
Nindi merasa benar-benar pilu, ternyata Takdir tidak berjalan sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Akan tetapi, mungkinkah semua ini akan membuatnya sembuh? Apa penyakitnya benar-benar akan sembuh karena donor yang Ayun lakukan?
Ayun yang melihat Nindi menangis bergegas mengusap air mata di wajah wanita itu. "Jangan menangis, Nindi. Apa kau merasa sakit? Apa mau aku panggilkan Dokter?" Dia bertanya dengan khawatir dan raut wajah sendu.
Nindi mengedipkan matanya beberapa kali untuk memberikan kode pada Ayun bahwa dia tidak merasa sakit, tetapi dia merasa terharu dengan apa yang wanita itu lakukan.
Sementara itu, Ayun yang tidak mengerti segera menoleh ke arah Ezra dan menyuruh putranya itu untuk memanggil Dokter agar bisa memeriksa keadaan Nindi.
"Tu-tunggu," ucap Nindi dengan lemah. Dia berusaha keras untuk mengeluarkan suara agar Ezra tidak pergi memanggil Dokter.
Ezra yang sudah hampir membuka pintu mengurungkan niatnya saat mendengar suara Nindi, sementara Ayun langsung menggenggam tangan wanita itu.
"Nindi, kau, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Ayun dengan mata berkaca-kaca.
"A-aku, aku baik." Lirih Nindi dengan terbata-bata membuat Ayun langsung tersenyum lebar.
"Syukurlah. Terima kasih karena tetap kuat dan bertahan," ucap Ayun dengan bahagia. Dia mengusap puncak kepala Nindi dengan sayang dan penuh kehangatan.
Ada banyak sekali sesuatu yang ingin Nindi katakan saat ini pada Ayun, terutama rasa terima kasihnya yang sangat besar atas apa yang sudah wanita itu lakukan untuknya. Namun, tubuhnya masih terasa sangat lemas. Jangankan untuk bergerak, untuk bicara saja rasanya sangat susah sekali.
"Jangan memaksakan diri, Nindi. Tidak apa-apa, pelan-pelan saja. Semuanya pasti akan membaik, dan kakakmu ini akan selalu menemani di sini."
Deg.
Dada Nindi berdegup kencang saat mendengar ucapan Ayun, matanya kembali berkaca-kaca karena merasa bahagia dengan pengakuan yang kakaknya itu berikan.
"Ka-kakak," gumam Nindi dengan haru.
Ayun menganggukkan kepalanya dengan air mata mengalir deras. "Iya, adikku. Ini kakak, kakak akan menemanimu di sini." Dia menggenggan tangan Nindi dengan erat seakan takut jika wanita itu akan pergi meninggalkannya.
Akhirnya tangis kedua kakak beradik itu pecah di dalam ruangan tersebut, membuat Ezra yang sejak tadi diam memalingkan wajahnya ke arah samping. Beberapa kali dia mengusap air mata yang berhasil lolos dari sudut matanya yang terasa panas.
__ADS_1
Abbas dan yang lainnya juga ikut menatap mereka dari luar ruangan dengan sendu. Walau tidak tahu apa yang kedua wanita itu bicarakan, tetapi mereka paham betul bagaimana perasaan Ayun dan Nindi saat ini.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit di dalam ruang ICU, Ayun terpaksa keluar agar Nindi bisa kembali istirahat. Dia memberi dukungan dan semangat untuk adiknya itu sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Ezra lalu membawa sang ibu kembali ke dalam ruangan, sementara Abbas mengantar Hasna dan Yuni pulang ke rumah sekalian membawa mereka ke rumah baru yang akan di tempati.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sedang sibuk menghubungi Adel. Namun, sepertinya putrinya itu belum pulang sekolah karena tidak menjawab panggilannya.
