Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 99. Satu-satunya Tempat Tujuan.


__ADS_3

Fathan menatap Fathir dengan mata berkaca-kaca. Sungguh dia merasa sangat beruntung karena bisa melihat wajah adiknya itu yang telah banyak dia sakiti.


Ribuan sesal dan kata maaf tidak cukup untuk menghapus luka yang ada dalam hati Fathir, bahkan karena perbuatannya jugalah adiknya itu harus kehilangan wanita yang sangat dia cintai.


Betapa kejam perbuatan yang telah Fathan lakukan, dan dia tersadar saat semua sudah sangat terlambat. Hanya karena iri atas kesuksesan adiknya, dia gelap mata dan bertindak diluar batas. Dia bahkan berniat untuk membunuh Fathir pada saat itu.


"Fathir," gumam Fathan kembali. Tidak tahu sudah sebanyak apa dia menggugamkan nama sang adik selama ini, dan berharap bisa melihat wajah adiknya itu untuk sekali saja.


Fathir menggelengkan kepalanya dengan wajah merah padam, menahan segala gejolak rasa sakit dan penderitaan yang selama ini dirasakan.


Ingin sekali dia membunuh laki-laki itu untuk membalaskan dendam. Namun, hatinya lemah saat menatap wajah kedua orang tuanya.


"Brengs*ek!" umpat Fathir dengan bibir gemetar. Dia langsung berbalik dan pergi dari tempat itu membuat wajah Fathan basah karena air mata.


"Papa!" Faiz langsung menghampiri sang papa yang terlihat keluar dari ruang ICU, terlihat jelas jika saat ini papanya sedang tidak baik-baik saja.


"Fathir, Nak. Tunggu Mama," seru Alma saat melihat Fathir terus berjalan pergi.


"Fathir, maafkan Papa. Nak, tunggu." Farhan juga mengejar kepergian Fathir yang sama sekali tidak mendengarkan ucapan siapa pun.


Faiz langsung menghentikan apa yang dilakukan oleh kakek dan juga neneknya. "Biar aku yang menemani Papa, Opa dan Oma di sini saja." Pinta Faiz dengan tatapan sendu.


Alma langsung memeluk tubuh Faiz dengan erat, wajahnya sudah basah karena terkena air mata. "Oma mohon temani papamu, Sayang. Oma tidak mau terjadi sesuatu dengannya."


Faiz langsung menganggukkan kepalanya dan berlalu mengejar sang papa yang sudah tidak terlihat. Begitu Faiz pergi, Alma langsung menghampiri sang suami yang terdiam di belakangnya.


Plak.


Sebuah tamparan melayang tepat ke pipi Farhan dengan kuat, terlihat permukaan kulit itu menjadi merah dengan rasa kebas yang menjalar ke sekitar wajah.


"Apa kau sudah puas, hah?" teriak Alma dengan kuat, tidak peduli jika ada asisten suaminya atau pun Dokter di tempat itu. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. "Apa sudah puas kau membuat Fathir kembali terpuruk seperti itu? Jawab aku!" Dia membantak Farhan dengan penuh kemarahan.


Farhan hanya bisa tertunduk lemas melihat kemarahan sang istri. Dia sama sekali tidak ingin membela diri, karena semua itu memang kesalahannya.


"Kenapa, kenapa kau seperti ini? Kenapa?" ucap Alma dengan terisak pilu. Dia mendudukkan tubuhnya ke kursi sambil menutup wajah dengan kedua tangan, sungguh hatinya terasa sangat sakit sekali.


Farhan juga ikut menangis saat melihat sang istri. Dia lalu mendekati istrinya dan bersimpuh tepat di kaki wanita itu. "Maaf, Sayang. Maafkan aku. Aku, aku tidak tau harus melakukan apa. Maafkan aku."


Akhirnya mereka berdua sama-sama menangis meratapi apa yang terjadi saat ini. Di satu sisi putra sulung mereka sedang dalam keadaan kritis. Walaupun Fathan sudah banyak melakukan kesalahan, sebagai orang tua hati mereka tetap saja merasa sakit saat melihatnya.

__ADS_1


Sementara itu, di sisi lain ada putra bungsu mereka yang menjadi korban kekejaman kakaknya. Fathir harus menderita bahkan sampai kehilangan istri karena perbuatan Fathan.


Sejak awal, merekalah yang salah karena tidak bisa mendidik anak dengan baik. Hingga membuat mereka terpecah bela, bahkan sampai tega menyakiti saudara kandung sendiri.


Pada saat yang sama, Faiz berlarian dilorong rumah sakit untuk mengejar kepergian papanya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca dengan perasaan khawatir karena takut terjadi sesuatu dengan sang papa.


"Papa!" teriak Faiz saat sudah berada di luar rumah sakit. Dia sudah melihat ke dalam mobil, tetapi tidak menemukan keberadaan papanya. "Pa! Papa di mana?" Dia kembali teriak dengan tubuh gemetar. Perasaannya benar-benar sangat takut saat ini.


"Hah, hah, hah." Fathir yang sedang berpegangan pada dinding rumah sakit berusaha untuk berjalan ke arah Faiz yang sedang memanggilnya, tetapi napasnya terasa sangat sesak hingga membuat tubuh melemas.


Bruk.


