
Ayun menatap Sherly dengan tajam setajam pertanyaan yang dia layangkan untuk wanita itu, membuat tatapan Sherly berubah nyalang.
"Aku pantas mendapatkan balasan darimu, Mbak. Aku pantas dibenci, aku pantas-"
"Tentu saja," potong Ayun dengan cepat. Dia lalu duduk di hadapan Sherly sambil bersedekap dada, sementara Sherly sendiri menunduk dengan sendu. "Kau memang pantas dibenci, Sherly. Itu sebabnya aku sangat membencimu, bahkan aku tersiksa hanya karena mendengar namamu." Dia menghela napas berat.
Tubuh Sherly kembali bergetar saat mendengar ucapan Ayun. Benar, dia memang pantas dibenci, dan tentu saja Ayun pasti sangat membencinya.
"Aku memang membencimu, tapi bukan berarti aku akan membalas semua perbuatan yang telah kau lakukan. Jika aku membalas, lalu apa bedanya aku dan dirimu?" ucap Ayun dengan sarkas membuat Sherly tertegun.
"Aku tidak ingin semakin menyiksa diriku sendiri hanya karna membalasmu, Sherly. Aku tidak ingin merendahkan harga diriku hanya untuk membalas wanita yang sudah merebut suamiku, dan mungkin saja suamiku memang pantas untuk direbut karena dia tidak lagi layak untuk menjadi pendamping hidupku. Tidak layak untuk menjadi kepala rumah tanggaku, dan tidak layak untuk menerima kasih sayangku," ucap Ayun dengan pelan, tetapi penuh dengan penekanan yang sukses menampar harga diri Sherly.
Sherly terdian nyalang menerima kata demi kata yang Ayun layangkan untuknya. Benar, semua yang wanita itu katakan adalah benar hingga membuatnya semakin meradang.
"Aku adalah seorang ibu dari dua anak yang sudah beranjak dewasa, aku harus memberikan contoh yang baik untuk mereka. Bukan hanya sekedar contoh, tapi aku ingin menunjukkan bahwa tidak perlu mengotori tangan kita sendiri untuk membalas perbuatan orang lain. Cukup menyerahkan semuanya pada Allah dan fokus saja untuk diri sendiri, itu adalah cara yang paling tepat untuk membalas perbuatan buruk orang lain."
Kata-kata yang Ayun lontarkan bak sebuah anak panah yang meluncur cepat menembus dada Sherly, hingga membuatnya terisak dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Bagaimana tidak, semua yang Ayun katakan adalah benar, dan kebenaran itu seakan menamparnya dari segala arah untuk menunjukkan bahwa dia adalah manusia yang sangat buruk.
Dia tidak pantas disebut sebagai seorang ibu karena sudah membuat anaknya sendiri menderita. Dia tidak pantas disebut sebagai wanita karena telah menghancurkan hidup wanita yang lain, dia bahkan tidak pantas disebut sebagai manusia karena telah merenggut kebahagiaan orang lain. Sungguh, dia sangat tidak pantas untuk apapun juga.
Ayun menatap Sherly dengan sendu. Sejujurnya dia tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang tajam dan pedas seperti itu, tetapi dia juga ingin melampiaskan semua emosi yang sejak dulu ditahan. Walaupun semua ini tidak sebanding dengan apa yang terjadi dulu.
Bohong namanya jika Ayun tidak membenci Sherly, bahkan dulu dia benar-benar berada di ambang keputus-asaan hanya karena wanita itu.
Namun, semuanya sudah berlalu. Ayun sudah berdamai dengan semua itu dan membuka lembaran baru. Ada terlalu banyak orang yang sangat dia sayangi dan menyayanginya, Ayun tidak mau menyia-nyiakan semua itu hanya karena kebencian yang sama sekali tidak ada manfaatnya, bahkan hanya akan menghambat kebahagiaannya saja.
"Aku tidak tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi denganmu sampai kau melakukan semua ini, Sherly. Tapi satu hal yang harus kau ketahui," sambung Ayun kemudian membuat Sherly menatap dengan wajah sembab luar biasa.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkanmu, aku sudah memaafkan apa yang terjadi di masa lalu. Semua itu kujadikan sebagai pelajaran dalam hidupku, dan menjadikanku sosok baru yang jauh lebih baik dan bahagia." Ayun menatap Sherly dengan senyum tipis dibibir indahnya.
"Aku harap kau juga seperti itu, Sherly. Jadikanlah kejadian di masa lalu sebagai pelajaran untuk tidak melakukan hal buruk pada siapapun lagi. Kau harus menyesalinya, dan harus memperbaiki diri agar tidak kembali melakukan kesalahan. Tidak semua orang mendapat kesempatan kedua, jadi manfaatkanlah kesempatan yang Allah berikan padamu ini," ucap Ayun kemudian.
