Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 49. Memainkan Peran Dengan Baik.


__ADS_3

Ezra dan Adel langsung menganggukkan kepala mereka saat mendengar ucapan sang ibu, lalu bersiap untuk masuk ke dalam ruangan itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Ayun sambil membuka pintu ruangan itu. Senyum lebar terlihat diwajahnya membuat wajah itu tampak berseri-seri.


Semua penghuni yang ada di ruangan itu langsung melihat ke arah pintu, termasuk Evan dan Sherly yang tampak terkejut saat melihat kedatangan mereka.


"Wa'alaikum salam, Nyonya Prayuda," jawab seorang wanita yang merupakan istri dari Burhan, partner bisnis Evan.


Kedua wanita itu saling berpelukan dengan hangat dan cepika-cepiki sambil bertanya kabar masing-masing, sementara Ezra dan Adel menatap Sherly dengan tajam membuat wanita itu menunduk dengan tidak nyaman.


"Mari, silahkan duduk!" ucap Ayun untuk mempersilahkan wanita itu agar kembali duduk.


Ayun sendiri langsung duduk di samping Evan yang terus menatapnya dengan tajam, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Apalagi dengan wanita yang saat ini ada di samping kiri laki-laki itu.


"Maaf karena saya terlambat datang dan tidak bisa menyambut Anda, saya ada sedikit pekerjaan sekaligus menjemput putri saya," ucap Ayun sambil menganggukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Semua itu biasa terjadi, walau saya sedikit kaget saat tuan Evan menyambut kami bersama dengan sekretarisnya," balas wanita bernama Nia itu, membuat Ayun dan Ezra langsung mengernyitkan kening mereka


"Sekretaris?" ucap Ayun dengan penuh penekanan sambil melihat ke arah Evan dan Sherly secara bergantian.


"Iya, tidak mungkin aku menyambut tamu sendirian," jawab Evan dengan cepat, sementara Sherly hanya diam dengan perasaan gelisah.


"Tapi saya baru tahu kalau Anda punya sekretaris baru, karena selama ini 'kan kita berhubungan langsung," ucap Burhan.


"Dia tidak baru kok, Tuan. Sudah lumayan lama. Ya kan, Mas?" Ayun menatap Evan dengan tajam. "Cuma yah gitu, hanya ada beberapa orang saja yang tahu karena disembunyikan, karena dia harus mengerjakan sesuatu yang sangat rahasia." Sambungnya sambil menatap Evan dengan tersenyum penuh arti.


Evan yang akan menjawab ucapan Burhan tidak jadi mengeluarkan suaranya saat sudah keduluan oleh Ayun, sekarang dia hanya bisa menggertakkan gigi saat mendengar apa yang wanita itu katakan.

__ADS_1


"Ya, begitulah," ucap Evan yang terpaksa menjawab pertanyaan Ayun, membuat Burhan dan istrinya menganggukkan kepala mereka.


Sherly sendiri hanya bisa diam dengan kedua tangan terkepal erat menahan kesal. Dia tahu jika sejak tadi Ayun sedang berusaha untuk menjatuhkannya, tetapi dia tetap akan berdiri tegak tanpa terpengaruh sedikit pun.


Kemudian mereka saling berbincang dengan akrab, apalagi Ayun dan Nia yang sudah seperti lama kenal karena memang sifat Ayun yang mudah bergaul dan dekat dengan orang lain.


Setelah itu, Ayun mengajak mereka semua untuk makan siang bersama karena tidak terasa sekarang sudah pukul 1 siang. Pantas saja Adel terus menggeliat seperti cacing kepanasan, rupanya dia sudah merasa sangat lapar.


"Apa kau sudah mereservasi restoran untuk kita?" tanya Ayun pada Sherly, sepertinya saat ini dia benar-benar memerankan perannya dengan sangat baik.


Sherly terkesiap. Dia lalu melirik ke arah Evan yang sedang berbincang dengan Burhan, laki-laki itu sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang restoran dan hanya memintanya untuk datang ke kantor.


