa yang harus dilakukan?
"Kita tidak bisa membiarkannya masuk penjara, Mas. Satu-satunya cara kita harus mencari pinjaman untuk membayar uang dendanya," ujar Mery.
"Hutang Evan sudah banyak, Mery. Kita tidak bisa lagi menambahnya atau dia akan semakin stres nanti,"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa membiarkannya dipenjara," pekik Mery dengan gusar.
Endri diam sejenak untuk memikirkannya, dia lalu menghela napas kasar sambil menatap sang istri. "Sepertinya kita harus menjual rumah."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.