
Abbas benar-benar merasa murka. Sudah jelas jika bar itu adalah milik Rian yang sudah dengan kejamnya mengeksploit*asi para anak-anak di bawah umur.
"Tenang, Pa. Kita tidak boleh bertindak gegabah atau semua malah akan kacau," seru Keanu sambil berusaha menanangkan sang mertua.
"Itu benar Tu- eh Pa," sambung Fathir yang merasa kaku memanggil Abbas dengan sebutan papa. "Jika sekarang kita bergerak, kita tidak akan bisa membongkar semua kejahatan laki-laki itu. Apalagi kita belum punya banyak bukti."
Abbas mengusap wajahnya dengan kasar. Entah sampai kapan dia harus menahan diri, karena jika semakin lama, maka penderitaan anak-anak itu juga akan semakin berkepanjangan.
"Kami mengerti bagaimana perasaan Papa, tapi kumohon bersabarlah. Hanya tinggal sedikit lagi kita bisa membongkar semuanya," ucap Keanu kembali.
Abbas yang semula berdiri kini sudah kembali duduk sambil menghela napas kasar. "Baiklah, papa mengerti. Maaf karena sudah terbawa emosi."
Keanu dan Fathir mengangguk paham. Jangankan Abbas, mereka sendiri juga sejak tadi berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak terbakar oleh amarah.
Sementara itu, Alden masih bersama dengan Leo dan laki-laki itu menanyakan identitasnya karena memang belum pernah datang ke bar itu.
"Aku berasal dari kora sebelah, aku datang ke tempat ini untuk mengurus pekerjaan. Karena merasa lelah dan bosan, aku jadi datang ke sini," ucap Alden.
Leo mengangguk-anggukkan kepalanya. Pantas saja dia belum pernah melihat Alden di bar ini, tetapi entah kenapa wajah laki-laki itu terasa sangat tidak asing sekali.
"Minggir, aku tidak suka kau menyentuh tubuhku!" ucap Alden kembali saat wanita-wanita yang ada di samping kanan dan kirinya mencoba untuk menggoda.
"Ada apa, Tuan? Apa Anda tidak senang dengan mereka?" tanya Leo.
Alden berdecih. Dia lalu mengatakan jika tidak suka dengan wanita-wanita murahan seperti mereka, apalagi sudah dipakai sana sini seperti asbak rokong yang menampung banyak batang.
"Aku tidak suka. Aku ingin mencari kesenangan yang lain," ucap Alden kemudian. Berikan penghargaan padanya karena sudah berakting dengan baik.
Leo terdiam. Dia sedang memikirkan sesuatu apakah harus memberi penawaran pada laki-laki itu atau tidak. Apalagi dia baru mengenalnya, sudah pasti resikonya terlalu besar.
"Ku dengar Nico juga sering datang ke sini, itu sebabnya aku juga datang sesuai saran darinya. Tapi ternyata tempat ini sama saja, hanya berisi para sampah," sambung Alden, mencoba untuk memancing laki-laki itu.
"Maaf, Anda mengenal tuan Nico?" tanya Leo.
"Tentu saja. Aku banyak mengambil barang darinya, lalu kembali mengedarkannya," sahut Alden, dia yakin jika sekarang Leo sudah terpancing.
Mendengar ucapan Alden, Leo merasa lega karena ternyata laki-laki itu berhubungan dengan Nico. Jika seperti itu, maka dia tidak perlu khawatir jika nantinya Alden memberitahu orang-orang tentang apa yang sebenarnya ada dalam bar itu.
__ADS_1
"Apa Anda ingin mendengar tawaran menarik dari saya?" tanya Leo.
Alden kembali menyeringai, tetapi tetap bersikap biasa saja. "Tawaran apa maksudmu?" Dia bertanya dengan tajam. "Apa kau ingin menawarkan nark*oba padaku?"
Dengan cepat Leo menggelengkan kepalanya. Dia lalu menyuruh wanita-wanita yang ada di tempat itu untuk pergi.
"Kami punya barang yang sangat bagus, saya yakin Anda tidak akan kecewa dan jijik seperti saat bersama dengan kedua wanita tadi," ucap Leo.
Alden pura-pura memasang wajah bingung dan tidak mengerti dengan apa yang Leo katakan. "Sebenarnya apa maksudmu?"
Leo lalu mengatakan jika bar ini menyediakan layanan istimewa untuk para tamu penting. "Ada banyak gadis yang bisa kami berikan. Anda hanya tinggal menyebutkan kriteria Anda saja."
"Cih." Alden berdecih. "Sudah aku katakan kalau aku tidak ingin-"
"Mereka bukan barang bekas, dan mereka semua masih perawan. Saya bisa pastikan bahwa Andalah orang pertama yang menyentuh tubuh ranum mereka," potong Leo dengan cepat. Dia lalu menyebutkan semua jenis gadis yang mereka sediakan, dan rata-rata umur para gadis itu di bawah rata-rata dewasa.
