Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 27. Keluar Dari Rumah Sakit.


__ADS_3

Semua orang tercengang dengan tubuh menegang saat mendengar ucapan Alma, beberapa dari mereka bahkan sampai beranjak bangun dari kursi saat mendengarnya.


"Kau, kau bilang apa?" tanya Abbas dengan tergagap. Dia menatap Alma dengan tajam dan tidak percaya, begitu juga dengan yang lainnya.


Alma terus tersenyum lebar. "Saya memberitahu jika nona Nindi dan nona Ayun sudah bisa pulang, Tuan. Mereka hanya harus rawat jalan, dan tidak perlu lagi rawat inap di rumah sakit."


"Ya Allah," pekik Nindi sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata langsung jatuh membasahi wajah, karena merasa terkejut dan tidak percaya dengan ucapan Dokter.


"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah," ucap Abbas dengan rasa syukur yang teramat dalam saat sudah sadar dengan apa yang Alma katakan.


Semua orang yang ada di ruangan itu juga tidak kalah memekik penuh haru. Luapan kebahagiaan dan rasa syukur menggema memenuhi seisi ruangan, dengan diringi tangisan dan pelukan bahagia atas kabar baik yang Dokter berikan.


Setelah menghabiskan banyak hari di rumah sakit, akhirnya Nindi dan Ayun diperbolehkan untuk pulang setelah kondisi mereka benar-benar membaik. Sungguh berita yang sangat membahagiakan, khususnya untuk Nindi.


Dia menangis dengan tersedu-sedu karena merasa tidak percaya dengan kesembuhan yang terjadi pada penyakitnya. Bertahun lamanya berjuang untuk sembuh, bahkan sampai merasa putus asa dan pasrah atas keadaan yang kapan saja bisa merenggut nyawanya. Namun, siapa sangka jika Tuhan akan membantunya seperti ini?


"Terima kasih, Mbak. Terima kasih," ucap Nindi dengan lirih, saat ini dia sedang berada dalam pelukan Ayun yang sama bahagianya dengan dia.


Ayun sendiri juga tidak kuasa menahan air mata. Sebenarnya, sudah beberapa hari yang lalu Dokter memperbolehkannya untuk pulang. Namun, dia memilih untuk tetap berada di sana demi menemani Nindi. Dia merasa tidak tega meninggalkan sang adik, apalagi dia tahu saat ini Keanu dan papanya sedang sibuk mengurus pekerjaan.


"Alhamdulillah, Nindi," balas Ayun dengan bahagia.


Dokter Alma yang masih berada di dalam ruangan itu juga tidak kuasa menahan tangis. Dia sendiri juga sudah berjuang demi kesembuhan Nindi, dan sekarang perjuangan itu membuahkan hasil yang diharapkan.


Brak.


Suara benturan dari pintu yang dibuka dengan kuat menggema di tempat itu, membuat semua orang terlonjak kaget dan langsung melihat ke arah pintu.


"Mas," seru Nindi dengan terisak saat melihat kedatangan sang suami.


Keanu berdiri di ambang pintu dengan napas tersengal-sengal karena berlari dari parkiran. Dia yang tadi sedang berada di perusahaan, langsung beranjak ke rumah sakit saat mendengar kabar tentang kepulangan Nindi.

__ADS_1


Dengan langkah lebar, Keanu masuk ke dalam ruangan untuk menghampiri sang istri. Tampak Nindi merentangkan tangan menyambut kedatangannya, yang tentu saja langsung di peluk dengan erat.


"Aku, aku sudah boleh pulang, Mas. Aku-"


"Aku tahu, Sayang. Aku tahu." Lirih Keanu. Dia memeluk tubuh Nindi dengan erat disertai tangisan kebahagiaan. Sungguh dia merasa sangat bersyukur dengan kesembuhan istrinya saat ini.


Keadaan terasa sangat mengharukan sekali. Semua orang tampak saling memeluk dengan kebahagiaan yang membuncah, disertai ucapan syukur yang melambung tinggi atas kesembuhan yang telah Tuhan berikan.


Fathir yang datang bersama dengan Keanu ikut tersenyum bahagia mendengar kesembuhan Nindi. Dia sendiri menjadi saksi bagaimana menderitanya wanita itu selama ini, karena dia sudah lebih dulu mengenal Nindi ketimbang Evan pada saat kuliah dulu.


