Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 46. Urus Diri Masing-masing.


__ADS_3

Evan mengepalkan kedua tangannya dengan geram, dia lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju kamarnya karena sudah sangat terlambat.


Ayun melirik Evan melalui ekor matanya. Tampak senyum tipis tercetak dibibirnya, lalu kembali menikmati sarapan tanpa mempedulikan apa yang laki-laki itu lakukan.


Setelah selesai sarapan, seperti biasa Ayun membereskan piring dan gelas bekas makan semua orang ke westafel. Dia lalu mengatakan pada Adel agar menunggunya sebentar karena dia juga ingin ikut pergi.


Ayun lalu berjalan ke arah westafel dan mencuci semua peralatan makan mereka. Lalu, dia menatap ke arah makanan yang masih ada di atas piring. Tanpa pikir panjang, dia membungkus makanan itu dan akan memberikannya pada supir dari pada dimakan oleh makhluk yang saat ini ada di dalam kamar.


"Kau pasti akan sarapan bersama dengan wanita itu, 'kan? Jadi biar makanan ini untuk pak Tohir aja," gumam Ayun dan segera beranjak dari dapur untuk segera pergi bersama dengan Adel.


Ayun dan Adel lalu masuk ke dalam mobil yang biasa mengantar jemputnya sekolah, sementara Ezra sudah pergi dengan menggunakan motornya ke kampus.


Evan yang sudah selesai bersiap segera berjalan cepat ke dapur untuk sarapan. Dia yang terbiasa sarapan pagi pasti akan sakit perut jika tidak makan walau sedikit saja.


"Apa-apaan ini?" pekik Evan dengan emosi. Dadanya mamanas saat tidak ada apapun di atas meja. Jangankan makanan, bahkan minum saja pun tidak tersedia di tempat itu.


"Kau benar-benar keterlaluan, Ayun. Kau pikir bisa memperlakukan aku seperti ini!" Dia mengepalkan kedua tangannya sampai bergetar. Lalu segera pergi dari tempat itu menuju kantor.


Sementara itu, Ayun yang sudah sampai di sekolah Adel bergegas untuk turun dan mengantar putrinya sampai ke gerbang sekolah.


"Nanti siang tunggu di sini aja ya, Ibu akan datang untuk menjemputmu. Setelah itu kita belanja, oke?"


Adel langsung tersenyum lebar saat mendengarnya. "Apa aku boleh beli baju yang tadi malam, Bu?" Matanya berbinar-binar.


"Tentu saja, Sayang. Belilah apapun yang kau inginkan, nanti kita ajak kak Ezra juga. Yaudah sana masuk," ucap Ayun sambil mengusap puncak kepala sang putri.


"Yeay. Aku sayang Ibu," ucap Adel sambil memeluk tubuh Ayun dengan erat.


"Ibu juga sayang padamu, Sayang."

__ADS_1


Kemudian Adel menyalim tangan sang ibu dan berlari masuk ke dalam sekolah. Dia benar-benar senang saat mendengar ucapan sang ibu, dan berbagai macam barang yang ingin dia beli langsung terbayang-bayang dalam kepalanya.


Ayun tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya. Untuk saat ini dia hanya bisa menggunakan uang suaminya untuk memberikan barang-barang anak-anaknya, tetapi di masa depan nanti dia akan berjuang agar bisa membelikan mereka dengan uangnya sendiri.


Ayun lalu kembali masuk ke dalam mobil dan meminta Pak Tohir untuk mengantarnya ke suatu tempat, hari ini dia juga ada janji dengan seseorang untuk membahas tentang apa yang akan dia lakukan nanti.


Setelah sampai di tempat tujuan, Ayun segera memberikan uang sebesar seratus ribu untuk pak Tohir agar bisa menunggunya sambil ngopi dan tidak hanya di dalam mobil.


"Tidak perlu, Buk. 'Kan tadi Ibuk udah kasi makanan untuk saya, jadi saya makan itu aja," tolak Tohir secara halus, dia merasa tidak enak hati dengan istri dari majikannya itu.