Tidak mau hanya menunggu telepon saja, Evan bergegas pergi ke sekolah Adel. Akan tetapi, lagi-lagi keberuntungan tidak berpihak padanya. Begitu dia sampai di sekolah, tampak para siswa sudah meninggalkan tempat itu, begitu juga dengan Adel.
"Baru saja 5 menit yang lalu Adel pulang dengan menaiki taksi, Tuan," ucap penjaga gerbang sekolah itu yang memang mengenal Adel.
Evan langsung mengumpat kesal saat mendengarnya. Entah kenapa langkahnya selalu saja sia*l, dan tidak ada satu pun yang berjalan dengan baik.
"Sudahlah, lebih baik aku mengurus proyek yang akan berlanjut setelah aku mendapat modal. Toh aku tetap akan bertemu dengan Ayun, karena biar bagaimana dia pasti akan datang ke kantor," gumam Evan sambil kembali masuk ke dalam mobil, lalu melaju pergi meninggalkan tempat itu.
Dari dalam pos keamanan, keluarlah seorang gadis dengan memakai seragam sekolah saat Evan sudah pergi dari tempat itu.
Ternyata, Adel belum pergi dari sekolah dan sengaja bersembunyi agar tidak bertemu dengan sang ayah. Dia meminta bantuan pada penjaga gerbang dengan alasan sedang dimarahi oleh ayahnya.
Laki-laki paruh baya itu menghela napas kasar. "Sama-sama, Del. Tapi ingat loh, bapak gak mau bohong kayak gitu lagi." Dia merasa bersalah karena telah berbohong.
"Iya-iya," jawab Adel sambil berbalik dan hendak pergi dari tempat itu dengan menaiki taksi.
Bruk.
Tanpa sengaja, tiba-tiba Adel menabrak tubuh seseorang membuatnya hampir tersungkur ke tanah, tetapi dengan cepat lelaki itu menahan tubuhnya.
"Ma-maafkan saya," ucap Adel dengan kepala tertunduk saat tubuhnya sudah kembali berdiri dengan tegak.
Laki-laki itu mengulas senyum tipis. "Lain kali berhati-hatilah." Dia berucap dengan pelan, tetapi suaranya membuat Adel merasa takut.
__ADS_1
Dengan cepat Adel menganggukkan kepalanya dan bergegas pamit agar bisa cepat pergi dari tempat itu, tetapi langkahnya terhenti saat lelaki yang dia tabrak tadi kembali memanggilnya.
"Tunggu, kau siswa di sekolah ini 'kan?" tanya lelaki itu, membuat Adel terpaksa kembali melihat ke arahnya.
"Be-benar, Tuan," jawabnya dengan tergagap.
Lelaki itu lalu memperhatikan sekolah yang sudah tampak sunyi. "Apa masih ada siswa yang berada di sekolah?"
"Maaf, Tuan. Sepertinya semua siswa sudah pulang," jawab Adel kembali. Lama-lama rasa takutnya berubah jadi kesal karena laki-laki itu sepertinya akan kembali bertanya.
"Lalu-"
"Tuan Fathir?"
Laki-laki itu tidak dapat melanjutkan ucapannya saat ada seseorang yang memanggil, tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Adel yang langsung tancap gas untuk pergi dari tempat itu.
"Oh, Pak Komar," balas Fathir saat melihat siapa orang yang memanggilnya tadi.
"Apa Anda mau melihat sekolah, Tuan?" tanya Komar, pada donatur terbesar di sekolah swasta tersebut.
Fathir menggelengkan kepalanya. "Tidak. Saya hanya ingin menemui putra saya, tadi katanya dia masih berada di sekolah." Dia menjawab dengan datar.
"Putra Anda kemungkinan sudah pulang, Tuan. Karena sudah tidak ada lagi yang berada di sekolah," jawab Komar yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Fathir.
Fathir lalu pamit dan kembali masuk ke dalam mobilnya dengan menahan kesal. "Dasar anak kurang ajar. Awas saja dia."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.