
Abbas menundukkan kepalanya dengan tubuh gemetar. Rasa bersalah menghantam disetiap sudut hatinya, baik pada Hasna, juga pada mendiang istrinya.
Tidak pernah dia bayangkan jika semua akan jadi seperti ini, dan kenapa mereka bisa menyimpannya dengan sangat baik selama puluhan tahun? Dia bahkan tidak pernah bertanya apa yang terjadi setelah dia pulang, karena pada saat dia bangun di pagi hari. Keadaannya tampak seperti biasa, walau dia merasa pusing dan sakit dibagian tertentu tubuhnya.
"Naira."
Dada Abbas terasa sangat sesak saat mengingat sosok wanita lembut dan penuh perhatian, yang merupakan istrinya sendiri. Namun, usia pernikahan mereka tidak lama karena Tuhan berkehendak lain. Naira meninggal saat usia Nindi baru memasuki 10 tahun, dan penyebabnya karena kanker darah yang sudah diderita selama beberapa tahun yang lalu.
Hasna menatap Abbas dengan sendu saat melihat rasa sakit dan kecewa yang teramat dalam dari sorot mata laki-laki itu. Dia tahu jika Abbas pasti sangat terpukul saat mengetahui tentang kebenaran ini, tetapi mau bagaimana lagi? Itulah satu-satunya jalan keluar yang tepat pada waktu itu.
Pada saat yang sama, Adel dan Ezra yang baru pulang dari sekolah berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Mereka berniat untuk menjenguk sang nenek, sekalian mengantar makanan untuk ibu dan juga bibi mereka.
"Kakak ingat 'kan, kalau lusa aku ulang tahun?" ucap Adel sambil menatap sang kakak dengan mata berbinar-binar.
Ezra menganggukkan kepalanya. "Tentu saja kakak ingat. Apa kau menginginkan sesuatu sebagai hadiah ulang tahunmu?" Dia bertanya sambil mengacak-ngacak puncak kepala Adel, membuat hijab yang adiknya pakai jadi berantakan.
"Is, Kakak ini. Suka kali bikin jilbabku rusak, nanti aku gak mau pakai jilbab dimarahin," cibir Adel dengan wajah cemberut. Bibirnya udah maju beberapa senti ke depan, membuat Ezra tergelak.
"Iya-iya maaf. Udah, jangan ribut," ucap Ezra kemudian. Mereka sudah hampir sampai ke ruangan sang nenek.
Sementara itu, Abbas masih terdiam dan mencoba untuk menenangkan gejolak emosi yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1
"Maafkan kesalahanku, Hasna. Sungguh aku tidak tahu jika sudah membuat kesalahan sebesar itu, maafkan aku." Lirih Abbas. Dia tidak berani menatap wanita itu, jelas Hasna pasti sangat terluka dengan apa yang sudah dia lakukan.
Hasna menghela napas kasar. Abbas memang sudah membuat kesalahan besar, tetapi bukan berarti dia tidak melakukan kesalahan juga. Biar bagaimana pun, kejadian malam itu tidak akan terjadi jika dia menolak sampai akhir, atau melawan dengan menghajar Abbas seperti yang ada di film-film.
Akan tetapi, Hasna akhrinya luluh juga dengan godaan setan, tepatnya godaan yang Abbas lakukan. Itu sebabnya mereka melakukan hal terlarang itu, bahkan dia juga yang memutuskan untuk menutupinya.
"Semua melakukan kesalahan, Tuan. Dan saya sudah melupakannya, saya harap Anda juga seperti itu," balas Hasna dengan pelan.
Abbas tersenyum miris. Bagaimana mungkin dia bisa melupakannya? Dia saja baru tahu semua kebenarannya hari ini, dan semua yang terjadi atas kesalahannya.
"Mana mungkin aku bisa melupakannya, Hasna. Apa kau juga memintaku untuk melupakanmu dan juga Ayun, putriku sendiri?"
Deg.
"Loh, kenapa kita enggak-"
Ezra langsung menutup mulut Adel dengan tangan kanannya, membuat Adel mendelik kaget. "Diam, ada seseorang di dalam ruangan nenek."
Adel menganggukkan kepala membuat Ezra melepaskan bekaman tangannya, mereka lalu berdiri di balik pintu untuk menguping pembicaraan sang nenek dengan seorang lelaki.
"Saya tidak akan meminta Anda untuk melupakan Ayun, tetapi tolong lupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Saya tidak mau orang lain mengetahuinya, termasuk anak Anda dan juga anak saya," ucap Hasna dengan serius. Dia menatap Abbas tajam, yang juga mulai menatapnya dengan sendu.
__ADS_1
Ezra yang mendengar ucapan sang nenek mengernyitkan kening heran, apalagi saat mendengar ucapan laki-laki yang ada di dalam ruangan itu tadi.
"Jadi, aku tidak bisa mengatakan pada Ayun bahwa aku adalah ayah kandungnya?" tanya Abbas dengan getir dan penuh luka.
Ezra terlonjak kaget saat mendengar ucapan laki-laki itu, dan dia yakin bahwa suara yang sedang didengar adalah suara Abbas.
Sama halnya dengan sang kakak, Adel juga tampak syok saat mendengarnya. Dia lalu mendongakkan kepala, dan menatap kakaknya dengan penuh tanda tanya.
"Apa Anda ingin mengatakan pada Ayun bahwa Anda adalah ayah kandungnya, dan dulu Anda tidak sadar memperkosa saya? Lalu saya pergi dalam keadaan hamil karena Anda sudah bertunangan dengan nona Naira, ibu nona Nindi. Begitu?" tanya Hasna dengan sarkas, membuat Abbas langsung terkesiap.
Abbas terdiam dengan degup jantung yang mencuat kuat. Kedua tangannya mengepal erat karena merasa apa yang Hasna katakan adalah benar, lalu apa yang harus dia lakukan? Mana bisa dia diam saja saat tahu jika Ayun adalah putri kandungnya, setidaknya dia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan.
"Kenapa Anda diam, Tuan? Apa Anda ingin menghancurkan perasaan anak-anak kita?" tanya Hasna dengan sendu. Tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi mereka saat mengetahuinya.
Dengan cepat Ezra membuka pintu ruangan itu membuat Abbas dan Hasna menoleh ke arah pintu. "Apa nenek pikir, dengan menyembunyikan semuanya nenek dan kakek tidak menyakiti hati ibu dan tante Nindi?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.