Tidak mau hanya diam di tempat itu, Fathir memutuskan untuk mengurus semua administrasi kepulangan Nindi dan juga Ayun, karena nantinya memang dia juga pasti yang akan mengurus semuanya.


Setelah saling berpelukan dengan haru, Dokter Alma lalu menjelaskan apa-apa saja yang harus dihindari agar kondisi tubuh Nindi dan Ayun tetap stabil dan sehat. Dia juga menjelaskan pemeriksaan yang masih harus Nindi jalani, walaupun sudah lebih ringan dan dilakukan seminggu sekali saja.


Beberapa saat kemudian, Fathir sudah selesai mengurus semua administrasinya beserta pembayaran. Jangan tanya kenapa dia bisa melakukan semua itu, karena memang dia punya kuasa untuk menggunakan uang milik Keanu sesuai dengan kebutuhan.


Fathir lalu kembali ke ruangan Nindi dan Ayun. Dia memberitahukan pada mereka semua jika administrasi sudah selesai, jadi mereka sudah bisa meninggalkan rumah sakit.


"Saya adalah salah satu orang yang sangat bahagia dengan kesembuhan Anda, Nona. Tapi ingat, harus tetap jaga kesehatan sampai benar-benar bersih. Karena saya akan tetap memeriksanya," ucap Alma dengan penuh penekanan, membuat semua orang tergelak saat mendengarnya.


"Siap, Dokter," jawab Nindi dan Ayun secara bersamaan, mereka bahkan meletakkan tangan di kepala layaknya sedang memberi hormat pada saat upacara bendera.


Abbas dan yang lainnya juga mengucapkan terima kasih pada Dokter Alma, apalagi Keanu yang menatap wanita paruh baya itu dengan mata berbinar-binar.


"Fathir," panggil Keanu membuat Fathir yang berdiri di dekat pintu beranjak mendekatinya.


"Ya, Tuan," jawab Fathir.


"Siapkan dua tiket umroh untuk kedua orang tuamu, juga tiket liburan untukmu dan juga Faiz ke mana pun kalian mau," ucap Keanu dengan lantang membuat Ayun dan keluarganya membulatkan mata mereka.


"Tidak perlu, Tuan. Saya hanya melakukan tugas saja,"

__ADS_1


"Jangan menolaknya, Dokter. Walau saya memberikan semua harta pada Anda, tetap saja tidak sebanding dengan kesembuhan istri saya," balas Keanu dengan penuh harap.


Alma menghela napas kasar. Padahal tadi dia hanya bercanda saja dengan Abbas, tetapi malah Keanu yang memberikan hadiah untuknya, bahkan untuk Fathir dan Faiz juga.


"Baiklah. Kalau begitu terima kasih, Tuan," ucap Alma sambil menganggukkan kepalanya.


Fathir baru mengiyakan perintah Keanu setelah sang ibu menerima hadiah yang bosnya berikan. Namun, hadiah untuknya dan Faiz sepertinya tidak akan terlaksana. Bisa-bisa dunia runtuh jika dia hanya pergi berdua saja dengan putranya itu.


Setelah semuanya selesai, mereka semua beranjak pergi dari rumah sakit. Ayun dan keluarganya menaiki mobil Abbas, sementara Keanu bersama dengan Nindi dan juga Fathir.


Dalam perjalanan, Adel meminta sang ibu untuk menutup mata pada saat mereka sudah memasuki kawasan rumah. Dia ingin memberi kejutan untuk kepulangan ibunya, karena beberapa saat yang lalu dia sudah menghubungi bibi Yuni.


"Kenapa harus di tutup, Adel? Ada-ada saja kamu ini," ucap Ayun sambil menggelengkan kepalanya.


"Ibu kan belum tahu rumah baru yang kakek kasi, makanya Ibu harus tutup mata biar jadi kejutan," seru Adel, yang disetujui oleh sang kakak.


Ayun menghela napas kasar, mau tidak mau dia terpaksa menuruti keinginan sang putri untuk menutup mata.


Tidak berselang lama, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Keanu dan yang lainnya juga pulang ke rumah Ayun, karena ingin menghabiskan waktu bersama mereka.


"Apa Ibu dan Tante udah siap?" tanya Adel saat mereka sudah berdiri di halaman rumah, ternyata Nindi juga diminta untuk menutup mata.


"Iya, Nak. Apa ibu udah boleh buka mata?"


"Okey, silahkan buka mata."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2