Tubuh Fathir terjatuh ketanah karena sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri. "Fa-Faiz, Faiz." Dia mencoba untuk memanggil Faiz, tetapi suaranya tidak bisa keluar.


"Papa!" Faiz terisak pilu karena tetap tidak bisa menemukan sang papa walau sudah mencari. Lalu, tiba-tiba dia melihat ada sebuah kaki yang terlihat dari kejauhan.


Faiz segera berlari untuk memeriksanya. Seketika dia berteriak dengan kuat saat melihat keadaan papanya.


"Papa!" Faiz segera menghampiri sang papa yang saat ini sedang memegangi dada dengan napas tersengal-sengal.


Dengan cepat dia mengambil kunci mobil papanya dari saku, lalu berlari ke arah mobil untuk mengabil sesuatu. Dia membongkar seisi mobil untuk mencari obat papanya, dia yakin jika sang papa juga menyimpan obat itu di dalam mobil.


"Bertahanlah Pa," gumam Faiz sambil terus mencarinya.


Faiz segera meminumkan obat-obatan itu pada papanya. Untung saja dia menemukan botol berisi air di tempat itu, tidak peduli itu air bekas siapa yang penting bisa digunakan.


Fathir langsung menelan semua obat yang putranya berikan. Beberapa saat kemudian, kondisinya mulai kembali stabil walau keringat dingin masih membasahi tubuhnya.


"Papa tidak apa-apa 'kan?" tanya Faiz dengan sendu, air mata bahkan kembali menetes.


Fathir menatap putranya itu dengan senyum tipis. "Terima kasih, Nak. Kau kembali menyelamatkan papa." Dengan susah payah dia mengusap puncak kepala Faiz dengan lembut.


Faiz lalu meminta papanya agar sekalian periksa ke Dokter karena mereka sekarang masih berada di rumah sakit. Namun, papanya langsung menolak.


"Papa baik-baik saja. Ayo, bantu papa ke mobil!"


Faiz menghela napas kasar. Dia lalu membantu sang papa dan membawa papanya ke mobil.


Setelah mendudukkan papanya dikursi, Faiz segera duduk dikursi kemudi untuk pergi dari tempat itu. Bersyukur dia sudah bisa menyetir mobil walau belum punya SIM.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Fathir terus memanggil dengan tubuh berkeringat membuat Faiz kembali merasa takut. Berulang kali dia memberhentikan mobil itu, karena harus menyelimuti papanya sampai dia tidak lagi memakai baju.


"Bagaimana ini?" Faiz terlihat sangat bingung. Dia ingin kembali membawa papanya ke rumah sakit, tetapi dia takut jika nanti papanya marah. Ingin membawa pulang ke rumah, tetapi di rumah pun hanya ada dia yang tidak tahu apa-apa.


Setelah pemikiran panjang, akhirnya Faiz kembali melajukan mobil itu menuju rumah Ayun. Saat ini hanya itulah satu-satunya tujuan yang ada dalam kepalanya, setidaknya mereka bisa merawat sang papa karena oma dan opanya pasti sibuk di rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Faiz sudah sampai di depan gerbang rumah Ayun. Dia segera turun dari mobil itu untuk menemui panjaga gerbangnya.


Setelah bicara dengan mereka, Faiz kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya saat gerbang sudah terbuka. Dengan cepat dia memarkirkan mobil itu dan bergegas turun dari sana.


"Assalamu'alaikum. Tante, Tante Ayun. Ini aku Faiz, aku mohon bunga pintunya," teriak Faiz sambil sibuk menekan bel rumah itu.


Ayun yang sedang berada di dapur bergegas melihat siapa tamu yang datang malam-malam gini ke rumahnya, begitu juga dengan Ezra dan Angga yang mendengar suara bel tersebut.


"Astaghfirullah, Faiz?" pekik Ayun dengan kaget saat melihat keberadaan Faiz, begitu juga dengan Ezra dan Angga.


"Ada apa, Faiz? Kenapa kau ke sini malam-malam?" tanya Ezra dengan heran, apalagi saat melihat Faiz bertelanjang dada.


"Pa,papa, aku mohon tolong papaku," ucap Faiz sambil menunjuk ke arah mobil.


Ayun dan yang lainnya tersentak kaget saat mendengar ucapan Faiz, dengan cepat mereka berlari ke arah mobil laki-laki itu untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Ya Allah, Fathir!" Ayun memekik kaget saat melihat keadaan Fathir, apalagi saat ini laki-laki itu terlihat sangat pucat.


"Cepat, kita harus membawanya masuk," seru Angga saat melihat tubuh Fathir menggigil kedinginan.


Angga, Ezra, dan Faiz segera mengangkat tubuh Fathir dan membawanya ke dalam rumah. Mereka tampak kesusahan saat mengangngkatnya, sampai meminta bantuan pada penjaga gerbang.


Mereka lalu membaringkan tubuh Fathir di kamar tamu, dan dengan cepat Ayun menyelimuti tubuh laki-laki itu dengan selimut yang sangat tebal.


"Ini bajumu, Faiz," ucap Ayun sambil memberikan baju pada Faiz.


Faiz menganggukkan kepalanya, dia segera memakai baju itu sambil menghela napas lega karena sudah berhasil membawa papanya ke rumah ini.


"Kita harus segera memanggil Dokter, Ezra. Ibu takut keadaan Fathir semakin parah."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2