Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 40. Gara-gara Ponsel.


__ADS_3

Evan terkesiap dan tidak bisa membalas ucapan Ezra yang membahas tentang anaknya bersama dengan Sherly, membuat Ezra langsung tersenyum sinis.


Dia lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan untuk menenangkan hati agar tidak terpancing emosi.


"Dengar Ezra, ayah tidak ingin bertengkar lagi denganmu. Jadi jangan terus-terusan membuat masalah di antara kita," ucap Evan dengan penuh penekanan. Matanya menatap tajam dengan kedua tangan yang masih terkepal erat.


Ezra terkekeh pelan dengan tatapan sinis. "Bukan aku yang selalu mencari masalah, tapi Anda sendiri, kan?" Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Evan menghela napas kasar. Apapun yang dia lakukan, sepertinya akan tetap salah di mata putranya itu. Namun, saat ini ada sesuatu yang sangat penting yang harus dia bicarakan dengan Ezra.


"Baiklah, terserah kau mau melakukan apa. Tapi ada hal penting yang ingin ayah katakan padamu," ucap Evan dengan serius.


Ezra hanya diam tanpa menanggapi ucapan sang ayah, tetapi dia masih tetap diam di tempat itu karena menunggu apa yang sebenarnya ingin ayahnya katakan.


"Besok ada pelanggan VIP ayah yang akan datang berkunjung ke kantor, sekalian akan makan siang bersama dengan kita. Ayah harap kau bisa menjaga sikap di depan mereka, apa kau mengerti?" ucap Evan dengan jelas, dan berakhir dengan pertanyaan apakah putranya itu mau menurutinya atau tidak.


"Tentu saja. Aku kan anak Anda, jelas aku bisa menjaga sikap dan memasang banyak muka," jawab Ezra dengan tajam. Dia lalu berjalan pergi ke arah kamarnya meninggalkan sang ayah yang menatapnya dengan geram.


Evan lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Semua masalah ini benar-benar membuatnya lelah, apalagi tiba-tiba pelanggan VIP nya yang memberi kabar akan datang mengungjunginya bersama dengan keluarga.


"Kenapa harus datang di saat seperti ini sih?" Evan bergumam dengan kesal. Suasana keluarganya masih sangat panas, dia takut salah satu dari mereka akan membuat kesalahan di depan tamunya besok.


Setelah bicara dengan Ezra, Evan lalu beranjak pergi ke kantor untuk mempersiapkan kedatangan tamunya. Dia harus melakukan penyambutan yang baik, agar tamunya merasa nyaman dan tetap menjalin kerja sama dengannya.


Namun, langkah Evan terhenti saat tiba-tiba melupakan sesuatu. Dia belum mengatakan tentang tamunya pada Ayun, karena wanita itu harus menyambut mereka dan memasak makanan yang enak agar tamunya merasa senang.

__ADS_1


"Tapi, sejak tadi aku tidak melihatnya. Sebenarnya dia ada di mana?" Evan bertanya-tanya di mana keberadaan Ayun saat ini. Sejak wanita itu mengantar Abbas keluar, sampai saat ini belum terlihat.


"Ya sudahlah, nanti malam aja mengatakannya," gumam Evan sambil masuk ke dalam mobil. Jika urusan Ayun, maka semuanya tidak ada yang susah. Wanita itu sudah terbiasa menyambut tamu-tamunya, maka kali ini juga pasti akan berjalan lancar seperti mana biasanya.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sedang berjalan ditrotoar sambil memperhatikan deretan toko yang menjual ponsel. Ternyata setelah mengantar Nindi dan keluarga wanita itu tadi, dia tidak kembali ke rumah melainkan pergi ke pasar untuk melihat-lihat ponsel.


Ayun ingat saat Nindi mengatakan jika tidak bisa menghubunginya. Jelas saja nomornya tidak bisa dihubungi, karena ponselnya sudah terbelah menjadi beberapa bagian.


"Tapi harga ponsel sekarang kan mahal, atau aku gak usah beli aja ya?" gumam Ayun untuk yang ke sekian kalinya. Sudah beberapa kali pikiran itu melintas dalam kepalanya, hingga membuatnya ragu untuk membeli benda pipih itu.


Ayun diam sejenak untuk merenung. Susah juga jika dia tidak punya ponsel jika ingin menelepon atau ada seseorang yang ingin meneleponnya, karena benda pipih itu sudah menjadi kebutuhan dijaman sekarang ini.


"Ya sudah lah, aku beli aja model yang sama kayak yang lama. Paling harganya nambah sedikit," ucap Ayun setelah mengambil keputusan.


"Selamat sore, Buk. Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang karyawan yang bekerja di toko itu dengan ramah. Senyum manisnya membuat siapa saja yang hanya ingin melihat-lihat, pasti akan berakhir dengan membeli barang.


"Se-selamat sore. Saya ingin melihat-lihat ponsel," jawab Ayun dengan tergagap. Entah kenapa dia menjadi gugup saat melihat ada banyak ponsel di tempat itu, tetapi tidak ada satu pun ponsel yang sama dengan miliknya yang telah rusak.


"Silahkan, Buk. Ibuk mau model ponsel yang seperti apa? Kami ada banyak keluaran terbaru dalam bulan ini," ucap wanita itu sambil menunjukkan deretan ponsel yang ada di dalam kaca di bawah tangan mereka.


Ayun tersenyum canggung saat melihat ponsel-ponsel yang wanita itu tunjukkan, apalagi saat melihat harganya yang membuat kepalanya langsung berdenyut sakit.


"I-itu, bisakah Anda menunjukkan ponsel yang sama dengan ini?" Ayun menunjukkan ponsel lamanya pada wanita itu.


Wanita itu tercengang saat melihat ponsel yang Ayun tunjukkan. Jangankan model terbaru, ponsel itu bahkan belum punya kamera dan penyimpanan musik.

__ADS_1


"Maaf, Buk. Kami tidak menjual-"


"Permisi, apa saya boleh melihat ponsel yang ada di depan itu?"


Tiba-tiba ucapan wanita itu terhenti saat ada seseorang yang datang ke tempat itu, membuat perhatiannya teralihkan.


"Selamat datang, Nyonya. Apa Anda ingin membeli ponsel keluaran terbaru lagi?" tanya wanita itu dengan ramah dan senyum sejuta pesona.


Ayun yang ada di tempat itu ikut berbalik karena merasa penasaran siapa yang datang ke toko itu, dan membuat semua karyawan menjadi heboh.


Deg.


"Di-diakan?" Ayun tersentak kaget saat melihat siapa wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Saya ingin melihat-lihat dulu. Ponsel yang lama tergores karena dibuat mainan sama sih kecil, jadi kata suami beli aja yang baru sekalian yang bagus agar tidak cepat rusak," ucap wanita itu dengan riang gembira, terlihat jelas kebahagiaan di raut wajahnya.


Ayun mengepalkan kedua tangannya dengan erat, mendadak tubuhnya jadi panas dingin. "Kau memakai uang suamiku untuk membeli ponsel mahal sementara kau sudah punya?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2