Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 91. Rasa Sakit yang Tidak Terbilang.


__ADS_3

Mery yang melihat kedatangan seorang wanita sambil menggendong anak kecil menatap dengan heran, dia bertanya-tanya siapa wanita itu dan mau apa datang ke rumahnya.


"Silahkan duduk," ucap Endri mempersilahkan, dia lalu melirik ke arah sang istri yang juga sedang meliriknya dengan tatapan bertanya-tanya.


Sella mendudukkan Suci di sampingnya dengan nyaman, dia lalu tersenyum ke arah Mery yang sejak tadi menatapnya dengan tajam. Setidaknya dia harus terlihat ramah dan baik agar nantinya tidak terjadi keributan saat tinggal di rumah ini.


"Siapa kau?" tanya Mery dengan tajam, dia tetap berdiri walau wanita itu dan suaminya sudah duduk di sofa.


"Perkenalkan, nama saya Sella. Saya adalah mamanya Sherly, istri kedua Evan,"


"Apa?" Mery memekik kaget saat mendengar ucapan Sella, suaranya bahkan sampai membuat Suci terjingkat kaget dari duduknya. "Kau, apa yang kau lakukan di rumahku?" Dia bertanya dengan emosi dan tatapan yang terhunus tajam. Baru saja tetangganya membuat masalah, sekarang malah datang lagi orang yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.


"Saya ingin bertemu dan bicara dengan Evan," jawab Sella dengan santai, dia bahkan masih bisa tersenyum sekarang.


Mata Mery berkilat marah sambil menatap wanita itu, tanduknya terasa keluar dengan apa yang terjadi saat ini. Tanpa mengucapkan apa-apa, dengan cepat dia menghampiri Sella dan menarik tangan wanita itu hingga Sella terkesiap.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Sella dengan nada suara tidak terima karena ditarik dengan kuat secara tiba-tiba seperti ini.


"Keluar dari rumahku sekarang juga!"


"Apa?" Pekik Sella dengan tidak percaya.


Mery menarik tangan Sella dengan kuat agar wanita itu keluar dari rumahnya. Darahnya seketika mendidih saat mengetahui identitas wanita itu, tidak peduli apa yang ingin dia bicara dengan Evan.


Sella yang diperlakukan sedemikian rupa tentu merasa tidak terima, tetapi tenaganya tidak bisa melawan kekuatan dari orang yang menariknya.


"Apa yang kau lakukan, Mery?" tanya Endri dengan panik. Dia meras kaget dengan apa yang istrinya lakukan, terlihat jelas jika Mery benar-benar sangat emosi sekarang.


"Oma, Oma!" Suci yang masih duduk di sofa langsung berteriak histeris saat melihat Sella ditarik keluar, dia terisak dengan kuat membuat Endri semakin dilanda kepanikan.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" Sella menghempaskan tangan Mery dengan kuat, sampai membuat cekalan wanita itu terlepas. "Apa kau sudah gila, bagaimana mungkin kau memperlakukan tamu seperti ini?" Dia berucap dengan kesal. Bisa-bisanya dia seret paksa seperti binatang seperti ini.


"Aku tidak mau menerimamu sebagai tamuku, jadi lebih baik kau pergi-"


"Oma!" Suci berlari dari dalam menuju luar dan langsung memeluk tubuh Sella, membuat ucapan Mery terhenti.


Mata Mery menatap anak kecil itu dengan tajam, bagaimana mungkin wajahnya sangat mirip dengan Adel saat masih kecil dulu?


"Lihat, kau sudah membuat cucuku takut dan menangis!" ucap Sella dengan penuh penekanan, dengan cepat dia menggendong Suci dan berusaha untuk menenangkannya.


Para tetangga yang tadinya sudah masuk ke dalam rumah tampak mengintip apa yang sedang terjadi, apalagi saat ini Mery dan Sella berada di teras rumah.


"Aku tidak peduli, sekarang cepat pergi dan jangan pernah datang ke rumahku lagi," usir Mery sambil menunjuk ke arah jalanan. Waktu itu yang datang adalah ayahnya Sherly, lalu sekarang ibunya. Benar-benar membuatnya gila.


"Kau tega mengusir cucumu sendiri?" tanya Sella dengan tidak percaya. "Kau lihat dia, dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya."


Mery dan Endri terpaku di tempat mereka saat mendengar apa yang Sella ucapkan. Mata mereka menatap Suci dengan tajam, dan entah kenapa lidah mereka terasa kaku untuk membalas ucapan wanita itu.


Semua orang yang memperhatikan mereka terkejut saat mendengar ucapan Sella, mereka tidak menyangka ternyata Evan bukan hanya menikah lagi, tetapi bahkan sudah punya anak.


Mery mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Tutup mulutmu dan pergi dari sini." Usirnya lagi dengan suara yang tertahan.


"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum bertemu dan bicara dengan Evan. Dia harus bertanggung jawab dengan istri dan juga anaknya," bantah Sella dengan cepat. Tidak, dia tidak akan pergi sebelum bertemu Evan dan memintanya melepaskan Sherly.


"Kau-"


Mery tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat mobil Evan masuk ke dalam pekarangan rumah mereka, sementara Sella langsung tersenyum sinis saat melihat kedatangan Evan.


Evan yang baru saja sampai di rumah, bergegas turun dari mobil karena ingin segera mengobati luka yang ada diwajahnya akibat berkelahi dengan Burhan.

__ADS_1


Tentu saja dia emosi saat bertemu dengan laki-laki itu, lalu pada akhirnya terjadilah adu jotos di antara mereka.


Deg.


Evan terpaku di samping mobilnya saat baru berbalik, lalu melihat keberadaan Sella dan juga putrinya ada di teras rumah bersama dengan kedua orang tua.


"A-apa yang Mama lakukan di sini?" tanya Evan dengan terkejut dan tidak percaya.


"Papa!"


Suci langsung melompat turun dari gendongan Sella dan berlari ke arah Evan yang diam membeku. Dia lalu memeluk kaki sang papa, dan meminta papanya agar menggendongnya.


Hati Mery dan Endri terasa dicabik-cabik saat melihatnya. Mereka yang sebagai orang tua saja merasa sakit hati, lalu bagaimana perasaan Ayun sebagai istri Evan?


"Lihatlah, Evan. Mama datang ke sini bersama Suci untuk menemuimu, tapi kedua orang tuamu mengusir kami," ucap Sella, yang seakan mengadu pada Evan.


Evan yang sudah menggendong Suci menatap ke arah kedua orang tuanya dengan nanar, tampak jelas kemarahan dan rasa sakit dari tatapan mereka.


"Pergilah, Ma,"


"Apa?" tanya Sella dengan tidak mengerti, dia sepertinya sedang salah dengar sekarang.


"Pergi dari rumah orangtuaku dan tinggalkan Suci bersamaku di sini."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2