
Ayun benar-benar merasa terharu melihat reaksi dari semua keluarganya, terutama Ezra dan Adel yang tampak sangat bahagia hanya karena Fathir akan datang ke rumahnya untuk melamar atau meminta izin menikah.
Selama ini dia memang tahu jika Fathir sudah dekat dengan semua keluarganya, terutama kedua anaknya yang juga dekat dengan putra dari laki-laki itu juga. Namun, tidak disangka ternyata mereka semua juga sangat bahagia dan setuju saat mengetahui lamaran Fathir.
"Ya Allah, aku sudah menyerahkan semuanya kepada-Mu. Engkaulah sang maha pemilik cinta, ridhoilah apa yang sedang terjadi saat ini, dan berilah kelancaran bagiku dan Fathir jika memang kami ditakdirkan untuk bersama." Sekilas Ayun memejamkan kedua matanya sambil memanjatkan do'a, berharap jika semua yang terjadi ini mendapatkan keberkahan dari Tuhan.
Sementara itu, di tempat lain tampak Fathir dan mamanya sudah kembali ke rumah sambil membawa banyak sekali belanjaan. Bukan hanya itu saja, bahkan masih ada banyak barang lagi yang sedang dibawa oleh karyawan toko tempat mereka belanja.
Farhan yang sudah lebih dulu disuruh pulang oleh istrinya dengan alasan masalah penting, tampak terperangah melihat semua barang-barang itu. Begitu juga dengan Faiz yang baru saja pulang bermain dengan teman-temannya.
"Wah, apa semua ini?" tanya Faiz dengan heran sambil melihat kesemua barang belanjaan papa dan juga omanya, tidak biasanya mereka belanja sampai sebanyak ini.
Alma tersenyum lebar mendengar pertanyaan Faiz, sementara Fathir sedang menyandarkan tubuh lelahnya disofa akibat mengikuti sang mama belanja seharian.
"Tanya saja pada papamu, Faiz. Malam ini kita akan ada acara yang sangat penting," sahut Alma sambil mulai membongkar barang-barangnya, dia lalu memanggil pembantu untuk ikut membantunya.
Faiz langsung menoleh ke arah sang papa saat mendengar ucapan omanya, begitu juga dengan Farhan yang punya pertanyaan sama.
Fathir melihat kedua orang itu dengan senyum simpul. "Malam ini kita akan datang ke rumah Ayun, jadi semua ini akan dibawa ke sana."
Farhan mengernyitkan kening dengan tidak mengerti, begitu juga dengan Faiz yang merasa aneh karena biasanya mereka datang ke sana hanya dengan tangan kosong saja.
Namun, sesaat kemudian Farhan langsung membulatkan matanya saat sadar dengan apa yang putranya katakan.
"Kau, kau akan melamarnya, Fathir?" tanya Farhan dengan tajam membuat Faiz terkesiap. Dengan cepat bocah itu mendekati sang papa yang sedang menganggukkan kepala.
"Papa benar-benar akan melamar tante Ayun? Papa akan menikahinya?" tanya Faiz dengan menggebu-gebu.
Fathir tergelak saat mendengarnya. "Kenapa kau kaget seperti ini, Faiz? Bukankah selama ini kau, Ezra, dan Adel sudah berusaha keras untuk membuat papa dan tante Ayun dekat?"
Faiz langsung menelan salivenya sambil cengengesan, tidak disangka jika papanya tahu dengan apa yang mereka lakukan selama ini.
"Tapi, apa kau benar-benar akan menikah dengannya, Fathir?" tanya Farhan membuat Fathir langsung menoleh ke arahnya.
"Iya, Pa," jawab Fathir sambil menganggukkan kepalanya. "Aku sudah mengatakannya pada Ayun, dan dia memintaku untuk menemui papanya."
__ADS_1
Farhan langsung tersenyum senang saat mendengarnya, begitu juga dengan Faiz yang bersorak senang seperti berhasil mendapatkan hadiah paling bagus di muka bumi ini.
"Syukurlah, Nak," sahut Farhan sambil beranjak mendekati Fathir, lalu menepuk bahu putranya itu dengan semangat. "Syukurlah kau mendengarkan saran Papa, dan hasilnya sesuai dengan apa yang kau inginkan."
Fathir mengangguk. Dia sedikit menyesal kenapa tidak dari dulu langsung mengatakannya pada Ayun dan datang ke rumah wanita itu, tetapi saat ini pun dia sudah merasa bersyukur dengan jawaban yang Ayun berikan.
Mereka semua lalu mulai mempersiapkan segalanya, tidak lupa memberi kabar pada saudara terdekat untuk ikut bertamu ke rumah keluarga Ayun.
***
Malam harinya, setelah semua persiapan selesai, Fathir dan semua keluarganya berangkat menuju rumah Ayun dengan menggunakan dua mobil. Untung saja jarak rumah mereka tidak jauh, dan dalam waktu 15 menit saja sudah sampai ke tempat tujuan.
Begitu sampai, Fathir langsung disambut oleh Keanu dan Angga yang sudah menunggu kedatangan mereka semua di teras rumah.
"Wah, Fathir," seru Keanu sambil tersenyum penuh arti saat melihat kedatangan Fathir.
Fathir menganggukkan kepalanya. "Selamat malam, Tuan." Dia menyapa dengan ramah.
