Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 81. Seharga Satu Milyar.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Ayun dan kedua anaknya sudah sampai di halaman kantor polisi. Begitu juga dengan Sherly dan Sella, mereka semua melangkah keluar dari taksi dan bergegas berjalan menuju tempat tersebut.


Ayun menghentikan langkahnya saat melihat Sherly dan Sella berjalan ke arah kantor polisi juga, karena saat ini posisi mereka berada tepat di depannya.


"Itukan pelakor yang bersama Ayah, Bu," ucap Adel sambil menunjuk ke arah Sherly dan Sella, membuat langkah kedua wanita itu terhenti dan segera berbalik karena mendengar ucapannya.


Sherly menatap Ayun dengan tajam saat sudah membalikkan tubuh, tidak disangka mereka bisa bertemu di tempat ini. Itu berarti bukan hanya dia saja yang dipanggil ke kantor polisi, melainkan mereka juga.


"Wah, tidak disangka kita bertemu di sini, Mbak," seru Sherly dengan ramah, tetapi sorot matanya terlihat jelas ketidaksukaan terhadap Ayun.


Ayun tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. "Benar, tidak disangka kita bertemu di sini. Jadi, bisakah kau minggir, Sherly? Aku dan anak-anakku ingin masuk ke dalam." Dia berucap dengan santai, tetapi setiap kata yang diucapkan penuh dengan penekanan.


Sella tergelak saat mendengarnya. "Kenapa buru-buru, kau malu berhadapan dengan kami?" Dia menatap sinis dan penuh dengan kebencian.


Ezra yang sejak tadi diam tampak memikirkan sesuatu. Melihat Sherly, tiba-tiba dia teringat dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. Tentu saja sangat berkaitan erat dengan wanita itu, yang tidak sengaja dia lihat.


"Tunggu, apakah sesuatu yang hilang itu ada kaitannya dengan apa yang aku lihat waktu itu?" Ezra baru ingat tentang pertemuan Sherly dengan istri dari tamu ayahnya yang pernah berkunjung ke kantor, mungkinkah semua itu saling berkaitan?


"Kenapa aku harus merasa malu?" tanya Ayun dengan tersenyum lebar, ucapannya membuat Ezra tersadar dari lamunan. "Dari pada merasa malu, aku malah lebih merasa kasihan." Sambungnya.


Sherly dan Sella mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan Ayun, begitu juga dengan Ezra dan Adel yang tidak mengerti maksud dari ucapan sang ibu.


"Aku hanya merasa kasihan dengan Sherly dan juga Anda, Nyonya. Kira-kira, sampai kapan kalian akan menganggapku musuh seperti ini? Apa kalian tidak merasa lelah?"

__ADS_1


"A-apa?" ucap Sherly dan Sella secara bersamaan. Mereka menatap Ayun dengan tajam, dan kenapa pula wanita itu berkata demikian? Bukankah mereka memang musuh?


"Jadi maksudmu, kau ingin kami anggap teman, begitu?" tanya Sella dengan sinis. Mimpi saja jika dia akan menganggap wanita yang sudah merebut suaminya sebagai teman.


"Tentu saja tidak, Nyonya." Ayun menggelengkan kepalanya. "Saya tidak pernah menganggap kalian musuh, apalagi teman. Dan itu artinya kalian sama sekali tidak saya anggap, memang apa pentingnya menganggap kalian teman atau musuh? Hanya buang-buang energi baik dalam hidup saya, karena sejak awal kalian adalah pendatang haram." Dia berucap dengan tajam membuat kedua anaknya menatap tidak berkedip, sementara Sherly dan Sella menatapnya penuh amarah.


"Jangan merasa hebat, Ayun. Kau pikir kau sudah menang dan mendapatkan semuanya, hah?" bentak Sherly dengan emosi, membuat Ezra menajamkan tatapannya.


Seketika suasana menjadi panas dan menegangkan, sampai akhirnya mereka semua menoleh ke arah samping saat mendengar langkah kaki seseorang.


Evan yang juga baru sampai di tempat itu bersama dengan pengacaranya merasa kaget saat melihat apa yang terjadi, apalagi saat mendengar ucapan Ayun yang tentu saja sangat tajam terdengar.


"Aku tidak merasa menang karena sejak awal aku sedang tidak berlomba, tapi aku sedang mempertahankan hakku sebagai seorang istri, dan seorang wanita yang suaminya direbut oleh wanita lain," ucap Ayun sambil melirik ke arah Evan. Dia yang awalnya bersikap biasa saja, mendadak panas saat mendengar ucapan Sherly dan Sella. Bagaimana mungkin mereka yang berbuat dalah tetapi tidak punya rasa malu sama sekali?


Tidak mau membuang waktu bersama mereka, Ayun lalu mengajak kedua anaknya untuk masuk ke dalam kantor polisi. Lebih cepat mereka menemui polisi, maka lebih cepat semuanya selesai.


Ezra dan Adel menganggukkan kepala mereka dan mengikuti langkah sang ibu, tetapi langkah Ezra terhenti saat berada tepat di hadapan Sherly.


"Bersenang-senanglah selagi kau bisa, Sherly. Karna setelah ini kau pasti akan menangis darah," ucap Ezra dengan suara tertahan, membuat Sherly terkesiap dengan apa yang dia katakan.


"Kau-"


Ezra langsung pergi dari tempat itu dengan senyum sinis, membuat Sherly tidak dapat melanjutkan apa yang ingin dia ucapkan dan menatap laki-laki itu dengan heran.

__ADS_1


Setelah mereka pergi, Sherly lalu memalingkan wajah ke arah Evan yang masih ada di tempat itu dan menatap ke arah Ayun dan anak-anaknya.


"Evan!" panggil Sherly dengan tajam, membuat Evan terkesiap dan langsung menatapnya. "Ke mana saja kau dari semalam, kenapa tidak menghubungi aku?" Dia bertanya dengan menggebu-gebu.


Evan menghela napas kasar. "Ada banyak masalah yang harus aku selesaikan, Sherly. Dan aku juga kehilangan berkas yang sangat berharga, itu sebabnya aku tidak ada waktu untukmu." Dia membalas dengan kesal.


"Ta-tapi kenapa sampai kami dipanggil ke kantor polisi hanya karena berkas yang kau bilang hilang itu? I-itukan hanya sekedar berkas saja," ucap Sherly. Dia kembali merasa takut, tetapi tiba-tiba sang mama mencengkram lengannya.


"Hanya kau bilang?" ucap Evan dengan tajam. "Berkas itu bukan berkas biasa, dan aku sudah menghabiskan uang satu Milyar hanya untuk mendapatkannya."


Deg.


Sherly dan Sella terlonjak kaget saat mendengarnya. Jantung mereka langsung berdegup kencang dengan keringat dingin yang mulai menjalar di seluruh tubuh.


"Sa-satu Milyar?"


"Ya, dan aku pastikan siapapun yang mengambilnya akan membusuk di dalam penjara."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2