
Sherly dan Sella tersentak kaget saat mendengar ucapan Aksa, bagaimana mungkin berkas seperti itu bernilai satu milyar?
"Si*alan." Sherly mengumpat kesal dalam hati. Pantas saja wanita brengs*ek itu menginginkan berkas Evan bahkan sampai mengancamnya, ternyata berkas itu sangat penting bahkan sampai bernilai satu milyar. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?
Sella menatap Sherly dengan tajam, dia merutuki keputusan bod*oh wanita itu yang telah memberikan berkas mahal pada wanita lain. Lalu, bagaimana nasib mereka jika polisi atau pun Evan mengetahuinya?
Sherly yang akan kembali bicara terpaksa mengurungkan niatnya karena pengacara Evan sudah mengajak mereka untuk masuk ke kantor polisi, dia dan mamanya saling pandang dengan cemas dan terpaksa ikut masuk ke dalam tempat itu.
Ayun dan kedua anaknya sudah duduk tenang di ruang tunggu untuk menunggu giliran, karena saat ini masih ada David yang kembali menjalani pemeriksaan di temani oleh seorang pengacara yang merupakan teman Bram.
Evan kemudian menghadap ke salah satu polisi untuk bertanya sudah bagaimana penyelidikannya, karena mereka juga sudah memeriksa sidik jari yang ada diruang kerjanya.
Sherly dan Sella juga duduk di ruangan yang sama dengan Ayun. Mereka yang tadinya mencibir dan menantang, kini tampak diam seperti kucing tersiram air.
Ezra terus menatap Sherly dengan tajam. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan melihat beberapa foto yang sudah dia ambil waktu itu.
"Kalau memang foto-foto ini berkaitan dengan hilangnya berkas kantor, kira-kira kapan waktu yang tepat untuk menunjukkannya, ya? Haruskan aku menunjukkannya dulu pada ayah? Dia pasti akan sangat syok sekali saat mengetahuinya." Ezra tersenyum sinis. Dia penasaran reaksi apa yang akan ayahnya berikan, itu pun jika apa yang dia temukan saling berkaitan dengan kasus ini.
Ayun sendiri terdiam dengan pikiran bercabang ke mana-mana. Di satu sisi dia memikirkan keadaan sang ibu, tetapi disisi lain juga memikirkan bagaimana masa depan kedua hatinya karena sampai saat ini dia belum bekerja.
Beberapa saat kemudian, David keluar dari ruang pemeriksaan membuat semua orang yang ada di sana menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
David lalu menghampiri Ayun yang saat ini menatapnya dengan khawatir, juga kedua anak wanita itu yang juga menatapnya dengan penasaran.
"Ibuk sudah sampai dari tadi?" tanya David dengan ramah.
"Baru saja, Vid. Apa semua berjalan lancar?" Ayun bertanya dengan khawatir, entah kenapa hatinya sangat yakin jika bukan laki-laki itu yang mengambil berkas milik Evan.
David menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Buk. Walau aku dituduh dan difitnah dengan kejam, tapi Tuhan dan juga kebenaran tidak akan salah jalan." Dia berucap dengan tajam sambil melirik ke arah Sherly, membuat wanita itu menelan salive dengan kasar.
Ezra sendiri bertanya-tanya dengan arti tatapan David pada Sherly, mungkinkah laki-laki itu mengetahui sesuatu?
"Ba-bagaimana ini, Ma? Aku, aku takut sekali," bisik Sherly. Dia yang tadi sudah tenang dan bisa mengendalikan diri, kini kembali bergetar takut.
"Tenangkan dirimu, Sherly. Kalau kau seperti ini terus tamatlah riwayat kita!" Lirih Sella dengan tajam. Bukan hanya putrinya saja nanti yang akan dipenjara, tetapi dia juga.
Kemudian Ayun di panggil masuk ke ruang pemeriksaan bersama dengan Adel karena gadis itu masih di bawah umur 16 tahun, juga belum paham dengan kasus yang menyeret namanya saat ini.
Ayun dan Adel ditanya dengan 10 macam pertanyaan yang berkaitan dengan keberadaan mereka di kantor Evan, juga pengetahuan mereka tentang berkas itu apalagi Ayun masih menjadi istri sah Evan.
Hampir 40 menit mereka berada di dalam ruangan itu, tentu saja Ayun dan Adel menjawab dengan sejujur mungkin karena tidak ada yang disembunyikan.
Setelah selesai, kemudian Sherly dan Sella bergantian masuk ke dalam ruangan dan mendapatkan pertanyaan yang sama. Sherly yang merasa takut dan gugup mencoba menjawab semua pertanyaan dengan tenang, karena jika dia panik sedikit saja maka pihak kepolisian pasti akan langsung curiga.
__ADS_1
"Jadi, Anda mengatakan jika pernah mendengar berkas itu dari tuan Evan. Sebenarnya ada hubungan apa Anda dengan beliau? Sepertinya Anda lebih banyak tahu dari pada istrinya walaupun saat ini mereka dalam proses perceraian."
Glek.
Sherly menelan salivenya dengan kasar saat mendengar pertanyaan polisi itu, si*alnya dia tidak sengaja bilang bahwa pernah mendengar tentang berkas itu dari Evan.
"Sa-saya, saya istri kedua Evan," jawab Sherly, dia terpaksa jujur karena takut jawabannya dan Evan akan berbeda jika ditanya nanti.
Polisi itu mengangguk paham. Sepertinya mereka menikah siri, itu sebabnya tidak terdaftar dalam dokumen negara. Kemudian dia menyuruh Sherly untuk keluar, dan selanjutnya giliran Ezra yang masuk ke dalam ruangan itu.
Sama seperti yang lain, Ezra juga menjawab semuanya dengan jujur dan mengatakan jika tidak tahu-menahu tentang apa yang hilang dari ruangan sang ayah.
"Baiklah, Anda boleh keluar sekarang. Tapi jangan bepergian jauh karena mungkin saja masih ada pertanyaan lain yang ingin kami tanyakan," ucap Polisi itu membuat Ezra mengangguk.
Namun, sebelum pergi dia mengeluarkan ponselnya dan meletakkan benda pipih itu di atas meja membuat polisi itu menatap bingung.
"Saya memang tidak tahu apapun tentang apa yang hilang, tapi saya punya sesuatu untuk Anda. Saya harap apa yang saya berikan ini bisa membantu proses penyelidikan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.