"Anda hanya tinggal menyebutkannya saja, maka kami akan langsung mengantarnya ke kamar Anda. Bisa Anda bayangkan bukan, betapa nikmat dan mengg*airahkannya mereka?" ucap Leo.
Kedua tangan Alden yang ada di bawah meja mengepal kuat mendengar ucapan laki-laki biad*ab itu, begitu juga dengan Keanu dan yang lainnya yang tentu saja mendengar semua perkataan Leo.
Leo menggelengkan kepalanya, lalu kembali meyakainkan Alden bahwa apa yang dia katakan adalah benar. Namun, semua orang harus membayar sangat mahal jika ingin menikmati tubuh gadis-gadis itu.
"Baiklah. Kalau gitu tunjukkan mereka semua ke hadapanku, karena aku ingin memilih mereka secara langsung," pinta Alden.
Leo terdiam. Dia tidak mungkin membawa Alden ke tempat di mana gadis-gadis itu berada, dan tidak mungkin juga membawa mereka semua ke tempat ini.
"Maaf, Tuan. Kami hanya bisa mengantar satu atau beberapa orang saja sesuai dengan permintaan Anda. Tapi Anda tidak perlu khawatir, kami akan memberikan yang sesuai dengan keinginan Anda."
Alden langsung menolak. Dia tetap ingin memilih para gadis itu secara langsung, dia bahkan memberikan penawaran yang sangat besar pada Leo.
"Aku akan membayar satu milyar untuk satu gadis, tapi aku ingin memilihnya sendiri secara langsung," ucap Alden.
Leo terkesiap mendengar jumlah uang yang Alden tawarkan. Biasanya dia akan memberikan harga sekitar 200 sampai 500 juta untuk satu gadis, tetapi laki-laki itu malah memberikan bayaran dua kali lipat.
"Jika kau tidak mau, maka aku juga tidak berminat!" Sambung Alden dengan penuh penekanan.
Setelah berpikir panjang, akhirnya Leo setuju dengan permintaan Alden. Namun, dengan syarat bahwa laki-laki itu harus lebih dulu mengirim uangnya dan melakukan sebuah perjanjian.
__ADS_1
"Baiklah, terserah kau saja," ucap Alden.
Leo lalu membawa Alden ke suatu tempat untuk membuat perjanjian tentang kerahasiaan penawaran itu, sementara Alden sendiri langsung memberi kode pada anak buahnya untuk menjalankan rencana selanjutnya, yaitu memeriksa ada berapa banyak anak buah Rian di tempat ini.
Alden dibawa melewati lorong yang ada di dalam bar itu, lalu mereka berhenti di depan sebuah dinding kosong yang ada di ujung lorong tersebut.
"Tanda tanganilah perjanjian ini, setelah itu saya akan membawa Anda menemui gadis-gadis itu," ucap Leo.
Alden mengangguk. Dia lalu membaca isi perjanjian itu yang menyatakan bahwa harus membayar denda sebesar 10 milyar jika membocorkan tentang semua ini.
Tanpa pikir panjang, Alden langsung menandatanganinya. Tidak lupa mengirim uang sebesar 1 milyar pada Leo.
Leo tersenyum puas. Dia lalu meletakkan tangan kanannya di dinding kosong itu, lalu secara tiba-tiba dinding itu terbuka dan menampakkan sebuah tangga menuju ruang bawah tanah.
"Ikuti saya, Tuan," ucap Leo.
Alden mengangguk paham. Dia lalu mengikuti langkah laki-laki itu untuk menuruni tangga menuju ruang bawah tanah, dan bisa dipastikan bahwa para gadis itu berada di tempat tersebut.
Kedua mata Alden membelalak lebar saat melihat apa yang ada di hadapannya. Terlihat ada puluhan gadis yang berada di tempat itu, dan terkurung di ruangan yang terlihat seperti penjara.
Bukan hanya itu saja, dia bahkan melihat ada seorang pria yang sedang berhubungan int*im dengan seorang gadis di sudut ruangan itu, tanpa peduli jika ada banyak orang di tempat itu.
Keanu, Fathir, dan juga Abbas tampak sangat murka saat melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka. Terlihat ada beberapa ruangan di tempat itu yang berisi para gadis, bahkan gadis-gadis itu masih sangat muda.
Alden terus berjalan mengikuti Leo sambil memperhatikan gadis-gadis itu. Wajah mereka tampak pucat dengan tubuh gemetaran. Terlihat jelas ketakutan dari sorot mata mereka, tetapi sepertinya mereka tidak berani bersuara karena melihat keberadaan Leo.
"Silahkan, Tuan. Anda bisa masuk ke dalam dan memilih mereka secara langsung, semua gadis terbaik ada di dalam ruangan ini," ucap Leo sambil membuka ruangan yang ada di hadapannya, terlihat ada tujuh gadis yang ada dalam ruangan itu.
Mata Alden berkilat penuh emosi saat melihat apa yang ada di hadapannya. "Aku bersumpah akan menyiksa kalian dan membunuh kalian semua dengan tanganku sendiri."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1