
Napas Evan tersengal-sengal karena mengejar kepergian kedua anaknya, membuat beberapa orang yang ada di tempat itu menatapnya dengan heran.
Evan lalu menyandarkan tubuhnya ke gerbang tempat itu dengan menahan rasa sesak akibat berlari. Matanya menatap mobil Abbas dengan nanar, yang kini sudah melaju cepat dan hilang ditelan persimpangan jalan.
"Adel, Ezra," gumam Evan dengan lirih. Dia benar-benar menyesal telah menyakiti hati mereka, dan sungguh dia sama sekali tidak berniat untuk melakukan semua itu.
Evan sadar bahwa dia telah membuat kesalahan dan menghancurkan semuanya. Dia memang bukan suami yang baik, tetapi bukan berarti dia juga ayah yang tidak baik untuk kedua putra dan putrinya.
Semua perjuangan dan kerja keras Evan selama ini hanya untuk masa depan anak-anaknya, dan dia tidak sengaja melakukan kesalahan hingga membuat mereka terluka. Dia salah karena sudah berselingkuh di belakang Ayun, tetapi bukan berarti dia mengabaikan anak-anaknya.
"Ayah akan terus meminta maaf pada kalian, Nak. Ayah yakin suatu saat nanti kalian pasti akan mengerti dan memaafkan ayah." Lirihnya sambil berbalik dan berjalan menuju di mana mobilnya berada.
Sementara itu, di dalam mobil semua orang tampak diam dengan pikiran masing-masing. Ayun terus memeluk Adel dengan erat, dan berusaha untuk menenangkan sang putri walau hatinya dilanda rasa bersalah yang teramat dalam.
Abbas sendiri terus memperhatikan mereka dari spion dalam. Jelas dia ikut merasa sedih dengan apa yang sedang mereka rasakan saat ini, dan berjanji suatu saat nanti akan mengganti tangisan mereka itu dengan tawa bahagia.
Setelah dari pengadilan, Abbas mengantar Ayun dan kedua cucunya pulang ke rumah. Dia sengaja menawarkan tumpangan pada mereka karena ingin tahu di mana mereka tinggal saat ini, dan untungnya tidak terlalu jauh dari rumahnya.
"Mampir dulu, Tuan. Saya bisa membuatkan teh atau kopi untuk Anda," tawar Ayun setelah mereka sampai di rumah. Terlihat adik ipar dan juga kedua ponakannya juga menyambut kedatangan mereka.
Abbas tersenyum. "Maaf, Ayun. Aku harus ke rumah sakit." Dia langsung menutup mulut karena keceplosan mengatakan tentang rumah sakit.
__ADS_1
Ayun mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Abbas. Apakah laki-laki paruh baya itu ingin menemui ibunya, atau ada orang lain yang dirawat di rumah sakit?
"Apa ada yang dirawat di rumah sakit, Tuan?" tanya Ayun dengan khawatir.
Abbas terlihat bingung ingin mengatakan tentang Nindi atau tidak, dia takut semakin menambah masalah dan membuat wanita itu kepikiran.
"Nindi baik-baik saja kan, Tuan?" tanya Ayun kembali, membuat Abbas terkesiap. Melihat laki-laki paruh baya itu diam, dia jadi khawatir terhadap keadaan Nindi yang memang sedang sakit.
Abbas menghela napas kasar. "Nindi sedang dirawat di rumah sakit sejak semalam, tapi semoga keadaannya baik-baik saja." Dia menjawab dengan tersenyum agar tidak menambah beban pikiran.
Abbas lalu bergegas pamit dan segera menuju rumah sakit. Sebenarnya sejak tadi dia sudah merasa khawatir tentang keadaan Nindi, dan semoga putrinya baik-baik saja.
Ayun menatap kepergian Abbas dengan sendu. Dia lalu masuk ke dalam rumah dan segera menyiapkan makan siang untuk keluarganya, sekalian dibawa ke rumah sakit untuk Abbas juga karena nanti dia akan mengunjungi sang ibu.
Sherly lalu melirik ke arah Nia yang juga berada di tempat yang sama dengannya. Sejak semalam dia terus memaki dan berteriak pada wanita itu, tetapi polisi memberikan ancaman hingga dia terpaksa menutup mulut.
"Mau sampai kapan aku ada di sini? Kenapa, kenapa tidak ada yang melepaskanku?" gumam Sherly dengan sendu. Dia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Sampai kapan dia akan mendekam dalam penjara? Tidak, dia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Dia bersumpah akan melakukan apa saja agar bisa dibebaskan.
"Nona Sherly!"
Sherly terlonjak kaget saat mendengar panggilan seseorang, sontak dia langsung mendongakkan kepala dan menatap seorang polisi yang sudah membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Pengacara Anda ingin bertemu," ucap lelaki itu sambil menyuruh Sherly untuk cepat keluar.
Sherly beranjak bangun dari tempat itu dan berjalan gontai keluar dari sana. Dia menyeret langkahnya untuk menemui sang pengcara yang sudah menunggu di ruang pertemuan.
"Apa Anda bisa membebaskan aku?" tanya Sherly secara langsung.
Pengacara itu menganggukkan kepalanya membuat Sherly menatap dengan tidak percaya. "Saya sudah bicara dengan pengacara suami Anda, Nyonya. Dan beliau bilang tuan Evan berniat untuk mencabut laporannya."
"Apa kau serius?" tanya Sherly dengan tidak percaya dan raut bahagia, dia bahkan sampai menggenggam kedua tangan pengacara itu.
Dengan cepat pengacara tersebut melepaskan genggaman tangan Sherly karena merasa tidak nyaman. "Benar, Nyonya. Hanya saja suami Anda masih merasa bimbang, apalagi harus kehilangan banyak uang karena kasus ini."
Senyum merekah terbit diwajah Sherly. "Lakukan apapun untuk membebaskan aku, aku sudah tidak tahan lagi berada di sini. Jual saja semua barang-barangku, rumah, mobil, semuanya. Aku rela asal aku bisa bebas dari tempat ini, aku mohon." Dia meminta dengan penuh harap.
Pengacara itu menganggukkan kepalanya. "Saya mengerti, Nyonya. Tapi ada hal lain yang jauh lebih ampuh dari semua itu, yaitu dengan memanfaatkan putri Anda. Karena tuan Hery juga mengatakan jika suami Anda terlihat goyah karena putri Anda, untuk itu manfaatkan dia supaya Anda bisa bebas."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.