
Setelah mengambil keputusan yang cukup berat dan sangat terpaksa, hari ini juga Evan mengirim pesan pada Keanu sebelum dibawa oleh pihak kepolisian. Tidak lupa dia menghubungi pengacaranya untuk memberitahukan hal tersebut, agar mengurus semua berkas yang diperlukan.
"Kau yakin akan memberikan hakmu padanya, Evan?" tanya Mery kembali. Hati kecilnya merasa tidak tega dengan jerih payah sang putra, tetapi dia juga tidak rela jika harus menjual rumah mereka.
Evan mengulas senyum tipis pada sang ibu agar ibunya tidak merasa khawatir. "Tidak apa-apa, Bu. Semua yang terjadi ini juga karena kesalahanku sendiri, lalu nanti aku juga bisa kembali membuka usaha." Dia berucap dengan tenang, walau hatinya terasa sangat sakit.
Mery lalu menganggukkan kepalanya dengan perasaan lega. Setidaknya Evan sudah keluar dari jerat hukum, dan terbebas dari segala utang yang mendera walau harus kehilangan sesuatu yang berharga.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Keanu tertawa penuh kemenangan saat membaca pesan dari Evan membuat Fathir mengernyitkan kening.
"Akhirnya dia mengalah juga, Fathir. Kerja bagus," ucap Keanu sambil menatap Fathir dengan bangga. Tidak salah dia menyuruh laki-laki itu untuk menemui Ayun, dan memberi peringatan agar wanita itu tidak menolong Evan.
Fathir menganggukkan kepalanya. Kini dia tahu alasan kenapa Keanu sampai tertawa seperti itu. "Apa saya harus menemuinya sekarang, Tuan?"
Keanu langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, besok saja kita menemuinya. Aku yakin dia pasti sedang sangat terdesak sekarang, itu sebabnya hanya butuh waktu sehari saja untuk mengambil keputusan." Dia berucap dengan sinis.
Fathir mengangguk paham. Dia lalu beranjak keluar dari ruangan Keanu menuju ruangannya sendiri untuk melanjutkan pekerjaan.
Di sisi lain, Evan menggeram marah saat mendapat balasan pesan dari Keanu yang menyatakan bahwa besok laki-laki itu baru bisa menemuinya.
"Sia*lan! Sepertinya mereka sedang mempermainkanku," gumam Evan dengan penuh emosi. Rahangnya mengeras dengan wajah merah padam, merasa dipermainkan oleh Keanu.
Evan lalu mencoba untuk menghubungi laki-laki itu, tetapi Keanu sama sekali tidak mau menjawab panggilannya.
"Dasar brengs*ek!" umpat Evan dengan kemarahan yang membara. Haruskah dia menghubungi Ayun agar wanita itu mengatakan pada Keanu supaya menemuinya saat ini juga?
Tiba-tiba, Evan teringat dengan ucapan sang Ayah beberapa saat yang lalu membuat tangannya tidak jadi menghubungi Ayun. Benar, dia tidak pantas dan tidak bisa lagi mengganggu wanita itu. Namun, bagaimana nasibnya jika tidak segera bertemu dengan Keanu sekarang?
__ADS_1
Evan yang sedang berpikir seketika dikejutkan dengan kedatangan 2 orang polisi beserta pimpinan mereka, membuat dia terkesiap.
"Maaf, Tuan Evan. Kami harus segera membawa Anda ke kantor polisi, sesuai dengan hasil laporan Dokter mengenai kondisi Anda yang sudah membaik," ucap polisi tersebut.
Evan terdiam dengan tatapan nyalang, mulutnya seakan terkunci dan tidak bisa untuk mengeluarkan suara.
Mery dan Endri yang baru saja menikmati makan siang sangat terkejut saat melihat apa yang terjadi. Makanan untuk Evan yang sedang dipegang oleh Mery langsung terjatuh ke lantai.
"A-apa yang kalian lakukan?" teriak Mery dengan kuat, membuat semua orang terlonjak kaget. Dia segera menghampiri Evan yang sudah turun dari ranjang.
Salah satu dari polisi itu segera menjelaskan apa yang mereka lakukan, sesuai dengan peraturan yang sudah ditentukan. Tentu saja mereka harus menjemput Evan yang sudah ditetapkan menjadi tersangka, dan akan langsung dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa sebelum masuk ke penjara.
