Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 39. Perasaan Cemas dan Khawatir.


__ADS_3

Setelah berbincang dengan David dan para karyawan yang lain, Ezra mengajak sang ibu untuk ke ruangan yang nantinya akan ditempati oleh ibunya.


"Kenapa, Bu? Ayo, kita masuk!" ajak Ezra saat mereka sudah sampai di depan ruangan itu, dan ibunya hanya diam tepat di depan pintu.


Ayun terdiam di depan pintu sambil menatap pintu tersebut. Bayangan tentang ingatan masa lalu menari-nari dalam ingatannya, di mana ruangan yang akan dia masuki saat ini adalah ruangan yang dulunya adalah milik Evan.


Teringat jelas momen di mana Ayun dan Evan berada dalam ruangan itu pada saat masih menjadi sepasang suami istri. Dia memang jarang sekali datang ke kantor, tetapi dia dan kedua mertuanya akan datang saat ada acara. Seperti ulang tahun kantor, atau pun saat Evan tidak sempat untuk makan diluar dan minta diantarkan makanan.


Semua itu jelas masih tersimpan rapi dalam memori ingatan Ayun, hingga membuat air matanya kembali menetes. Namun, dengan cepat dia mengusapnya agar Ezra tidak melihat kesedihan yang mungkin saja muncul dalam sorot matanya.


Ezra sendiri hanya diam sambil memalingkan wajahnya ke arah samping. Tentu saja dia tahu apa yang saat ini sedang ibunya rasakan, dan dia tidak bisa memaksa sang ibu untuk melupakan ayahnya begitu saja.


Tidak mudah untuk melupakan seseorang yang sudah puluhan tahun hidup bersama dengan kita, walau orang tersebut sudah menorehkan luka yang sangat mendalam. Mungkin rasa sakitnya akan hilang seiring berjalannya waktu, tetapi apa yang terjadi jelas masih akan terus teringat selamanya.


"Maafkan aku, Mas. Sungguh aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengambil semua milikmu, aku hanya meminta hakku demi masa depan anak-anak kita." Perasaan bersalah hinggap dalam diri Ayun, karena dia paham bagaimana sakitnya kehilangan semua kerja keras yang sudah dilakukan selama puluhan tahun.


Namun, dia juga tidak bisa apa-apa. Pengadilanlah yang memutuskan semua ini, dan tentu saja tangan Tuhan lah yang bekerja sedemikian rupa.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Ayun sambil membuka pintu ruangan itu, membuat Ezra yang sejak tadi diam tampak tersenyum senang.


Ayun terpaku di ambang pintu saat melihat seisi ruangan yang di masukinya. Benarkah ruangan ini adalah ruangan yang dulu di tempati oleh Evan? Dia langsung menoleh ke arah sang putra dengan tatapan bingung, seolah sedang bertanya apa yang sudah terjadi dengan ruangan tersebut.


"Aku dan kakek sudah merenovasi ruangan ini supaya nyaman untuk Ibu tempati. Apa Ibu suka?" ucap Ezra dengan senyum lebar. Dia lalu menarik tangan sang ibu agar masuk ke dalam ruangan itu.


Ayun menggelengkan kepala dengan tatapan sendu. Ternyata sudah banyak sekali hal yang Ezra dan papanya siapkan untuknya, padahal dia tidak mengharapkan semua itu.

__ADS_1


"Ibu sangat menyukainya, Nak. Terima kasih," ucap Ayun dengan senyum simpul.


Ezra menganggukkan kepalanya, dia merasa senang karena ibunya menyukai ruangan itu. "Aku bisa merenovasi semua ruangan, Bu. Tapi aku tidak bisa merenovasi hati Ibu." Dia menatap ibunya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Dengan perlahan, Ayun mulai mendekati meja kerja yang akan dia tempati. Dadanya berdegup kencang, karena untuk pertama kalinya dia benar-benar akan bekerja di tempat ini.


Ayun lalu mengambil papan namanya yang ada di atas meja. Sungguh dia merasa sangat terharu sekali saat melihatnya. Dia lalu mengusap papan nama itu dan memeluknya dengan erat, berharap bahwa semuanya akan berjalan dengan baik di bawah kepemimpinannya.


