
Kini, rangkaian penyelidikan dan kasus pencemaran nama baik yang David laporkan sedang berlangsung. Beberapa saksi yang ada di tempat kejadian mulai diperiksa oleh kepolisian, tentu saja mereka harus mengatakan semuanya dengan sejujur-jujurnya.
Evan sendiri sudah merasa khawatir dan cemas. Bagaimana jika dia dipenjara karena kasus itu? Tidak, dia tidak bisa membiarkan semua itu terjadi. Lebih baik dia menggantinya dengan pidana denda, tetapi dari mana dia dapat yang sebanyak itu?
"Aargh, sia*l sia*l sia*l!" umpat Evan dengan kesal. Semua benda yang ada di atas meja sudah berserakan di lantai, dia bahkan sudah sehari tidak pulang ke rumah karena enggan bertemu dengan Sherly.
"Benar, semua ini gara-gara wanita sia*lan itu!" gumam Evan dengan kesal. Ingin sekali dia melampiaskan semuanya dan mengusir wanita itu dari hidupnya, tetapi bagaimana dengan Suci?
Lagi-lagi emosinya runtuh saat memikirkan nasib putrinya yang masih berumur 3 tahun itu. Andai dia tidak selingkuh, semua pasti tidak akan hancur seperti ini.
Semua kata andai menari-nari dalam pikiran Evan. Namun, semua itu tidak bisa diulang dan sekarang dia harus merasakan akibatnya.
Tiba-tiba, dia teringat dengan Adel dan juga Ezra. Saat ini dia sedang merasa kalut akan perasaan dan emosinya tentang Sherly juga Suci. Dia merasa bingung dan tidak tahu harus melakukan apa, ingin membuang Sherly tetapi tidak tega dengan Suci. Lalu, bagaimana dengan Adel dan Ezra dulu saat dia melepaskan Ayun?
Dada Evan terasa sesak dan sakit saat terpikirkan tentang hal itu. Namun, kenapa baru sekarang dia memikirkan perasaan mereka?
"Ti-tidak, mereka berbeda. Mereka sudah dewasa, sementara Suci masih sangat kecil," gumam Evan, menampik segala pikiran yang memenuhi kepalanya.
Namun, entah kenapa saat ini dia malah sangat kepikiran dengan Adel dan juga Ezra. Tangisan, serta amarah yang mereka berikan padanya tampak menari-nari dipelupuk mata, seolah menamparnya dengan keras agar tersadar.
Beberapa air mata lolos dari sudut mata Evan dengan rasa sakit yang coba dia tahan. "Adel, Ezra. Maaf, maafkan ayah." Dia bergumam dengan lirih, mengingat apa yang sudah dia lakukan pada kedua anaknya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Sherly sedang mondar-mandir di dalam kamar. Dia merasa cemas dengan kasus yang sedang menimpa Evan, apalagi tidak ada niat berdamai sedikit pun dari David.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Sherly sambil menggigiti kuku-kuku jari tangannya.
Sherly sadar bahwa semua ini karena ulahnya, jadi dia harus segera mencari jalan keluar sebelum dibuang oleh Evan yang bahkan tidak pulang ke rumah dari semalam.
Sherly lalu mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel sang ibu. Beberapa hari yang lalu, dia berhasil menemukan ibunya yang tinggal di sebuah kontrakan.
__ADS_1
Awalnya sang ibu menolak untuk bertemu dengannya dan marah besar, tetapi setelah dia memohon. Akhirnya ibunya mau juga untuk bertemu dan menceritakan apa yang terjadi waktu itu.
"Halo, Bu," ucap Sherly saat panggilan teleponnya sudah diangkat oleh sang ibu.
"Ada apa?" tanya Sella di sebrang telepon. Saat ini dia sedang berada di tempat kerja.
Setelah diusir oleh Evan, Sella berjalan menyusuri jalanan dengan bingung. Dia tidak tahu harus pergi ke mana, karena memang tidak punya keluarga selain Sherly. Dia berusaha menghubungi semua teman-temannya, tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang mau menolong sejak dia bercerai dengan Abbas.