"Ti-tidak, kalian tidak bisa membawa anakku!" tolak Mery dengan sarkas. "Dia, dia akan membayar pidana dendanya, jadi kalian tidak bisa membawanya." Dia memeluk tubuh Evan dengan kuat.
"Itu benar, Pak. Pengacara putra saya sedang mengurusnya, saya harap Anda bisa menunggu sebentar lagi," pinta Endri dengan penuh harap.
Evan menatap kedua orang tuanya dengan nanar. Betapa banyak dosa dan kesalahan yang telah dia lakukan pada mereka, tetapi mereka tetap saja membela dan melindunginya sampai seperti ini. Sungguh, dia merasa sangat bersalah dan berdosa pada ibu dan juga ayahnya.
Keributan pun tidak terhindarkan, membuat suasana rumah sakit menjadi riuh. Mery tetap tidak terima jika Evan dibawa begitu saja, sementara Evan sendiri berusaha untuk menenangkan sang ibu agar membiarkannya pergi.
Petugas keamanan rumah sakit terpaksa bergerak untuk mengamankan keadaan, karena orang-orang yang berada di rumah sakit tampak berkerumun melihat apa yang terjadi.
Seorang wartawan yang kebetulan sedang berada di rumah sakit langsung sigap mengambil kemarenya, untuk merekam apa yang terjadi. Dia memang tidak kenal dengan sosok yag sedang dibawa oleh polisi, tetapi apa yang terjadi saat ini bisa dijadikan bahan berita di media sosial.
Setelah keributan yang terjadi, Evan segera dibawa ke kantor polisi walaupun keluarganya menolak karena hukum tetap harus dijalankan.
Sepanjang perjalanan, Evan hanya diam sambil menatap ke arah bawah. Rasa sakit, marah, kesal, dan bersalah terasa memenuhi jiwanya. Sekarang apa lagi yang akan terjadi? Dia sudah kehilangan istri dan juga anak-anaknya, dia bahkan sudah kehilangan semua kerja keras yang puluhan tahun dia perjuangkan. Tidak ada lagi yang tersisa, semua hanya menjadi penyesalan yang hampa.
__ADS_1
Setelah Evan di bawa oleh polisi, Mery dan Endri terdiam di taman rumah sakit dengan tatapan kosong. Tentu saja mereka merasa tidak rela, tetapi mau melawan pun jelas tidak bisa.
"Sudahlah, Mery. Evan sudah memberitahu Keanu bahwa dia setuju dengan perjanjian itu, aku yakin laki-laki itu pasti akan segera mengeluarkannya," ucap Endri sambil menepuk bahu sang istri.
Mery mengangguk lemah. Sekarang dia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa berdo'a semoga Evan cepat keluar dari penjara.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Ayun sedang berkunjung ke kantor bersama dengan Ezra. Ezra sengaja mengajak sang ibu untuk melihat keadaan kantor, karena tidak mau ibunya memikirkan apa yang terjadi pada sang ayah saat ini.
"Selamat datang Mbak, eh maksud saya Buk Ayun," ucap David dengan tergagap, mulutnya sudah terbiasa memanggil Ayun dengan sebutan mbak dan tidak mungkin sekarang dia memanggil atasannya seperti itu.
Ayun tersenyum simpul melihat David galagapan di hadapannya. "Aku senang kau kembali ke kantor, David. Terima kasih." Dia merasa bersyukur laki-laki itu mau membantunya mengelola Dhean property.
David menganggukkan kepalanya. "Saya yang harus berterima kasih karena Anda masih memberi saya kesempatan, Buk."
"Jangan terlalu sungkan, David. Panggil saja aku senyamanmu," tukas Ayun.
"Tentu saja saya tidak bisa melakukan itu, Buk. Anda kan atasan saya," jawab David.
Ayun menghela napas kasar. "Baiklah, terserah kau saja mau bagaimana." Dia menggelengkan kepala.
Ezra tersenyum senang saat melihat interaksi sang ibu dengan David, juga dengan beberapa karyawan mereka yang lain. Apalagi raut wajah ibunya tampak sangat berbeda dari beberapa waktu yang lalu saat sang ibu hanya disibukkan dengan pekerjaan rumah.
"Seharusnya sejak dulu ibu bekerja di kantor seperti ini, aku yakin ibu pasti akan menjadi wanita sukses."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.