
Adel langsung berteriak tidak terima saat mendengar ucapan laki-laki itu. Seenaknya saja Faiz berkata akan menganggap ibunya seperti ibu laki-laki itu sendiri, sementara masih banyak wanita lain di luar sana yang bisa dianggap sebagai ibu.
"Cih, kenapa kau pelit sekali?" cibir Faiz dengan sarkas, padahal tidak sembarang orang bisa menjadi ibunya.
Adel menatap Faiz dengan tajam, terlihat jelas dari sorot matanya jika dia sedang mengibarkan bendera perang.
"Iya lah, dia ibuku. Bukan ibumu, jadi jangan pernah menganggap ibuku seperti ibumu!" ucap Adel kembali. Pokoknya dia tidak mau berbagi ibu dengan orang lain, kecuali kakaknya sendiri.
Faiz mencebikkan bibirnya penuh kesal. "Cih, dasar anak-anak!" Dia berucap tajam sambil membuang muka sebal.
Fathir yang sejak tadi diam tampak menghela napas kasar. Dengan cepat dia menarik tangan Faiz, membuat putranya yang masih sibuk berdebat dengan adel itu tersentak kaget.
"Ke-kenapa Papa-"
"Ikut Papa!" ajak Fathir dengan cepat dan penuh penekanan, membuat Faiz menelan salive dengan kasar. Dia lalu menoleh ke arah Adel yang sedang menatap ke arah mereka. "Kau tunggu di sini sebentar ya, Adel."
Adel menganggguk paham membuat Fathir bergegas pergi dari tempat itu, tidak lupa sambil menarik tangan Faiz karena mereka harus bicara empat mata.
Setelah merasa cukup jauh, Fathir segera melepaskan tangan Faiz yang sejak tadi dia genggam. Terlihat putranya sedang menundukkan kepala di hadapannya.
"Sebenarnya ada apa, Faiz? Kenapa sejak tadi kau terus mengagetkan semua orang, hah?" tanya Fathir dengan tajam. "Lalu, apa maksudnya itu tadi? Kenapa kau menganggap Ayun sebagai ibumu sendiri?" Dia kembali bertanya dengan penuh penekanan.
Faiz terdiam, mencoba untuk memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang papa. Namun, dia merasa bingung. Memang apa yang salah dengan menganggap Ayun sebagai ibunya sendiri? Kenapa semua orang terkejut?
"Kenapa diam, Faiz?"
Suara papanya seketika membuat Faiz tersadar dari lamunan, dengan cepat dia mendongakkan kepala dan menatap ke arah sang papa.
__ADS_1
"Aku hanya mengikuti apa yang tante Ayun katakan padaku," jawab Faiz dengan pelan.
Fathir mengernyitkan kening bingung, dia lalu meminta penjelasan atas apa yang Faiz ucapkan dengan sejelas-jelasnya.
Langsung saja Faiz menceritakan tentang apa yang Ayun katakan padanya sewaktu masih berada di hutan, dia juga mengatakan betapa baik dan hangatnya sikap wanita itu kepadanya.
Fathir yang mendengar cerita Faiz tampak tertegun. Dia tidak menyangka jika Ayun akan mengatakan hal seperti itu pada putranya. Namun, apa yang wanita itu katakan sebenarnya adalah sesuatu yang biasa. Bukankah para orang tua memang akan menganggap teman dari anak mereka adalah anak juga?
"Sudahlah, kenapa aku harus memusingkan masalah biasa seperti ini." Fathir menghela napas frustasi. Mungkin karena selama ini putranya tidak pernah dekat dengan orang lain, itu sebabnya dia merasa kaget dan sedikit tidak nyaman.
"Aku boleh 'kan, manggil tante Ayun ibu?"
Fathir langsung menatap Faiz dengan tajam saat mendengar pertanyaan putranya itu. "Jangan keterlaluan, Faiz. Menganggap seseorang sebagai ibu, dan memanggilnya dengan sebutan ibu, itu adalah dua hal yang berbeda." Dia berucap dengan tajam.
Faiz terdiam, mencoba untuk memahami ucapan papanya. Namun, sepertinya tidak ada yang salah dengan apa yang dia ucapkan.
Faiz sendiri mengikuti langkah sang papa dengan gontai. Wajahnya tertekuk dengan sempurna, dan bibirnya juga maju beberapa senti ke depan.
"Cih, pala manggil ibu aja gak boleh," gerutu Faiz dengan kesal. Tentu saja ucapannya itu hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, terbukalah ruangan yang di tempati oleh Ayun membuat Fathir dan yang lainya segera menghampiri Dokter.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Fathir dengan cemas
Dokter itu tersenyum. "Keadaan pasien baik, Tuan. Hanya saja terdapat retakan dibagian tangan kanannya, sehingga beliau tidak bisa menggerakkan tangan itu dan mengakibatkan pembekakan."
Adel langsung menangis saat mendengar ucapan Dokter itu, sementara Fathir hanya diam sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"A-apa tangan ibuku bisa sembuh?" tanya Adel dengan tergagap, dia merasa sangat takut dan juga cemas.
Dokter itu mengangguk. "Tentu saja bisa, Nona. Tapi butuh waktu agar bisa sembuh." Dia lalu menjelaskan tentang keadaan tangan Ayun saat ini agar pihak keluarga tidak lagi merasa gelisah dan juga khawatir.
Setelah selesai, mereka semua diperbolehkan untuk melihat keadaan Ayun karena memang lukanya tidak terlalu parah. Namun, jangan sampai membuat keributan.
"Ibu!"
Ayun yang sedang duduk di atas ranjang langsung menoleh ke arah pintu. "Adel? Masuklah." Dia mengulas senyum tipis. Tampak tangannya sudah berbalut dengan gendongan.
Adel segera menghampiri ibunya dan menatap dengan sendu, tentu saja dia merasa sedih dengan keadaan ibunya itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Fathir dengan pelan, membuat Ayun beralih melihat ke arah
"Alhamdulillah aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit, Fathir," jawab Ayun dengan lembut.
Fathir menganggukkan kepalanya. Dia lalu menyuruh Ayun untuk kembali istirahat, setelah itu baru mereka bisa kembali pulang ke rumah masing-masing.
Tidak berselang lama, Fathir keluar dari ruangan itu untuk menghubungi seseorang. Dia harus memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah menyebabkan Ayun sampai masuk rumah sakit seperti ini.
"Cari tahu siapa orang-orang yang sudah memasang perangkap di hutan yang ada di puncak, setelah itu bawa mereka padaku!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.