Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 45. Kesempatan Kedua.


__ADS_3

Ayun langsung keluar dari ruangan itu tanpa menoleh ke belakang. Dia melangkahkan kakinya dengan pasti, dan merasa sedikit lega karena sudah meminta maaf secara langsung pada Evan.


Evan sendiri terdiam dengan bibir terkatup rapat. Matanya menatap ke arah Ayun yang sedang berjalan meninggalkannya, tanpa sadar air mata tampak menetes dari sudut matanya.


"Ayun," gumam Evan dengan sendu, sungguh rasa sakitnya terasa sangat nyata menyayat-nyayat hatinya. Kenapa, kenapa dia baru menyesal sekarang? Andai dia lebih cepat sadar dan menyudahi hubungannya dengan Sherly, maka semua tidak akan jadi seperti ini.


Di sisi lain, Ayun sudah keluar dari ruangan itu dan berhasil menghadapi semuanya dengan tenang.


"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Fathir pada saat melihat kedatangan Ayun, membuat Keanu yang berdiri di dekat jendela menoleh ke arah mereka.


Ayun menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk tersenyum. "Saya baik-baik saja, Tuan. Saya permisi duluan, assalamu'alaikum." Dia langsung pergi meninggalkan Fathir tanpa menunggu jawaban dari laki-laki itu, lalu menghampiri Keanu dan mengatakan jika dia akan pulang duluan.


"Tapi Mbak pulang sama siapa?" tanya Keanu. Tadi Ayun datang bersama dengan Fathir dan supirnya disuruh pulang duluan, lalu wanita itu juga belum bisa mengendarai mobil sendiri.


"Mbak bisa naik taksi, Ken. Nanti Pak Komar yang jemput mobilnya," jawab Ayun.


Keanu lalu mengatakan jika dia yang akan mengurus mobil itu membuat Ayun tersenyum lega, wanita itu lalu pergi dari tempat tersebut dengan diiringi tatapan sendu dari Keanu dan juga Fathir.


"Dia benar-benar wanita hebat," gumam Fathir sambil terus menatap ke arah Ayun. Jarang sekali ada wanita sebaik dan setegar wanita itu, walau sudah diperlakukan dengan sedemikian rupa oleh mantan suaminya tetapi tetap bisa bersikap tenang dan tidak dikuasai emosi.


Fathir menghela napas berat. Andai dulu istrinya memiliki sifat yang sama seperti Ayun, pasti hidupnya tidak akan kacau balau. Bukan hanya hidupnya saja, tetapi seluruh keluarganya menjadi hancur. Apalagi imbasnya sampai ke putranya sendiri yang selalu saja membuat keributan.


"Fathir!"


Fathir terkesiap saat mendengar panggilan Keanu, membuat laki-laki itu menatap heran.


"Kau melamun?" tanya Keanu. Sudah berulang kali dia memanggil Fathir, tetapi tidak juga ada sahutan.


"Maaf, Tuan. Mari, kita masuk!" Dia segera membukakan pintu ruangan itu, membuat Keanu menghela napas kasar sambil beranjak masuk ke dalam tempat itu.


Setelah kepergian Ayun, ketiga lelaki itu kembali melanjutkan pembahasan yang sempat tertunda. Sepanjang pembicaraan, Evan hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Dia bahkan langsung menandatangani perjanjian itu tanpa perlawanan, jelas saja membuat Keanu merasa senang.


"Ini sisa uang untuk Anda," ucap Fathir sambil memberikan selembar cek untuk Evan, dengan nominal uang sebesar 400 juta.

__ADS_1


Evan mengambilnya dengan tatapan nanar. Hatinya terasa semakin berdenyut sakit, tetapi dia benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Anda seorang pembisnis, saya yakin Anda akan kembali mencapai puncak setelah memulainya," tukas Keanu, membuat Evan yang sedang menunduk langsung melihat ke arahnya.


Keanu dan Fathir lalu beranjak dari kursi dan berjalan ke arah pintu untuk pergi dari tempat itu. Namun, langkah Keanu terhenti saat berada di ambang pintu membuat Fathir dan Evan menatap heran.


