
Ayun tersentak kaget saat mendengar ucapan sang ibu, dia merasa was-was dan takut jika ibunya akan membahas hubungan antara dia dan Abbas.
"Ki-kita bahas besok saja ya, Bu," ucap Ayun dengan cepat, membuat Hasna tidak jadi mengeluarkan suara. "Aku mau Ibu fokus dengan kesehatan Ibu, agar operasi besok berjalan lancar." Dia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Hasna menghela napas kasar. Apa yang Ayun katakan benar, padahal anak-anaknya sudah berjuang untuk kesembuhannya, bahkan sampai mendonorkan ginjal untuknya.
"Kau benar, Nak. Maaf ya, ibu selalu menyusahkan kalian," ucap Hasna dengan lirih.
Ayun menggelengkan kepalanya sambil mengusap punggung tangan sang ibu. "Tidak, Bu. Ibu tidak pernah menyusahkan. Kami hanya berharap agar Ibu bisa sembuh, supaya kita bisa sama-sama lagi."
Hasna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Betapa beruntungnya dia punya anak seperti Ayun dan Yuni, tetapi sayangnya dia masih belum bisa mengatakan sebuah rahasia besar pada mereka.
Ayun lalu beranjak ke kamar mandi saat air mata sudah menggantung di pelupuk mata. Entah kenapa dia ingin sekali menangis saat melihat wajah sang ibu, apalagi tatapan hangat yang selalu ibunya berikan.
"Aku tidak tau alasan apa yang membuat ibu tidak mau mengatakan semua itu padaku, tapi aku yakin semua itu demi kebaikanku sendiri," gumam Ayun dengan sendu.
Ayun lalu memejamkan kedua matanya dan meresapi apa yang sedang terjadi. Dia memang merasa kecewa saat mengetahui semua kebenaran ini. Namun, saat melihat wajah sang ibu. Dia yakin jika ibunya juga tidak mau hal seperti ini terjadi, apalagi selama ini sang ibu selalu memberikan yang terbaik untuknya.
Ayun lalu kembali mengerjapkan kedua matanya dan segera membasuh wajah agar terlihat segar. Setelah selesai, dia segera keluar dan bersama dengan ibunya kembali.
***
Keesokan harinya, tepat pukul 10 pagi. Dokter dan beberapa perawat segera membawa Hasna dan Yuni ke ruang operasi untuk melakukan transplantasi ginjal.
Sebelumnya, Dokter sudah kembali memeriksa kondisi mereka agar operasi berjalan lancar. Lalu hasilnya mereka dalam posisi stabil, maka operasi bisa dijalankan.
__ADS_1
Ayun dan kedua anaknya sudah berada di depan ruang operasi dengan perasaan cemas, begitu juga dengan Angga dan kedua anak laki-laki itu dan Yuni.
Dari kejauhan, Nayla dan Rio berjalan ke arah Ayun karena mendapat kabar dari wanita itu jika hari ini ibunya akan di operasi.
"Ayun!"
Ayun membalikkan tubuhnya saat mendengar panggilan seseorang. "Nayla, kau di sini?" Dia merasa sedikit tenang saat melihat kedatangan sahabatnya.
Nayla menganggukkan kepalanya. "Jangan khawatir, tante pasti baik-baik saja." Dia mengusap lengan Ayun sambil menenangkan wanita itu.
Ayun ikut menganggukkan kepalanya dan berterima kasih karena Nayla dan Rio sudah datang untuk menemaninya, karena sejak tadi dia benar-benar merasa khawatir.
Tidak berselang lama, Abbas juga datang ke tempat itu dan bergabung dengan mereka. Semua orang yang berada di sana menyambutnya dengan ramah, termasuk Ayun juga walau terasa kaku dan berbeda seperti biasanya.
"Ba-bagaimana kabar Nindi, Tuan?" tanya Ayun. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman dan juga canggung dengan kedatangan Abbas, tetapi jika dia tidak menyapa seperti biasa, dia takut yang lain merasa curiga.
Ayun menganggukkan kepalanya, lalu mempersilahkan Abbas untuk duduk di kursi yang ada di tempat itu. Setelahnya, dia duduk di samping Nayla dan mencoba untuk bicara dengan temannya itu agar menghilangkan rasa tidak nyaman yang ada dalam hati.
Waktu terus berjalan dengan cepat membuat semua orang yang menunggu operasi Hasna dan Yuni diliputi rasa khawatir. Sudah lebih dari 3 jam lamanya, tetapi operasi mereka belum juga selesai.
"Ya Allah, aku mohon beri kekuatan untuk ibu dan juga Yuni," gumam Ayun dengan cemas. Dia terus menatap pintu ruang operasi itu dengan sendu.
Nayla yang ada di samping Ayun langsung memeluk temannya itu, dia tahu jika Ayun pasti sedang sangat khawatir saat ini.
Beberapa saat kemudian, lampu yang ada di atas pintu ruang operasi mati, dan menandakan jika operasi sudah selesai dilaksanakan. Semua orang beranjak dari kursi dan berdiri di depan pintu, tidak terkecuali dengan Abbas yang sejak tadi terus berdo'a agar semuanya berjalan lancar.
__ADS_1
"Ba-bagaimana keadaan ibu dan adik saya, Dokter?" tanya Ayun dengan cepat saat Dokter keluar dari ruangan itu, sementara yang lain juga menatap Dokter tersebut dengan khawatir.
Dokter itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Operasi berjalan lancar, Buk. Baik ibu Hasna dan juga ibu Yuni, mereka berdua dalam keadaan stabil dan baik-baik saja."
"Alhamdulillah." Semua orang langsung mengucap syukur yang teramat dalam atas keberhasilan operasi itu. Tangis bahagia menyelimuti hati Ayun dan kedua anaknya, hingga mereka saling berpelukan dengan erat.
"Terima kasih atas semuanya, Dokter," ucap Ayun saat sudah melerai pelukannya. Dia menundukkan kepalanya di hadapan Dokter Arya, dengan rasa terima kasih yang sangat besar.
"Sama-sama, Buk Ayun. Saya turut bahagia dengan keberhasilan operasi ini. Tapi, kami masih harus memantau keadaan kedua pasien. Itu sebabnya, saat ini kedua pasien belum bisa untuk dijenguk," ucap Dokter Arya. Walau operasi berjalan lancar dan keadaan mereka baik-baik saja, tetapi Dokter masih harus memeriksa keadaan kedua pasien dengan teliti.
Ayun dan yang lainnya mengangguk paham dengan apa yang Dokter Arya katakan, kemudian para perawat memindahkan Hasna dan Yuni ke dalam ruang ICU agar menjalani pemeriksaan ketat pasca menjalani operasi.
Setelah semuanya selesai, Nayla dan Rio pamit pada Ayun untuk kembali pulang karena kedua anak mereka sedang dititipkan pada orang tua. Begitu juga dengan Abbas, dia pamit untuk ke kembali ruangan Nindi dan mendo'akan agar Hasna dan Yuni segera sadar.
"Terima kasih karena sudah datang ke sini, Tuan," ucap Ayun dengan kepala menunduk.
Abbas menganggukkan kepala, sepertinya Ayun masih merasa terguncang sehingga tidak mau melihat ke arahnya. Dia lalu berbalik dan segera pergi dari tempat itu menuju ruangan Nindi.
Ayun menatap punggung Abbas dengan sendu, tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipi. "Aku tidak tau harus bersikap seperti apa di hadapannya, rasanya sangat menyesakkan sekali."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.