
Fathir segera menghubungi seseorang yang sangat dia kenal dan ahli dalam hal penyelidikan, dia tidak akan membiarkan orang-orang terkutuk itu lepas begitu saja.
Setelah memberikan perintah pada orang tersebut, Fathir kembali ke dalam ruangan di mana Ayun berada. Tampak Adel sedang duduk di samping wanita itu, sementara Faiz juga duduk di samping ranjang sambil memperhatikan mereka.
"Jangan menatap ibuku seperti itu!" ucap Adel dengan tajam sambil menatap ke arah Faiz yang sejak tadi memperhatikan ibunya, membuat Ayun mengernyitkan kening heran.
"Memangnya apa salahku? Aku kan cuma menatap saja," sahut Faiz dengan sinis sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Adel mencebikkan bibir geram melihat tingkah Faiz, tampak jelas jika laki-laki itu sangat mendambakan ibunya. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia tidak mau anak nakal dan jahat seperti Faiz menganggap ibunya seperti ibu laki-laki itu sendiri.
Ayun yang sejak tadi diam tampak menghela napas kasar. Tidak di puncak atau pun di rumah sakit, kedua anak itu selalu saja berdebat dan tidak ada yang mau mengalah. Namun, dia merasa senang karena setidaknya mereka masih mau bertegur sapa walau isinya hanya perdebatan saja.
"Jangan ribut, Nak. Ini rumah sakit, nanti mengganggu pasien lain," ucap Ayun sambil menepuk bahu Adel.
Adel yang masih saling serang kata dengan Faiz langsung melihat ke arah sang ibu. "Dia itu Bu, yang mulai duluan." Dia menunjuk tepat ke arah Faiz sambil menghunuskan tatapan sengit.
Faiz juga tidak mau kalah. Tentu saja dia ikut menunjuk ke arah Adel dan membalikkan perkataan gadis itu, tidak lupa diiringi dengan ejekan yang membuat Adel kembali murka.
"Hentikan, Faiz!" seru Fathir dengan tajam. Dia yang sejak tadi berdiri di ambang pintu sudah tidak tahan melihat tingkah kekanakan putranya, padahal selama ini Faiz tidak pernah seperti itu.
Ayun menoleh ke arah Fathir saat mendengar suara laki-laki itu, sementara Adel dan Faiz langsung menutup mulut mereka rapat-rapat.
"Bagaimana, apa besok aku sudah boleh pulang?" tanya Ayun pada Fathir. Tadi laki-laki itu mengatakan jika ingin menemui Dokter untuk bertanya tentang kepulangannya.
Fathir menganganggukkan kepala. "Sebenarnya setelah infus ini habis, kau sudah boleh pulang. Tapi karena ini sudah larut, maka kita akan pulang besok." Dia menunjuk ke arah botol infus yang sudah tinggal setengah, membuat Ayun menghela napas lega.
"Syukurlah kalau begitu," gumam Ayun. Dia tidak mau membuat keluarganya menjadi cemas jika besok belum diperbolehkan keluar dari rumah sakit, apalagi seharusnya besok mereka semua sudah kembali ke rumah.
***
Keesokan harinya, tepat pukul 4 pagi Ayun terbangun saat seorang perawat mengambil botol infusnya yang sudah kosong.
__ADS_1
"Maaf jika saya menganggu Anda, Buk," ucap wanita itu sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah karena sudah membangunkan pasien, tetapi dia memang harus melepas infus itu karena sudah habis.
"Tidak apa-apa, Suster. Terima kasih," ucap Ayun sambil tersenyum tipis.
Perawat itu lalu membereskan pekerjaannya dan berlalu keluar dari ruangan itu, sementara Ayun tampak memperhatikan dua orang lelaki yang saat ini sedang terlelap di atas sofa.
"Ya Allah, padahal semalam aku sudah bilang supaya tidur di hotel aja," gumam Ayun sambil menghela napas kasar.
