Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 79. Kabar Dari Pengacara.


__ADS_3

Setelah bicara dengan Dokter, Ayun dan Yuni segera menjalani pemeriksaan secara menyuluruh untuk melihat bagaimana kondisi kesehatan mereka. Juga memeriksa kecocokan dengan pasiennya, karena percuma saja jika akhirnya malah tidak cocok.


Pemeriksaan itu memakan waktu sampai 2 jam lamanya. Setelah semuanya selesai, mereka dipersilahkan untuk pergi dan menunggu hasil dari pemeriksaan itu selama beberapa hari.


Ayun melangkah gontai menuju ruangan sang ibu. Namun, senyum tipis terbit dibibirnya saat melihat ibunya sedang tertidur dengan nyaman di atas ranjang.


Air mata kembali menetes dengan apa yang terjadi saat ini. Ayun berharap bahwa ginjalnya akan cocok untuk sang ibu, dan dia yakin jika tidak punya masalah apapun dengan kesehatannya.


"Aku akan melakukan apapun untuk menyembuhkam Ibu, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang terburuk terjadi." Sekilas Ayun memejamkan kedua matanya, lalu kembali membukanya saat merasakan ada sebuah tangan yang menggenggam tangannya.


"Ibu baik-baik saja?" tanya Ezra. Dia yang sempat tertidur di tempat itu terbangun saat mendengar langkah sang ibu.


Ayun tersenyum sambil menganggukkan kepala, tangannya terulur mengusap air mata yang membasahi wajah.


"Ibu baik-baik saja, Nak. Sekarang pulanglah, biar ibu yang menjaga nenek di sini," ucap Ayun. Sudah dari semalam putranya berada di rumah sakit, pasti Ezra merasa sangat lelah sekali sekarang.


Ezra menganggukkan kepalanya dan sekalian akan menjemput Adel ke sekolah. Barusan Adel meneleponnya dan meminta untuk dijemput, karena belum pernah naik angkutan umum jadi merasa takut.


"Ya sudah, hati-hati di-" Ayun tidak dapat melanjutkan ucapannya saat ponselnya berdering. Dengan cepat dia mengambil benda pipih itu dan menjawab panggilan masuk dari Bram.


Ezra sendiri masih diam di sana, dia merasa penasaran saat melihat nama pengacara sang ibu yang sedang menelepon.


"Apa?" Ayun memekik kaget saat mendengar ucapan Bram dari sebrang telepon, membuat Ezra tersentak kaget juga. Bahkan Hasna yang tadi sedang tidur juga ikut terkesiap.


"Ba-baiklah, Pak. Apa, apa Anda bisa bertemu dengan saya?" tanya Ayun. Dia ingin mendengar berita yang Bram katakan secara langsung, tentu saja dia merasa sangat terkejut saat mendengarnya.


"Tentu saja, Buk. Saya juga ingin sekalian memberikan surat panggilan dari kepolisian untuk Anda," jawab Bram.

__ADS_1


Ayun menganggukkan kepalanya dan meminta Bram untuk menemuinya di kafe yang ada di samping sekolah Adel, supaya bisa sekalian ikut dengan Ezra.


"Ada apa, Bu?"


"Ada apa, Nak?"


Ezra dan Hasna bertanya secara bersamaan saat Ayun sudah selesai bicara di telepon, membuat Ayun menghela napas kasar dan lelah.


"Aku harus segera bertemu dengan Pak Bram, Bu. Ada hal penting yang ingin dia katakan, ini tentang pekerjaan mas Evan," jawab Ayun, membuat ibu dan putranya mengernyitkan kening bingung.


"Ada apa dengan pekerjannya?" tanya Ezra dengan tajam, membuat Ayun menepuk bahunya.


"Ibu akan ceritakan nanti, sekarang bawa ibu ke kafe yang ada di samping sekolah Adel, sekalian jemput adikmu," ucap Ayun, dia lalu beralih melihat ke arah sang ibu.


"Maaf, Bu. Sepertinya aku harus pergi dan tidak bisa menemani Ibu." Lirihnya dengan sendu, membuat Hasna menggelengkan kepala.


Ayun menganggukkan kepalanya dan segera menyalim tangan sang ibu, dia bergegas pamit dan berlalu pergi bersama dengan Ezra.


Hasna menghela napas kasar saat melihat sang putri. Dia hanya bisa berdo'a semoga tidak ada masalah lagi yang terjadi pada Ayun, dan semua berakhir baik-baik saja.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan baru saja sampai di rumahnya. Dia memutuskan untuk tidak ke rumah Sherly karena merasa pusing, tambah lagi nanti mendengar suara wanita itu yang pasti akan membuat kepalanya semakin mau pecah.


Brak.


Endri dan Mery yang sedang duduk di ruang keluarga terjingkat kaget saat mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar, sampai akhirnya muncullah Evan ke dalam ruangan itu.


"Setelah kehilangan hati, sekarang kau juga kehilangan kesopananmu, Evan," seru Mery dengan tajam. Matanya menyorot putranya itu dengan nyalang.

__ADS_1


Evan memghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kasar. Dia mengusap wajahnya penuh frustasi dengan kepala berdenyut sakit.


Mery mengernyitkan keningnya melihat apa yang Evan lakukan. "Apa sidangmu tidak berjalan lancar?" Dia bertanya dengan tajam, padahal dia sudah berniat untuk tidak bertanya apapun tentang persidangan itu.


"Tidak. Tidak ada yang berjalan sesuai dengan rencanaku," jawab Evan dengan lirih. Terlihat jelas keputus-asaan diwajahnya saat ini.


Endri dan Mery saling pandang dengan bingung. "Bukankah dari awal semua ini memang kemauanmu? Kau sudah mengusir istri dan juga anak-anakmu. Lalu, apa lagi yang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kau inginkan?" Endri bertanya dengan sarkas, seolah mengatakan jika semua yang terjadi ini sudah sesuai dengan apa yang Evan inginkan.


Evan menghela napas kasar. Dia lalu menceritakan apa yang terjadi di sidang perceraiannya dan Ayun tadi, juga tentang masalah hilangnya berkas penting dari dalam ruangan.


"Aku bahkan sudah menggadaikan aset-aset berhargaku untuk mendapatkan pelelangan itu," ucap Evan saat sudah selesai menceritakan semuanya, dia bahkan sudah kehilangan uang hampir 1 Milyar demi pelelangan itu.


"Apa?" Mery memekik kaget saat mendengar ucapan Evan. "Apa kau sudah gila, Evan?" Dia berteriak dengan tidak percaya.


Lain hal dengan Mery, Endri malah tertawa miris saat mendengarnya membuat Evan langsung menatap sang ayah dengan tajam.


"Ayah suka melihatku seperti ini?" tanya Evan dengan sarkas.


Endri menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak, tapi apa yang kau alami ini memang sudah seharusnya terjadi. Kau mengusir istri dan anak-anakmu yang selama ini menjadi sumber rezekimu, jadi sudah seharusnya apa yang kau miliki juga ikut pergi bersama dengan mereka."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2