Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 76. Kesalahanmu Sendiri.


__ADS_3

David menatap Evan dengan tajam. Persetan jika laki-laki itu adalah atasannya, yang pasti dia sangat tidak terima di tuduh seperti itu.


"Cepat panggil polisi ke sini saat ini juga, Fadil. Agar pencuri ini segera ditangkap," ucap Evan pada laki-laki yang ada di dalam ruangan itu, membuat Fadil tersentak kaget.


"Ma-maaf, Pak. Tidak mungkin pak David-"


"Apa kau juga bekerja sama dengannya untuk mencuri barangku?" potong Evan dengan cepat, membuat Fadil langsung terdiam dengan takut.


Evan lalu kembali melihat ke arah David. Lihat saja, dia akan menuntut ganti rugi sesuai dengan apa yang sudah dia keluarkan. Juga akan membuat laki-laki itu membusuk di dalam penjara.


Sesuai dengan apa yang Evan perintahkan. 15 menit kemudian, tampak beberapa polisi datang ke tempat itu untuk membawa David.


Semua karyawan terkejut bukan main saat melihat David dibawa oleh polisi, mereka menatap dengan tidak percaya bahwa laki-laki itulah yang telah mencuri sesuatu dari dalam ruangan atasan mereka.


David sendiri hanya diam dengan rasa sakit hati yang luar biasa. Harga dirinya benar-benar dicabik-cabik oleh Evan, bahkan laki-laki itu sama sekali tidak mendengar bantahannya.


"Kalian lihat? Begitulah nasib pencuri dan pengkhianat yang berani bermain-main denganku. Jika kalian melakukan hal yang sama, maka aku pasti akan membuat kalian membusuk di dalam penjara," ucap Evan dengan tajam dan menusuk, membuat langkah David yang akan keluar dari tempat itu terhenti.


David membalikkan tubuhnya dan menatap Evan dengan penuh dendam. Sumpah demi Tuhan, suatu saat nanti dia akan membalas rasa sakit hati dan penghinaan ini berkali-kali lipat.


"Aku bersumpah kalau aku pasti akan menghancurkan hidupmu, Evan. Kau lihat saja nanti."

__ADS_1


David menatap dengan penuh kebencian. Padahal selama ini dia sudah bekerja keras tidak kenal waktu demi menuntaskan pekerjaan, apalagi selama ini semua pekerjaan dia yang menyelesaikannya. Namun, inilah balasan yang dia terima. Walau selama ini gajinya di atas rata-rata para karyawan yang lain, tetapi apa yang Evan lakukan ini sudah sangat keterlaluan.


Evan lalu menyuruh semua karyawannya untuk kembali kerja, lalu menyuruh salah satu dari mereka untuk menelepon petugas cctv karena dia ingin memasangnya di dalam ruang kerja.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sedang mengantar Nindi dan yang lainnya keluar rumah sakit karena mereka akan pulang.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Papa dan suamiku sudah menghubungi semua rumah sakit untuk mencari pendonor untuk Tante Hasna," ucap Nindi sebelum dia masuk ke dalam mobil, membuat Ayun langsung berkaca-kaca.


"Sungguh, Nindi. Aku tidak akan bisa membalas semua yang telah kau, tuan Abbas dan tuan Keanu lakukan padaku. Aku tidak-"


"Kami tidak butuh balasan darimu, Ayun. Kami percaya bahwa apapun yang kami lakukan maka akan kembali pada kami juga. Entah itu kebaikan atau keburukan, biarkanlah Allah yang membalas semuanya," balas Nindi dengan cepat. Dia memeluk tubuh Ayun dengan erat, entah kenapa dia merasa sangat dekat dengan wanita itu padahal perkenalan mereka terbilang singkat.


Ayun lalu kembali masuk ke dalam rumah sakit untuk menemani sang ibu, sekaligus bertanya tentang hubungan Hasna dan Abbas di masa lalu.


Setelah mengalami nasib sia*l karena kehilangan berkas yang sangat penting, Evan bergegas pergi ke salah satu kantor temannya sekaligus seseorang yang membantunya untuk mendapatkan formulir itu.


"Dasar gila! Bagaimana mungkin kau bisa menghilangkannya?" tanya laki-laki bernama Akmal, dia adalah pengusaha property juga yang sudah membantu Evan mendapatkan fomulir tersebut.


"Salah satu orang kepercayaanku sudah mengkhianatiku, dan dia mengambilnya," jawab Evan dengan frustasi. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan penuh kesal.


"Sh*it! Kita harus segera menemukannya, Evan. Atau kau harus mengganti kerugianku juga,"

__ADS_1


"Apa?" Pekik Evan dengan kaget. Dia menatap laki-laki bernama Akmal itu dengan tajam. "Bagaimana mungkin aku mengganti kerugianmu, sementara formulir itu adalah milikku sendiri?" Dia bertanya dengan nada mulai emosi. Niat hati ingin meminta bantuan, malah diminta bayar ganti rugi.


"Kau pikir aku mendapatkan itu tidak keluar uang, hah?" bentak Akmal. "Aku berusaha mendapatkannya karna kau yang minta, aku juga udah melobi semua kenalan-kenalanku. Bahkan aku mengalah karna kau belum pernah ikut pelelangan seperti itu, dan memberikan kesempatan padamu. Tapi kau malah membuang kesempatan yang aku berikan, jadi kau harus mengganti semuanya sebesar 50 juta."


Evan terlonjak kaget saat mendengar ucapan Akmal. Matanya menajam dengan rahang yang sudah mengeras membuat urat-uratnya menonjol ke permukaan.


Akmal sendiri menatap Evan dengan kesal. Susah payah dia mendapatkan formulir itu, tetapi malah dihilangkan begitu saja. Dia bahkan rela mengalah hanya demi teman dan keluar uang, tetapi sekarang persetan dengan yang namanya teman jika merugikan.


"Sekarang pergi dari sini. Aku tidak mau lagi berurusan denganmu, dan jangan lupa untuk mengganti uangku!" ucap Akmal dengan penuh penekanan, dia yang tadinya duduk disofa beranjak bangun dan berpindah ke kursi kerja.


"Kau mengusirku?" tanya Evan dengan tidak percaya. Berani sekali laki-laki itu mengusirnya seperti ini, apa Akmal pikir dia itu hebat?


"Ya, aku tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki tidak bertanggung jawab sepertimu. Oh ya, aku dengar dari seseorang katanya kau punya dua istri, 'kan?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2