Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 100. Dipendam Sendiri.


__ADS_3

Ezra menganggukkan kepalanya, dia juga setuju dengan apa yang ibunya ucapkan karena takut jika keadaan Fathir semakin bertambah buruk.


"Aku akan menelepon kakek, Bu," ucap Ezra kemudian. Dia lalu keluar dari kamar itu untuk mengambil ponselnya dan menelepon sang kakek, karena kakeknya punya Dokter pribadi.


Ayun lalu beralih melihat ke arah Faiz yang sedang menatap Fathir dengan khawatir. "Jangan khawatir, kak Ezra sudah memanggil Dokter." Dia mengusap bahu Faiz dengan lembut.


Faiz menganggukkan kepala. Keputusannya sudah tepat dengan membawa sang papa ke rumah ini, dan ada tante Ayun yang akan mengurusnya.


"Apa kau sudah makan?" tanya Ayun kemudian.


Faiz menggelengkan kepala. Sebenarnya tadi dia sempat memasukkan satu suapan ayam ke dalam mulut sambil bermain game, setelah itu dia mendapat telepon dari opanya hingga tidak bisa lagi untuk makan.


"Ayo ikut Om, kita makan dulu!" ajak Angga yang masih berada di tempat itu.


Mereka lalu keluar dari kamar itu dan pergi ke dapur untuk makan, tinggalah Ayun sendiri di ruangan itu yang saat ini menatap Fathir dengan penuh tanda tanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Fathir?" gumam Ayun dengan khawatir. Dia mendekati laki-laki itu lalu duduk di samping ranjang. "Padahal tadi siang dia masih sangat sehat, lalu malamnya seperti ini." Dia menghela napas kasar.


Ayun lalu mengambil handuk kecil untuk mengusap keringat yang membasahi kening Fathir, tidak berselang lama datanglah sang ibu ke kamar itu.


"Ada apa, Nak? Apa yang terjadi dengan Fathir?" tanya Hasna dengan terkejut.


Ayun melihat ke arah sang ibu sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Bu. Faiz membawanya sudah dalam keadaan seperti ini, nanti aku akan bertanya padanya."


Hasna menganggukkan kepala. Dia lalu menempelkan punggung tangannya di kening Fathir untuk memeriksa suhu tubuh laki-laki itu.


"Tubuhnya sangat dingin. Kau tunggu di sana saja, ibu akan membuatkannya air jahe," ucap Hasna. Dia berlalu keluar dari kamar itu setelah mendapat anggukan dari Ayun.


Ayun terus menatap wajah Fathir sambil mengusap kening laki-laki itu, dia lalu membenarkan selimut yang membungkus tubuh Fathir saat tersingkap oleh kaki.


Beberapa saat kemudian, seorang Dokter datang ke rumah Ayun sambil membawa peratalan medisnya. Dia adalah saudara dari Dokter pribadi Abbas, yang ditugaskan untuk datang ke rumah ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya Dokter paruh baya itu sambil memeriksa keadaan Fathir.


Ayun dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Faiz saat mendengar pertanyaan Dokter, sementara Faiz sendiri terlihat ragu untuk menceritakannya.


"Tidak apa-apa, Nak. Ceritakan saja semuanya pada Dokter, supaya Dokter bisa memberikan pengobatan yang sesuai," ucap Ayun.


Faiz menganggukkan kepalanya dan mulai menceritakan apa yang sudah terjadi. Mulai dari pertemuan mereka dengan pamannya, sampai papanya jadi sakit dan meminum obat.

__ADS_1


"Apa kau bisa menunjukkan obat itu pada saya?" pinta Dokter itu.


Faiz kembali menganggukkan kepalanya. Dia lalu berjalan keluar untuk mengambil obat itu di dalam mobil dengan ditemani oleh Ezra.


"Sepertinya pasien terkena serangan panik," ucap Dokter tiba-tiba membuat Ayun dan yang lainnya tersentak kaget.


"A-apa maksud Anda, Dokter?" tanya Ayun dengan tergagap.


Dokter itu lalu menjelaskan tentang serangan panik sesuai dengan apa yang Faiz katakan, apalagi terjadi setelah bertemu dengan seseorang yang sangat dibenci di masa lalu. Jelas saja menimbulkan sebuah tekanan besar dalam diri dan juga mental seseorang.


Ayun tercengang saat mendengar penjelasan Dokter, begitu juga dengan Hasna, Angga dan juga Yuni yang berada di dalam kamar itu.


"Ya Allah, Fathir," gumam Ayun dengan terisak. Sungguh dia tidak menyangka jika selama ini Fathir terkena gangguan mental seperti itu.


Hasna langsung memeluk tubuh Ayun dengan erat seraya memberikan dukungan dan ketenangan untuk putrinya itu. "Tenangkan dirimu, Nak. Kau tidak boleh seperti ini." Dia mengusap punggung Ayun dengan lembut.


Ayun menangis bukan karena Fathir mengidap gangguan mental, dia hanya tidak menyangka jika selama ini laki-laki yang selalu terlihat kuat ternyata memendam kepahitan itu sendirian.


Selama ini Fathir selalu membantunya dan juga membantu semua keluarganya, bahkan sedikit demi sedikit laki-laki itu mengikis dan mengobati luka yang ada dihatinya.