Untungnya, ada seorang wanita yang menolong pada saat dia akan tertabrak mobil. Setelahnya, dia meminta bantuan wanita itu agar memberinya pekerjaan atau tempat tinggal. Hasilnya, dia dipekerjakan di butik wanita itu sebagai pelayan. Lumayanlah dari pada tidak punya uang dan hidup dijalanan.
"Aku, aku butuh uang, Ma. Apa Mama ada?" tanya Sherly.
"Apa, uang?" Sella memekik dengan kuat. "Sudah syukur mama masih bisa hidup setelah diusir oleh suamimu itu, tapi sekarang kau malah minta uang." Dia berucap dengan kesal.
Sherly menghela napas kasar. Saat ini dia sama sekali tidak memegang uang, ingin minta dengan Evan pun tidak punya keberanian.
Sherly lalu menceritakan semuanya pada sang ibu tentang apa yang terjadi, yang langsung ditanggapi dengan tertawaan dan ejekan dari ibunya.
"Itu adalah karma karena udah ngusir mama, rasakan," ucapnya dengan sarkas.
Sherly tidak bisa membantah ucapan sang mama, karena saat ini dia sangat membutuhkan bantuan dari mamanya itu.
"Baiklah, terserah mama mau berkata apa. Jika mama tidak bisa ngasi uang, kalau gitu kasi aku pekerjaan. Aku membutuhkannya," pinta Sherly.
Sella diam sejenak, lalu menyuruh agar Sherly besok datang ke tempat kerjanya dan meminta pekerjaan secara langsung dengan majikannya.
Pada saat yang sama, di kamar lain terlihat Mery dan Endri sedang membicarakan masalah serius yang membuat mereka saling bersitegang.
"Pokoknya aku sudah tidak tahan tinggal bersama dengan wanita itu," ucap Mery. "Jika dia tidak mau keluar dari rumah ini, biar aku yang keluar." Dia memberi ancaman.
__ADS_1
Endri hanya diam sambil menatap sang istri. Bukan dia yang membawa Sherly tinggal di rumah ini, lalu kenapa dia yang harus terkena amarah?
"Katakan itu pada putramu, tapi sekarang dia sedang ditimpa masalah. Seharusnya kau menahan diri," balas Endri.
Mery berdecak kesal saat mendengarnya. "Semua masalah datang karena wanita murahan itu, jadi seharusnya dia segera pergi dari rumah ini."
"Sudahlah, tenangkan dirimu. Kalau kau memang mau kayak gitu, setidaknya tunggu sampai masalah Evan selesai. Setelah itu, terserah kau mau melakukan apa," ucap Endri sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Mery menghela napas kasar. Bukannya dia tidak memikirkan Evan, tetapi dia melakukan semua itu juga demi sang putra. Untuk apa mempertahankan wanita yang hanya bisa membuat masalah? Wanita itu bahkan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, dan malah mempekerjakan pembantu.
*
*
Setelah melewati berbagai macam penyelidikan, hari ini saatnya sidang tentang kasus pencemaran nama baik antara David dan Evan akan dilakukan. Hanya ada satu sidang yang dilaksanakan, karena memang kasusnya sudah jelas.
Evan duduk dengan didampingi oleh pengacara dan keluarganya, begitu juga dengan David. Tampak Bram juga hadir dalam sidang tersebut, untuk melihat rencana mereka berjalan dengan sempurna.
Hakim segera membuka persidangan itu dengan pembacaan gugatan, juga pihak-pihak yang terkait dalam kasus tersebut. Berbagai bukti juga langsung ditunjukkan, begitu juga dengan saksi yang sudah diperiksa waktu itu.
"Pihak pengadilan sudah mengambil keputusan, bahwasannya saudara Evan Deandra dinyatakan bersalah dan dikenakan pasal 317 KUHP tentang pengaduan dan fitnah terhadap saudara David Riando."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1