Keanu tergelak saat mendengarnya. "Selamat malam juga, Kakak ipar. Ayo masuk, semuanya sudah menunggu di dalam!" Dia menepuk bahu Fathir membuat laki-laki itu tersipu malu.
Dua keluarga sudah saling bertemu dan bercengkrama dengan ramah. Saling bertukar kabar, serta senda gurau menambah kehangatan di antara mereka saat ini. Begitu juga dengan tiga bocah kematian yang sedang duduk sejajar di atas ambal bulu yang sangat lembut.
"Di mana ibumu, Del?" tanya Faiz sambil berbisik, dia menyenggol lengan Adel membuat gadis itu langsung menoleh ke arahnya.
"Ibu masih di kamar. Kenapa?" tanya Adel kembali dengan curiga.
Faiz menggelengkan kepalanya. Dia hanya ingin bertemu dengan Ayun dan ingin bertanya langsung apakah wanita itu benar-benar akan menikah dengan papanya, karena dia tidak ingin adanya penolakan yang pasti akan membuat sang papa menjadi sedih.
Melihat semua orang sudah berkumpul ditempat itu, Hasna beranjak pergi ke kamar Ayun untuk menyuruh putrinya itu bergabung dengan yang lainnya. Saat ini Ayun sedang ditemani oleh Nindi karena masih harus bersiap.
"Apa Mbak gugup?" tanya Nindi sambil memasangkan hijab sang kakak.
Ayun mengangguk dengan semburat rona merah diwajahnya. "Ini bukan pertama kalinya Mbak dilamar oleh seorang lelaki, Dek. Tapi entah kenapa rasanya sangat gugup sekali." Dia memegangi dadanya yang terus berdebar kencang.
Dulu, Ayun juga merasa gugup saat Evan dan keluarga laki-laki itu datang untuk malamarnya. Namun, kegugupan itu hanya berlangsung sebentar, dia bahkan ikut menyambut mereka serta menyediakan makanan dan minuman.
__ADS_1
Namun, saat ini rasanya sangat berbeda sekali. Jangankan untuk menyambut, dia bahkan tidak punya kekuatan hanya untuk membalas pesan Fathir yang sejak tadi bertanya apa yang sedang dia lakukan. Laki-laki itu bahkan memberitahu saat sudah sampai di rumahnya, padahal dia sempat mengintip dari balik jendela.
"Itu hal yang biasa, Mbak," sahut Nindi. Dia tersenyum saat melihat penampilan sang kakak yang sangat cantik. "Mereka adalah laki-laki yang berbeda, begitu juga perasaan Mbak untuk mereka yang pasti juga berbeda.. Apapun yang terjadi, ingatlah tentang hal itu, Mbak." Dia beralih duduk di samping Ayun lalu menggenggam tangan wanita itu.
Ayun mengangguk paham. Tentu saja dia tidak bisa menyamakan antara Evan dan Fathir, bahkan dia sudah berulang kali menekankan pada diri sendiri bahwa kedua lelaki itu sangat berbeda, dan belum tentu Fathir juga akan menyakitinya seperti apa yang Evan lakukan.
"Apa semua sudah siap?"
Ayun dan Nindi langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ibu mereka. "Sudah, Bu. Ayo Mbak, kita keluar!" Nindi beranjak dari ranjang sambil menggandeng lengan Ayun.
Ayun mengangguk lalu mengikuti adik dan juga ibunya. Sepanjang langkah, dia terus berdzikir kepada Allah agar diberikan ketenangan dan keridhoan untuk acara malam ini.
Semua orang langsung melihat ke arah tangga saat mendengar suara langkah mereka, termasuk Fathir yang menatap Ayun dengan senyum lebar serta tatapan terpesona.
Ayun lalu duduk ditengah-tengah antara ibu dan juga adik-adiknya, sementara dibagian belakang ada Ezra, Adel, dan juga Faiz.
Setelah Ayun bergabung dengan semuanya, acara itu pun dilanjutkan dengan Farhan yang mengatakan tujuan kedatangan mereka ke rumah keluarga Abbas.
"Saya datang kemari karena ingin memberitahukan pada Anda dan sekeluarga, bahwasannya putra kami yang bernama Fathir ingin meminta izin pada Anda untuk mengatakan isi hatinya perihal putri Anda yang bernama Ayun. Apakah Anda memperbolehkannya?" tanya Farhan dengan sopan.
Abbas tersenyum sambil mengangguk. "Tentu saja, Tuan Farhan. Saya persilahkan putra Anda untuk menyampaikan keinginannya pada kami semua."
Jantung Ayun kembali bergemuruh saat mendengarnya, sementara Fathir tetap tersenyum cerah.
Farhan lalu mempersilahkan putranya untuk langsung mengatakan tujuannya datang berkunjung di hadapan semua orang.
"Saya yang bernama Fathir, datang ke rumah ini untuk mengatakan pada Tuan Abbas dan Nyonya Hasna, bahwasannya saya jatuh hati pada putri Anda yang bernama Ayun. Dengan keberanian dan rasa cinta, saya datang dengan tujuan untuk meminta izin pada Anda, agar diperbolehkan untuk menikah dengan Ayun dan menjadikannya sebagai pendamping hidup saya."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1