"Ya Allah, aku belum pernah bekerja sebelumnya. Lalu Kau memberikan tugas dan tanggung jawab besar ini kepadaku, untuk itu bantulah aku. Aku tidak akan sanggup tanpa bantuan-Mu, ya Allah," gumam Ayun. Dia lalu menatap papan nama itu, dan beralih melihat ke arah putranya yang sejak tadi memperhatikan.


"Apa nanti Ibu bisa bekerja dengan baik, Nak?" tanya Ayun dengan tidak percaya diri, apalagi pengetahuannya benar-benar nol dalam dunia bisnis.


Ezra berjalan mendekati sang ibu lalu memaksa ibunya untuk duduk di kursi kerja yamg ada di hadapan mereka, tentu saja membuat sang ibu merasa terkejut. "Bagaimana perasaan Ibu sekarang?" Dia bertanya dengan pelan.


Ayun diam selama beberapa saat dengan jantung berdegup kencang. Rasa bahagia, takut, dan cemas terasa menyelimuti hatinya. Seperti ada beban berat yang tiba-tiba menimpa bahunya.


Ayun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Benar, ada banyak orang yang bisa mengajarinya. Lalu, kenapa dia harus merasa khawatir dan tidak percaya diri?


"Baiklah, mulai sekarang ibu akan rajin belajar dan juga bekerja," tukas Ayun dengan semangat 45.


"Itu baru ibuku," seru Ezra sambil bertepuk tangan dengan riang, membuat Ayun tergelak dengan perasaan yang lebih tenang.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Sherly sudah berada di rumah mamanya. Kedatangannya dan Suci jelas disambut dengan kemarahan oleh sang mama, apalagi saat dia mengatakan jika Evan sudah menceraikannya.


"Bagus, bagus sekali," pekik Sella sambil bertepuk tangan dengan keras. "Kau diceraikan oleh laki-laki itu, lalu sekarang kau datang kepadaku tanpa membawa apa-apa selain anakmu itu. Sebenarnya di mana akal sehatmu, Sherly?" Dia menatap dengan sengit.

__ADS_1


Sherly terdiam dengan tatapan kosong. Tidak ada satu kata pun yang diucapkan mamanya yang dibantah, atau memang tidak masuk ke dalam telinganya.


"Jawab mama!" ucap Sella dengan tajam. Dia mencengkram kedua bahu Sherly dan mengguncangnya dengan kuat.


Bersyukur saat ini Suci sudah masuk ke dalam kamar, jadi tidak melihat keributan yang sedang terjadi.


"Berhenti berteriak, Ma. Aku sedang pusing dan hancur seperti ini, bagaimana mungkin Mama masih saja menekanku?" balas Sherly dengan tidak kalah tajam. Dia menepis tangan sang mama, lalu menjambak rambutnya dengan frustasi.


"Hah!" Sella menjadi ikut stres sendiri saat melihat wanita itu. Hidupnya sendiri saja sudah susah, dan sekarang malah bertambah susah karena kedatangan Sherly dan Suci.


"Seharusnya kau meminta uang dari mereka, Sherly. Kau pikir mereka bisa mengusirmu begitu saja, hah? Mau makan apa kau dan anakmu itu, sementara mantan istri Evan dikasi semua harta mereka." Dia merasa tidak terima.


Sherly semakin merasa stres dengan apa yang mamanya ucapkan. Kepalanya terasa mau pecah, dia bahkan tidak bisa berpikir lagi saat ini.


"Berhenti bersikap bod*oh, Sherly! Sekarang hubungi dia, dan minta hakmu atau pun hak Suci. Lagian kenapa kau membawa anak itu sih, bikin susah saja," ucapnya dengan sarkas.


Tanpa menjawab ucapan sang mama, Sherly beranjak dari tempat itu menuju kamar di mana Suci berada lalu mengunci pintu kamar tersebut.


"Tunggu, Shelry!" teriak Sella sambil menggedor pintu kamar itu. "Keluar kau, dasar sinting. Kau pikir aku bisa menghidupi kalian berdua, hah?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2