"Tidak apa-apa, Pak. Makanan itu untuk nanti aja, sekarang Bapak ngopi di dalam karena aku juga akan masuk ke dalam," ucap Ayun sabil meletakkan uang itu di atas kursi yang ada di samping laki-laki paruh baya itu.


Tohir lalu mengucapkan terima kasih karena tidak bisa lagi menolak, dengan cepat dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ayun.


"Ya Allah Pak, gak perlu dibukakan aku bisa buka sendiri kok. Kayak sama siapa aja," ucap Ayun sambil terkekeh geli, memangnya dia ini artis atau pejabat yang harus dibukakan pintu segala?


Tohir hanya tersenyum saja mendengar ucapan sang majikan, dia lalu memutuskan untuk menunggu di tempat itu, jika mau nanti dia akan ngopi sesuai dengan apa yang Ayun katakan.


"Ayun!"


Langkah Ayun terhenti dan langsung menoleh ke arah samping saat mendengar panggilan seseorang. Senyum cerah langsung terbit dibibirnya saat melihat keberadaan Nindi.


"Bagaimana kabarmu, Nin? Maaf karena aku baru bisa ngasi kabar sekarang," ucap Ayun dengan penuh sesal, seharusnya dia memberi kabar lebih cepat pada wanita itu.


"Alhamdulillah aku baik, Yun. Kau sendiri baik-baik sajakan?" tanya Nindi yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Ayun. "Syukurlah kau baik-baik saja, aku dan yang lain sangat khawatir karena tidak ada kabar darimu." Lirih Nindi dengan tatapan khawatir.


Ayun menatap Nindi dengan mata berkaca-kaca, dia benar-benar merasa terharu dengan apa yang wanita itu katakan. Sebenarnya berasal dari mana Nindi dan keluarganya ini, kenapa mereka khawatir dan memperlakukan dia dengan baik? Sementara seseorang yang sangat dekat dengannya malah mati-matian menghancurkan hidupnya.


"Kenapa kau menangis?" tanya Nindi dengan tajam. Dia segera menghapus air mata yang mengalir diwajah Ayun.

__ADS_1


"Terima kasih. Terima kasih karena sudah memperlakukanku dan anak-anakku dengan baik." Lirih Ayun.


Selama ini dia yang selalu memperlakukan dan menyesuaikan diri dengan keluarganya sendiri, tetapi sekarang ada orang lain yang baik dan mengerti dirinya.


"Sudah, jangan nangis lagi. Ayo, kita masuk!" ajak Nindi sambil menarik tangan Ayun agar mengikuti langkahnya.


Mereka lalu naik ke lantai 3 di mana ruangannya dan sang papa berada. Ini kali pertama Nindi mengajak orang lain ke tempat itu karena ingin membuat Ayun merasa nyaman.


"Wah, ini ruangan siapa?" tanya Ayun dengan terkagum-kagum. Bisa-bisanya ada ruang kerja seindah dan semewah ini.


"Ruang kerjaku, ayo duduk!"


Ayun tercengang saat mendengarnya. Sepertinya di kehidupan yang lalu dia sudah menaklukkan negara, itu sebabnya punya teman yang sempurna seperti Nindi.


Mereka lalu duduk di sofa yang ada di tempat itu dengan berbagai macam makanan dan minuman yang sudah tersaji.


"Maaf karena memintamu bertemu, Nin. Aku cuma mau minta maaf atas apa yang sudah Ezra lakukan, tidak seharusnya dia-"


"Sudah seharusnya dia meminta bantuan pada teman ibunya, kan? Memang apa yang salah dengan itu?" potong Nindi dengan cepat, dia menatap Ayun dengan tajam.


"Tapi semua ini tidak ada kaitannya dengan kalian. Apa yang terjadi antara aku, Evan, dan juga Sherly hanya menjadi urusan kami bertiga. Kalian tidak perlu merasa bersalah atau bertanggung jawab." Lirih Ayun. Dia tidak mau merepotkan orang lain.


"Kami membantumu bukan karena merasa bersalah atau bertanggung jawab Yun, tapi karena kemanusiaan. Kita sama-sama wanita, jika aku berada diposisimu, apa kau tidak akan membantu?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2