"Tidak semua orang mendapat kesempatan kedua, jadi jangan disia-siakan," ucap Keanu, dia lalu kembali melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.


Evan kembali diam mendengar ucapan Keanu. Benar, tidak semua orang mendapat kesempatan kedua jika sudah melakukan kesalahan besar seperti apa yang sudah dia lakukan.


Dengan perlahan, Evan beranjak dari kursi dan berjalan gontai keluar dari ruangan itu. Langkah demi langkah terasa berat, tetapi dia mencoba untuk percaya bahwa dia pasti bisa memulai semuanya dari awal lagi.


Setelah keluar dari restoran, Fathir membawa mobil Ayun menuju rumah wanita itu. Dia sendiri yang berinisiatif untuk mengantarkannya, karena memang tadi dia yang sudah menyuruh supir untuk pulang duluan.


Beberapa saat kemudian, Fathir sudah sampai di halaman rumah mewah Ayun bertepatan dengan Adel yang baru saja pulang sekolah.


"Kau baru pulang sekolah?" tanya Fathir sambil mendekati Adel yang terdiam di samping mobil.


Fathir menganggukkan kepalanya. "Jangan takut, aku tidak makan orang kok." Dia tahu jika putrinya Ayun itu takut terhadapnya, sangat jauh berbeda sekali dengan Ezra.


Adel kembali menganggukkan kepala. Tentu saja dia merasa takut karena laki-laki yang berdiri di hadapannya saat ini adalah donatur terbesar di sekolahnya. Memang sih, Fathir tidak pernah memarahinya atau bahkan bertegur sapa dengannya di sekolah. Hanya saja aura laki-laki itu sangat mengintimidasi.


"A-apa Bapak ingin menemui Ibu?" tanya Adel saat mereka terdiam selama beberapa saat di tempat itu, dan dia tahu jika ibunya sering berurusan dengan laki-laki itu.


"Tidak, aku hanya ingin mengantar mobilnya."


Fathir menjawab dengan cepat sambil menyodorkan kunci ke hadapan Adel, membuat gadis remaja itu menatap ke arahnya.


"Ambillah, ini kunci mobil ibumu," ucap Fathir kemudian.


Adel terdiam sambil mengernyitkan kening karena merasa heran kenapa mobil ibunya bisa berada di tangan laki-laki itu.


"Kau tidak mau mengambilnya?"

__ADS_1


Dengan cepat Adel menganggukkan kepalanya dan mengambil kunci mobil itu dari tangan Fathir, membuat laki-laki itu tersenyum tipis.


"Te-terima kasih," ucap Adel.


Fathir menganggukkan kepalanya dan berlalu pamit untuk kembali ke perusahaan. Dia tidak perlu bertemu dengan Ayun karena memang hanya ingin mengantar mobil itu saja.


"Tu-tunggu, Tuan Fathir!"


Fathir yang sudah hampir mencapai gerbang menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu berbalik dan melihat Ayun sedang berjalan ke arahnya.


Ayun yang tadinya sedang berada di dalam kamar beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Dia lalu tidak sengaja mendengar suara Adel, dan melihat dari jendela siapa yang sedang bicara dengan putrinya itu.


Dia merasa terkejut saat melihat keberadaan Fathir, dan dengan cepat keluar rumah saat laki-laki itu pamit pada Adel.


"A-Anda mau langsung pergi?" tanya Ayun dengan napas tersengal akibat berlari mengejar laki-laki itu.


Fathir menganggukkan kepalanya. "Saya mengantar mobil Anda, dan kuncinya sudah sama Adel." Dia menunjuk ke arah Adel yang masih berada di tempat itu.


Ayun mengangguk paham, dia lalu mengucapkan terima kasih pada Fathir karena sudah mengantar mobilnya dan mempersilahkan laki-laki itu untuk singgah sebentar ke rumahnya.


"Tidak perlu, Nona. Saya harus kembali ke perusahaan," tolak Fathir, bisa-bisa Keanu marah jika dia pergi terlalu lama.


"Saya akan menyiapkan makan siang, singgahlah sebentar untuk makan siang bersama dengan keluarga saya, Tuan. Ibu saya ingin mengucapkan terima kasih pada Anda."





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2