Namun, apa yang dia lakukan? Dia bahkan sama sekali tidak tahu jika Fathir menahan semua itu, dia hanya bisa menerima segala kebaikan laki-laki itu tanpa tahu jika Fathir sendiri sedang tidak baik-baik saja.


"Dugaan saya benar kalau pasien mengalami serangan panik, dan setelah itu mengkonsumsi obat ini dalam dosis tinggi hingga membuat tubuh menggigil dan melemah," ucap Dokter itu.


Semua orang tampak sedih saat mendengarnya, terutama Faiz yang menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi Anda semua tidak perlu cemas, saya sudah menyuntikkan penawar untuk menetralkan suhu tubuh pasien," sambung Dokter itu lagi. Dia juga memberikan infus pada Fathir untuk menambah energi agar tidak lemah.


Ayun langsung mengucapkan terima kasih pada Dokter itu karena sudah mau datang ke rumahnya, begitu juga dengan keluarga yang lain.


"Mulai sekarang, saya diperintahkan oleh tuan Abbas untuk menjadi Dokter probadi keluarga Anda, Nyonya. Jadi Anda boleh menghubungi saya jika terjadi sesuatu," ucap Dokter itu sambil memberikan kartu namanya.


Ayun menerima kartu nama itu dengan penuh suka cita. "Baiklah, Dokter. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih pada Anda."


Dokter itu mengangguk. Dia lalu menjelaskan aturan minum untuk obat yang dia berikan, dan malam ini harus ada yang menjaga pasien karena mungkin suhu tubuhnya sewaktu-waktu bisa kembali menurun.


Setelah semuanya selesai, semua orang tampak berkumpul di ruang keluarga. Kecuali Adel yang memang sudah tidur.


"Apa kau sudah memberi kabar pada oma dan opamu, Faiz?" tanya Ayun.

__ADS_1


Faiz menggelengkan kepalanya. "Belum, Tante. Mereka pasti sedang di rumah sakit, dan aku juga tidak mau menghubungi mereka." Dia berucap dengan lirih.


Ayun beranjak dari sofa dan beralih duduk di samping Faiz. "Tidak boleh seperti itu, Nak. Opa dan omamu pasti saat ini sedang sangat khawatir, apa kau tidak kasihan dengan mereka?"


Faiz terdiam. Dia lalu menatap Ayun dengan nanar. "Lalu kenapa mereka melakukan itu pada papa? Jelas-jelas laki-laki itu yang sudah menghancurkan hidup papa, dan juga menghancurkan hidupku. Bahkan dia juga yang sudah membunuh mama. Tapi kenapa mereka tetap memaksa papa untuk menemuinya?" Dia merasa kesal dan tidak terima.


Ayun dan yang lainnya hanya bisa diam saat mendengar ucapan Faiz. Mereka tidak bisa sembarangan bicara karena tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.


"Tante yakin kalau oma dan opa pasti punya alasan yang kuat untuk itu, Nak. Jadi jangan marah pada mereka yah," sahut Ayun dengan lembut. Dia menggenggam kedua tangan Faiz yang sedang bertautan, seolah sedang menenangkan kemarahan laki-laki itu. "Kalau memang kau tidak mau menghubungi mereka, bagaimana jika tante saja yang memberi kabar? Tidak apa-apa 'kan?" Dia bertanya dengan lembut.


Faiz diam sejenak untuk memikirkannya, sesaat kemudian dia mengangguk membuat Ayun dan yang lainnya menghela napas lega.


Kemudian Ayun menyuruh Ezra untuk membawa Faiz ke kamar supaya bisa istirahat, apalagi saat ini sudah hampir jam 12 malam.


"Kalian juga istirahatlah, Dek," ucap Ayun pada Yuni. "Biar mbak yang menjaga Fathir." Dia menganggukkan kepalanya.


Yuni dan Angga lalu beranjak naik ke lantai dua dan kembali ke kamar mereka, sementara Hasna masih berada di tempat itu.


"Ibu akan menemanimu, Nak. Ayo, kita ke kamar Fathir!" ajak Hasna.


Ayun tersenyum. "Jangan buat aku dimarahi papa dong, Bu. Masak calon pengantin begadang, nanti badannya enggak fit loh." Dia tersenyum depan penuh arti.


Hasna langsung mencubit lengan Ayun membuat putrinya itu memekik kaget. "Kau udah mulai ketularan Yuni, yah. Udah ayo!" Ajaknya kembali.


Ayun lalu meminta ibunya untuk kembali ke kamar, biar dia sendiri saja yang menjaga Fathir. Lagi pula, tengah malam nanti Ezra pasti akan datang melihat keadaan laki-laki itu karena tadi juga sudah bilang.


Hasna terpaksa menganggukkan kepalanya dan berlalu kembali ke kamar, hingga tinggallah Ayun sendiri di tempat itu.


Ayun segera mengambil kasur lantai dan membentangnya di samping ranjang Fathir untuk tempat tidurnya. Untuk sekali lagi dia mengecek suhu tubuh laki-laki itu sebelum terlelap.


"Cepat sehat, Fathir. Banyak sekali sesuatu yang ingin aku tanya padamu."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2