"Wah, sekretaris ayah sangat cekatan yah, sampai-sampai restoran saja belum disiapkan," cibir Ezra sambil terkekeh pelan, membuat Evan menghentikan obrolannya dengan Burhan.


Nia yang mendengarnya juga ikut menggelengkan kepala, sementara Ayun melirik ke arah Sherly yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


"Aku yang sudah menyiapkan restorannya," ucap Evan tiba-tiba membuat semua orang langsung melihat ke arahnya. Dia lalu menatap Ayun dan Ezra dengan tajam seperti akan menelan mereka bulat-bulat.


Evan mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Dia sudah memperingatkan mereka untuk tidak membuat masalah, tetapi Ezra dan Ayun sepertinya tidak mau mendengar.


"Apa yang putra Anda katakan itu benar, Tuan Evan. Saya bisa bergerak bebas karena sudah ada sekretaris yang mengerjakan semuanya, jika kita masih saja harus mengurusi hal-hal kecil seperti itu, untuk apa mempekerjakan mereka," ucap Burhan, dia membenarkan apa yang Ezra ucapkan membuat senyum laki-laki itu semakin lebar.


Evan terdiam dan tidak bisa lagi melakukan pembelaan. Jika dia terus membela Sherly, maka mereka pasti akan merasa curiga.


"Maaf, saya sudah membuat kesalahan. Saya akan segera memperbaikinya," ucap Sherly dengan menundukkan kepalanya. Suaranya terdengar bergetar karena sedang menahan kesal dan tangis secara bersamaan.


Ayun yang melihatnya menghela napas kasar. "Sudahlah, tidak apa-apa." Dia lalu mengajak mereka semua untuk pergi ke restoran yang berada tidak jauh dari tempat itu. Sebelumnya dia meminta maaf pada para tamu Evan karena sudah membuat mereka tidak nyaman.

__ADS_1


Semua orang lalu keluar dari ruangan itu untuk pergi ke restoran, begitu juga dengan Sherly yang sudah ingin pergi saja dari tempat itu.


"Maaf."


Langkah Sherly terhenti saat mendengar suara seseorang yang berbisik tepat di telinganya, dia lalu memalingkan wajah ke arah samping dan langsung menatap wanita itu dengan tajam.


Ayun tersenyum simpul. Tentu saja dia yang baru saja berbisik ditelinga wanita itu, hingga membuat wajah Sherly merah padam menahan emosi.


"Mbak sengaja ingin membuat aku malu, kan? Apa Mbak setakut itu, kalau aku merebut suami Mbak sepenuhnya?" ucap Sherly yang dipenuhi dengan cibiran.


Ayun tergelak sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan terlalu banyak berpikir, Sherly. Aku kan hanya memainkan peran yang kau dan suamimu itu berikan dengan baik, seharusnya kau juga begitu kan, sekretaris Sherly. Lakukan peranmu dengan baik dong, jangan terus-terusan mempermalukan diri sendiri." Dia tersenyum miring dengan wajah penuh ejekan, kemudian segera berbalik dan menyusul langkah semua orang.


Sherly menatap Ayun dengan nyalang. Matanya berkilat marah dengan urat-urat yang menonjol disekitar leher, dadanya bergemuruh hebat menahan amarah yang akan meledak saat ini juga.


"Kau lihat saja, aku pasti akan membalas semua perbuatanmu ini dengan 10 kali lipat lebih sakit dari apa yang kau lakukan. Aku akan merebut semua yang ada dalam hidupmu, sampai kau hancur dan kehilangan kewarasanmu!" ucap Sherly dengan geram.


Sherly lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan untuk menenangkan diri. Setelah itu dia segera berlari untuk menyusul mereka semua yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kau masuk ke dalam mobil ayahku?" bentak Adel saat Sherly sudah memasukkan satu kakinya ke dalam mobil, membuat semua orang langsung melihat ke arahnya.


"Adel, biarkan tante-" Evan tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Adel menatapnya dengan nyalang, tatapan yang baru pertama kali dia lihat dimata putrinya.


"Kalau dia masuk ke mobil ini, maka aku akan keluar."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2