Sherly termangu sambil menatap penuh luka dan penyesalan. Dia lalu mengangguk pelan dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Terima kasih, terima kasih karena sudah memaafkanku. Terima kasih." Hanya itulah kata-kata yang bisa Sherly ucapkan, sungguh dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa untuk meluapkan perasaan yang ada dalam hatinya.
Ayun mengangguk sambil tersenyum simpul. Tatapannya berubah menjadi lembut, dan dia berharap agar wanita yang ada di hadapannya saat ini diberikan yang terbaik oleh Allah.
"Ya Allah, terima kasih karena telah menjadikanku wanita yang kuat dan sabar. Terima kasih karna telah menghilangkan segala kebencian dan dendam dalam hati ini, sungguh hatiku terasa amat sangat lega, ya Allah." Ayun menghela napas penuh syukur atas semua pemberian Tuhan.
Setelah berbicara dengan Ayun, Sherly beranjak pamit dari tempat itu. Untuk sekali lagi dia mengucapkan maaf dan terima kasih pada wanita itu, wanita yang benar-benar berhati mulia.
"Aku, aku juga ingin mengucapkan banyak terima kasih pada Ezra. Dia sudah mau membantuku dan mengeluarkanku dari penjara, sungguh aku benar-benar sangat berterima kasih," ucap Sherly dengan pelan. Dia lalu keluar dari ruangan itu sambil menyeret kakinya yang terasa lemas.
Ayun tertegun saat mendengar ucapan Sherly. Dia sama sekali tidak tahu jika Ezra sudah membantu wanita itu, mungkinkah putranya sengaja untuk tidak mengatakan apa-apa padanya?
Tidak berselang lama, masuklah Alma ke dalam ruangan itu membuat Ayun beranjak dari sofa.
"Maaf karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama, Sayang," ucap Alma sambil berjalan menghampiri Ayun.
Ayun menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tante. Aku yang seharusnya bilang terima kasih karena Tante sudah meminjamkan ruangan ini." Dia merasa tidak enak hati.
Alma tersenyum sambil duduk di sofa yang ada di hadapan Ayun. "Tidak apa-apa, Ayun. Tante senang melakukannya, dan tante ingin minta maaf karena sudah menguping pembicaraanmu dan wanita itu. Baik saat dilorong tadi, dan juga di ruangan ini." Dia merasa bersalah.
Saat dilorong tadi, Alma benar-benar tidak sengaja melihat mereka saat akan menuju ruangan setelah selesai memeriksa keadaan pasien. Lalu, dia juga tidak sengaja mendengar percakapan Ayun dengan Sherly saat akan masuk ke dalam ruangannya beberapa saat yang lalu.
"Itu bukan suatu rahasia, jadi Tante tidak perlu meminta maaf," sahut Ayun.
__ADS_1
Alma menghela napas lega. Dia menatap Ayun dengan sangat bangga dan kagum, kekagumannya bahkan semakin bertambah setelah menguping pembicaraan mereka tadi.
"Oh yah, Ayun. Tumben kamu ke sini, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Alma kemudian.
Ayun mengangguk. "Aku datang karena ingin membicarakan sesuatu dengan Tante. Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita makan siang dulu? Aku sudah menyiapkan makan siang untuk Tante, Tante belum makan 'kan?"
Alma tertegun saat melihat kotak makanan yang ada di atas meja. "Wah, kenapa repot-repot seperti ini, Sayang?" Dia menatap dengan sungkan.
"Sama sekali tidak merepotkan, Tante. Ayo, Tante harus mencobanya!" Ayun membuka semua kotak makanan itu dan mempersilahkan Alma untuk menikmatinya.
Mereka berdua lalu menikmati makan siang itu sambil mengobrol ringan. Suasana terasa sangat hangat dan juga akrab, bahkan mereka terlihat seperti seorang ibu dan anak kandung.
Setelah selesai, Ayun kembali menata kotak bekal yang dia bawa tadi, sementara Alma membuatkan minuman dari mesin kopi otomatis yang ada di dalam ruangannya.
"Minumlah, Sayang," ucap Alma sambil memberikan segelas kopi.
Ayun mengangguk sambil menerima kopi pemberiang sang calon mertua. Dia meneguknya sedikit, lalu meletakkannya di atas meja.
"Begini, Tante. Kedatanganku ke sini karena ingin membahas tentang keadaan Fathir. Aku tadi sudah konsultasi dengan Dokter, dan Dokter bilang akan melakukan tahapan tingkat lanjut," ucap Ayun.
Alma mengangguk. "Yah, keadaan Fathir sudah jauh lebih baik. Mungkin waktunya sudah tepat untuk memasuki alam bawah sadarnya." Dia sudah paham dengan proses yang harus putranya lalui.
Ayun merasa lega karena Alma sudah sangat paham dengan semua ini. "Tapi ada hal lain yang akan kami lakukan, Tante. Kami, kami berniat untuk kembali mempertemukan Fathir dengan kakaknya."
"Apa?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.