Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 85. Bertanggung Jawablah.


__ADS_3

Hasna terdiam saat mendengar ocehan dari kedua putrinya. Namun, benar juga apa yang mereka katakan jika dia harus menjamu tamu dengan baik. Apalagi selama ini Abbas sudah sangat banyak membantunya.


"Ya sudah, ibu akan siapkan makan malam untuknya nanti. Sekalian beri tahu Angga supaya pulang cepat, biar kita bisa makan bersama," ucap Hasna kemudian.


Ayun dan Yuni saling pandang saat mendengar ucapan sang ibu, seolah sedang berkata mana mungkin mereka akan merusak momen yang sengaja mereka ciptakan.


"Em ... sepertinya mas Angga lembur, Bu. Tapi nanti akan aku telpon dulu," sahut Yuni dengan senyum penuh makna.


Hasna mengangguk lalu beranjak dari tempat itu untuk memeriksa bahan makanan, karena dia belum tahu akan menyiapkan menu apa untuk makan malam mereka nanti.


Pada saat yang sama, Nindi dan Keanu sudah berada di depan ruangan yang di tempati oleh Sherly. Dokter memperbolehkan mereka untuk masuk, tetapi harus cepat memanggil petugas medis jika Sherly kembali terkena serangan panik.


"Assalamu'alaikum, Sherly."


Sherly yang sedang melihat ke luar jendela langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara seseorang. Seketika kedua matanya terbelalak lebar saat melihat keberadaan Nindi dan juga Keanu.


"Ka-kakak?" ucap Sherly dengan gemetar. Dia segera mendekati Nindi yang berdiri di dekat ranjang.


Nindi menatap Sherly dengan tatapan iba. Bagaimana tidak, wanita yang dulunya selalu tampil cantik dan modis kini tampak berantakan dengan wajah sembab. Bahkan Sherly juga tampak kurus.


"Ka-kakak di sini?"


Lamunan Nindi terhenti saat Sherly sudah berdiri tepat di hadapannya dengan kedua tangan saling bertautan.


"Apa yang terjadi padamu, Sherly? Kenapa Suci bisa sampai seperti ini?" tanya Nindi dengan lirih. Emosi yang ada dalam hatinya seketika surut karena melihat kondisi Sherly.


Sherly menunduk dengan terisak. Tidak tahu sudah berapa banyak air mata yang dia jatuhkan karena tidak tahan dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Ini salahku, Kak. Semua ini salahku, hiks." Hanya itulah kata-kata yang bisa dia ucapkan.


Nindi terdiam dan tidak tahu ingin berkata apalagi. Ingin marah pun tidak mungkin dia lakukan saat melihat kondisi Sherly benar-benar menyedihkan.


"Kalau kau memang merasa bersalah maka menyesallah, lalu perbaiki semua masalah yang sudah kau buat. Jika kau lemah dan hanya bisa menangis seperti ini, maka kau hanya semakin membuat orang lain menderita. Terutama anakmu sendiri."


Bruk.


Tubuh Sherly langsung terjatuh ke lantai dengan kuat membuat Nindi dan Keanu terlonjak kaget.

__ADS_1


"A-ada apa Sherly?" tanya Nindi dengan khawatir, kemudian dia menyuruh sang suami untuk segera memanggil dokter.


"Maaf, Kak. Maafkan aku. Aku, aku benar-benar wanita yang jahat, aku, aku juga ibu yang jahat untuk Suci. Huhuhu."


Keanu yang sudah berjalan ke pintu menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Sherly, sementara Nindi tampak diam dengan air mata yang mulai membasahi wajah.


"Aku sudah menyakiti dan menghancurkan orang lain, karena aku semua ini terjadi dan anakku, anakku-" Sherly tidak dapat melanjutkan ucapannya karena tidak sanggup untuk mengatakan bagaimana keadaan Suci saat ini.


Nindi tampak ragu untuk menyentuh bahu Sherly yang sedang menangis tersedu-sedu, tetapi demi rasa kemanusiaan yang ada dalam hatinya dia mengusap bahu wanita itu dengan lembut.


"Benar, semua ini adalah kesalahanmu dan kau harus mempertanggung jawabkannya," ucap Nindi.


Dengan perlahan Sherly mendongakkan kepalanya dan menatap Nindi dengan sendu. Ingin sekali dia memeluk wanita itu, tetapi dia sadar jika tidak pantas untuk melakukannya.


"Bertanggung jawablah dengan memperbaiki semuanya, Sherly. Terutama Suci, apa kau tidak kasihan melihat putri kecilmu itu?" tanya Nindi dengan tajam.


Sherly mengangguk dengan terisak, tentu saja dia sangat memikirkan kondisi putrinya itu. Apalagi dia tidak diperbolehkan untuk melihat keadaan Suci.


"Kalau gitu bangunlah. Kuatkan mentalmu demi mental putrimu yang sudah kau hancurkan, lalu minta maaflah pada semua orang yang sudah kau sakiti," sambung Nindi kemudian.