Semalam saat sebelum tidur, Ayun sudah mengatakan pada Fathir agar mengajak Faiz untuk tidur di hotel supaya mereka merasa nyaman. Namun, kedua lelaki itu malah tetap tidur di sofa dalam ruangannya.
Ayun bergegas turun dari ranjang lalu keluar ruangan. Dia berniat untuk meminta selimut tambahan pada petugas rumah sakit itu.
Setelah mendapatkan selimut, Ayun kembali ke ruangannya dan langsung membentangkan selimut itu ke tubuh Fathir.
Ayun merasa kesusahan karena hanya bisa menggunakan satu tangan saja, tetapi dia tetap harus melakukannya karena pagi ini cuaca terasa sangat dingin dan dia yakin jika laki-laki itu pasti kedinginan.
Duk.
Deg.
Dada Fathir berdegup kencang saat melihat apa yang terjadi, dia merasa kaget dan heran disaat bersamaan hingga jantungnya terasa ingin melompat keluar.
Ayun yang tidak sadar jika Fathir terbangun masih sibuk meniup-niup tangannya yang berdenyut sakit. Setelah sedikit membaik, dia lalu kembali memegang ujung selimut supaya bisa menutup semua tubuh laki-laki itu.
"Astaghfirullah!" Ayun terlonjak kaget saat melihat kedua mata Fathir terbuka dengan sempurna, sontak tubuhnya mundur ke belakang dan kakinya tidak sengaja tersangkut diselimut.
Bruk.
"Ssh." Ayun mendesis menahan sakit saat tangannya menubruk sesuatu, kedua matanya seketika terpejam karena menahan rasa sakit tersebut. Tapi tunggu, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres saat ini. Kenapa Ayun merasa seperti sedang berada di atas tubuh seseorang?
Ayun langsung membuka kedua matanya saat mendengar suara detak jantung seseorang, dan dia kembali terkejut karena ternyata dia benar-benar sedang berada di atas tubuh Farhir.
__ADS_1
"A-apa yang terjadi?" Ingin sekali Ayun berteriak saat ini juga, tetapi entah kenapa lidahnya terasa keluh dan tidak bisa mengeluarkan suara.
Fathir sendiri terus menatap Ayun dengan tajam. Tadi dia sengaja manarik tubuh wanita itu agar tidak terjatuh ke lantai, alhasil tubuh Ayun malah menimpa tubuhnya sendiri.
Untuk beberapa saat pandangan mereka berdua saling bertemu dengan dada berdegup seirama. Untuk kali kedua mereka saling bertatapan seperti ini, apalagi posisi mereka saat ini sangat int*im sekali.
"Maaf, aku tidak sengaja menarikmu," ucap Fathir dengan suara serak khas bangun tidur.
Ayun terkesiap saat mendengar suara Fathir. Dia bergegas bangun dari tubuh laki-laki itu dengan wajah merah padam.
"Ti-tidak apa-apa. Aku, aku mau ke kamar mandi dulu." Ayun segera pergi ke kamar mandi karena merasa malu dan canggung, sementara Fathir tampak tersenyum tipis melihat reaksi wanita itu.
"Aku benar-benar gila," gumam Fathir sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Entah sudah berapa kali dada Fathir berdebar seperti ini hanya karena Ayun. Berulang kali dia menyangkal sebuah perasaan yang tidak boleh masuk ke dalam hatinya, tetapi perasaan itu malah semakin bertambah parah.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau lagi mengenal cinta, aku tidak mau." Fathir menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk mengembalikan akal pikirannya.
Dia tidak mau terjatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya, dan kembali mengalami kehancuran hanya karena cinta.
Tanpa Fathir sadari, sebenarnya sejak tadi Faiz sudah bangun. Dia terbangun saat mendengar suara Ayun dan memilih untuk diam sambil memperhatikan apa yang terjadi antara papanya dan wanita itu.
"Apa papa menyukai tante Ayun? Tapi, kenapa papa malah tampak stres seperti itu?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1