
Semua orang tersentak kaget saat mendengar pengusiran yang Ezra lakukan, terutama Evan yang terpaku di tempat sambil menatap sang putra dengan nyalang.
Ezra sama sekali tidak peduli dengan tatapan sang ayah yang terhunus padanya. Saat ini dia sangat-sangat lelah, jadi jangan terus memancing emosinya atau dia akan menjadi tidak terkendali.
"Om, aku datang bersama dengan paman dan tante. Apa mereka boleh istirahat di sini," ucap Ezra pada Rio, sambil menatap laki-laki itu penuh harap.
"Tentu saja, Ezra. Cepat, bawa mereka masuk untuk istirahat!" balas Rio mengizinkan, tangannya menepuk bahu laki-laki muda itu dengan pelan.
Ezra menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis, dia merasa beruntung karena ibunya punya sahabat yang baik seperti Rio dan Nayla.
Evan yang mendengar ucapan Ezra mengernyitkan kening bingung. "Paman dan tante? Siapa mereka?" Dia merasa penasaran siapa yang disebut dengan paman dan tante oleh sang putra. Dengan cepat dia menoleh ke arah mobil, dan langsung terbelalak saat melihat siapa yang baru saja keluar dari sana.
"Yuni?" Pekik Evan dengan tidak percaya. Matanya membelalak lebar, dengan mulut terbuka karena merasa terkejut melihat keberadaan adik iparnya.
Yuni sendiri tersenyum tipis saat melihat sang kakak ipar, tetapi sikapnya tidak seperti biasa yang akan langsung berlari untuk menyalim tangan Evan.
Kenapa bisa jadi seperti itu? Tentu saja karena dia sudah mendengar cerita dari Ezra tentang apa yang terjadi dengan rumah tangga sang kakak, dan sangat disayangkan sekali karena kakaknya sama sekali tidak mau berbagi kesedihan dengannya.
"Apa, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Evan dengan tajam. Untuk apa adik iparnya berada di tempat ini, apa mungkin karena ingin menghadiri persidangan besok?
Yuni melirik ke arah sang suami yang sedang menggendong putrinya, dan tidak ada tanda-tanda suaminya ingin menjawab pertanyaan Evan. Lalu dia melihat ke arah Ezra yang berdiri di belakang ayahnya
"Maaf, Mas. Kami-"
__ADS_1
"Tante-" potong Ezra dengan cepat sambil berjalan ke arah sang tante. "Lebih baik Tante dan Paman segera masuk, kasihan adik-adik." Dia berucap sambil memberikan isyarat seakan jangan menjawab atau bicara apapun pada ayahnya.
Yuni mengangguk paham lalu mengajak suaminya untuk masuk ke dalam pagar, mereka bersalaman dengan Rio dan menyapa dengan ramah. Setelahnya Rio mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ezra, Adel dan ayah mereka yang masih berada di sana.
Evan terus menatap adik iparnya sampai masuk ke dalam rumah. Jika mereka ada di sini, itu berarti mertuanya juga ada di tempat ini. Namun, di mana Ayun dan mertuanya sekarang?
"Masuklah, Adel. Kau pasti lelah, kan?" ucap Ezra sambil mengusap puncak kepala Adel, membuat lamunan Evan terhenti.
Adel menganggukkan kepalanya, tetapi dia malah mendekati sang ayah yang sedikit tersentak kaget saat melihat Adel mendekatinya.
"Adel, kau baik-baik saja 'kan, Nak?" tanya Evan dengan lembut. Hatinya yang tadi panas, mendadak jadi tenang saat melihat putrinya baik-baik saja.
Adel kembali menganggukkan kepalanya sambil menyodorkan sesuatu hadapan sang ayah. "Aku ingin memulangkan kartu ini. Tapi sebagai gantinya, aku minta uang jajan selama sebulan untukku dan kakak."
"Jangankan uang jajan untuk sebulan, uang berapa pun yang kau minta pasti akan langsung ayah kasi. Tapi, ikut pulang bersama ayah yah," ucap Evan dengan tujuan merayu, membuat Ezra langsung menarik tangan Adel agar menjauh dari ayah mereka.
Seketika suasana kembali menjadi tegang, apalagi saat ini Ezra dan Evan saling bertatapan dengan tajam.
"Jangan mempengaruhi adikku untuk melakukan sesuatu yang salah, Tuan Evan. Jika dia ikut dengan Anda, aku tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa dia," ucap Ezra dengan tajam, tangannya mencengkram erat pergelangan tangan Adel membuat gadis itu mengernyit sakit.
"Kak, tanganku sakit," keluh Adel, membuat Ezra langsung melepaskan cengkraman tangannya, tetapi dengan tatapan yang sangat tajam dan menusuk.
Evan tersenyum sinis saat mendengarnya. "Adikmu itu adalah anakku, Ezra. Dan di mana sopan santunmu bicara seperti itu pada ayahmu sendiri, hah? Apa kau lupa, bahwa selama ini aku yang sudah merawatmu sampai dewasa?" Dia mengungkit apa yang sudah dilakukan di masa lalu.
__ADS_1
"Kesopananku hilang saat ayahku menyelingkuhi ibuku sendiri, dan yah. Aku tidak mungkin lupa dengan apa yang sudah Anda lakukan mulai dari kecil sampai aku dewasa, itu sebabnya aku tetap diam walau berulang kali Anda mengganggu kami. Bukankah ini yang Anda inginkan?" tanya Ezra dengan tajam dan menohok.
"Anda sudah menikahi wanita lain, dan rencana Anda untuk mengusir ibuku sudah berhasil. Lalu apa lagi sekarang? Kenapa Anda masih saja mengganggu kami? Bukankah Anda juga punya anak dengan wanita si*alan itu?" ucap Ezra dengan menggebu-gebu, dia bahkan sampai lupa bernapas saat mengatakannya.
Evan terdiam saat mendengarnya. Apa yang Ezra katakan memang benar, tetapi kenapa dia masih saja ingin mengusik mereka? Sebenarnya apa yang terjadi? Dia sendiri juga tidak paham.
"Sekarang pergilah, sebelum Om Rio memanggil polisi untuk mengusir Anda. Tidak lucu bukan, seorang pengusaha beristri dua diusir karena mengganggu kenyamanan orang lain?" tukas Ezra dengan nada sindiran yang terasa menghujam dada Evan.
Evan hanya diam tanpa bisa membalas ucapan Ezra. Namun, sebelum pergi. Adel kembali meminta uang padanya.
"Ini uang untukmu, Sayang. Besok ayah akan menjamputmu," ucap Evan, tidak peduli walau Ezra tidak mau ikut dengannya. Asal Adel mau, maka itu sudah cukup.
Adel hanya diam dan fokus pada uang bernilai 3 juta itu, tanpa berniat menjawab ucapan sang ayah.
"Lumayan. Uang ini bisa membayar pengobatan nenek, besok aku akan minta lebih banyak lagi."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1