Sherly kembali menganggukkan kepalanya. Benar, apa yang kakaknya katakan memang benar. Dia sudah membuat masalah sebesar ini, jadi dia sendirilah yang harus menyelesaikan semuanya.


"Kami permisi, Sherly. Aku harap semuanya akan cepat membaik dan aku juga berdo'a semoga Suci baik-baik saja," ucap Nindi yang dijawab dengan anggukan kepala Sherly.


"Te-terima kasih Kak, terima kasih banyak." Lirih Sherly dengan kepala tertunduk.


Nindi menghela napas kasar sambil melangkah keluar dari ruangan itu, dan diikuti oleh Keanu yang hanya memilih diam karena malas mengeluarkan suaranya.


"Mas," panggil Nindi sambil merangkul lengan sang suami membuat Keanu menoleh ke arahnya. "Makasih yah udah antar aku ke sini, dan maaf kalau semalam aku udah marah-marah sama Mas." Dia menatap suaminya dengan sendu.


Keanu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Sekarang kau sudah melihat mereka bukan? Lalu, apa yang akan kau lakukan?"


Nindi terdiam saat mendengar pertanyaan dari sang suami. Dia tidak tahu harus melakukan apa, tetapi sebenarnya dia juga tidak harus melakukan apapun untuk mereka.


"Aku tidak ingin membuat keluarga mbak Ayun kecewa, Mas. Mungkin mbak Ayun akan mengerti, tapi tidak untuk Ezra dan Adel. Biar bagaimana pun, kejadian di masa lalu sangat membuat mereka menderita. Mungkin untuk saat ini aku hanya akan mengawasi pengobatan Suci," ucap Nindi.


Keanu mengangguk paham. Memang benar jika saat ini mereka tidak boleh bertindak gegabah atau akan menyakiti pihak lain, apalagi masalah ini sangat sensitif sekali.

__ADS_1


Sebenarnya Keanu sama sekali tidak peduli. Mau mereka semua tiada pun raut wajahnya tidak akan berubah, karena mereka memang tidak sepenting itu baginya.


***


Malam harinya, setelah semua persiapan selesai, Ayun dan kedua anaknya berangkat menuju rumah Fathir sambil membawa buah tangan yang sudah disiapkan.


Sebelum pergi, mereka berpamitan pada yang lainnya terutama Hasna. Tidak lupa godaan yang Ayun berikan tentang makan malam ibunya dengan sang papa nanti, yang jelas saja membuat sang ibu menjadi malu.


Begitu mereka pergi, sebuah mobil mewah berwarna hitam tampak memasuki gerbang rumah Ayun. Mobil Bugatti Chiron super sport seharga puluhan milyar itu tampak mengkilap karena terkena pancaran sinar lampu.


Dengan perlahan, Abbas keluar dari mobil mewah miliknya itu yang baru saja dibeli 2 bulan yang lalu. Namun, baru kali ini dia berkesempatan untuk menaikinya.


Abbas lalu berjalan mendekati rumah dan segera menekan bel rumah itu sambil membawa sekotak cake dengan selai strowberry kesukaan Hasna. Tidak berselang lama pintu rumah itu terbuka dan menampakkan wanita yang ingin dia temui.


"Anda sudah datang? Silahkan masuk," ucap Hasna sambil mempersilahkan Abbas untuk masuk ke dalam rumah.


Abbas menganggukkan kepala dengan senyum lebar yang sejak tadi menghiasi wajahnya. "Ini, aku membelinya saat perjalanan ke sini. Kau masih menyukai cake dengan selai strowberry kan?" Dia memberikan sekotak cake yang sejak tadi dipegang.


"Wah, terima kasih banyak, Tu- eh Mas," ucap Hasna dengan sungkan. Lidahnya belum terbiasa memanggil dengan sebutan seperti itu.


Abbas tergelak melihat kecanggungan diwajah Hasna, dan entah kenapa dia juga merasa lucu karena posisinya saat ini seperti sedang datang menemui sang kekasih.


"Silahkan duduk, Mas."


Abbas mendudukkan tubuhnya ke sofa yang ada di ruang tamu, begitu juga dengan Hasna yang ikut duduk sambil meletakkan cake itu ke atas meja.


"Ke mana anak-anak, Hasna? Kenapa di rumah sepi sekali?" tanya Abbas dengan bingung. Biasanya dia akan langsung mendengar teriakan Adel saat datang ke rumah ini.


Hasna lalu mengatakan jika Ayun dan kedua cucunya pergi ke rumah Fathir untuk memenuhi undangan makan malam, sementara Yuni dan yang lainnya masih berada di kamar.


Abbas menganggukkan kepalanya walau tampak terkejut saat mendengar jika Ayun dan kedua cucunya makan malam di rumah Fathir, jelas dia tahu jika laki-laki itu sedang bergerak maju.


"Ternyata pergerakanmu cepat juga ya, Fathir. Tapi lihat saja, kau tidak boleh mendahuluiku nanti."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2