Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 24. Ternyata Seperti Ini.


__ADS_3

Evan terkesiap saat mendengar ucapan sang ibu. Tidak, bagaimana bisa dia kehilangan kedua orang tuanya setelah apa yang terjadi?


Sherly sendiri terus berteriak tidak terima dengan apa yang Mery ucapkan, sampai menyebabkan kegaduhan yang membuat Dokter dan polisi masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada apa ini?" tanya Dokter itu dengan tajam agar keributan yang terjadi bisa berhenti. Dia yang memang bermaksud ke ruangan Evan karena hendak menunjukkan hasil cek darah, merasa terkejut dengan apa yang terjadi.


Semua orang langsung diam saat melihat keberadaan Dokter, sementara Evan mengernyitkan wajahnya karena menahan sakit yang sedang dirasakan.


Dengan cepat Dokter menghampiri Evan untuk memeriksa keadaan laki-laki itu. Dia lalu menyuruh perawat untuk membawa keluarga laki-laki itu keluar dari ruangan.


Mery dan Endri terpaksa keluar dari ruangan itu, begitu juga dengan Sherly yang saat ini sedang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Sudah kukatakan untuk mengendalikan emosimu, Mery. Apa kau mau membuat Evan terkena serangan jantung lagi?" ucap Endri, membuat Mery terdiam dengan helaan napas frustasi.


Endri lalu beranjak dari tempat itu untuk menghampiri Sherly, membuat wanita itu terkejut. Begitu juga dengan Mery yang menatap suaminya dengan tajam.


"Ikut aku, Sherly. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan," ucap Endri, membuat Sherly mengangguk lemah. Dia lalu menoleh ke arah Mery. "Dan kau tunggu saja di sini, jangan lagi membuat masalah." Dia berucap dengan tajam.


Endri lalu melangkah pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh Sherly, sementara Mery hanya diam sambil menatap mereka sampai tidak terlihat lagi.


"Apa yang mau mereka bicarakan?" gumam Mery bertanya-tanya. Dia lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah.


Tiba-tiba, Mery dikejutkan dengan suara ponselnya yang sedang berdering. Dia bergegas mengambil benda pipih itu, dan sedikit kaget saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Ezra?" gumam Mery. Tidak disangka cucunya menelpon di saat seperti ini, haruskah dia mengangkat panggilan tersebut?


Dering ponsel itu mati karena Mery masih sibuk berpikir. Lalu sesaat kemudian, Ezra kembali menelepon membuat dia segera mengangkat panggilan itu.


"Halo, Ezra,"


"Assalamu'alaikum, Nek," ucap Ezra disebrang telepon dengan riang gembira.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, Ezra. Ada apa nelpon nenek?" tanya Mery dengan gugup.


"Nenek dan kakek lagi di mana? Aku lagi di rumah ini, tapi pintunya kekunci," jawab Ezra.


Mery terdiam saat mendengar ucapan Ezra. Setelah sekian lama, akhirnya sang cucu datang juga untuk menjenguk mereka. Namun, kenapa harus disaat seperti ini?


"Ka-kami, kami sedang ada diluar, Nak," jawab Mery dengan lirih.


Ezra lalu mengatakan jika dia membawa sesuatu untuk kakek dan neneknya, untuk itulah dia datang mengunjungi mereka. Dia juga bertanya di mana mereka saat ini, supaya dia bisa memberikannya secara langsung.


Lagi-lagi Mery terdiam saat mendengarnya. Haruskah dia mengatakan jika sedang berada di rumah sakit? Tidak, suaminya pasti akan murka. Namun, apa yang harus dia katakan sekarang?


"Halo, Nek?"


Mery terkesiap saat mendengar suara Ezra. "Nenek, nenek sedang di rumah sakit, Nak." Dia terpaksa mengatakannya. Sang suami memang melarang untuk memberitahu Ayun, tetapi tidak salah bukan jika dia mengatakannya pada Ezra? Biar bagaimana pun Ezra adalah anak kandung Evan.


Ezra yang saat ini berada di depan rumah masa kecilnya dulu tersentak kaget saat mendengar ucapan sang nenek. "Rumah sakit? Apa kakek dan nenek baik-baik saja?" Dia merasa khawatir.


Mery lalu mengatakan tentang semua yang terjadi pada Evan, jelas saja membuat Ezra terdiam mematung di tempat itu.


"Nenek tau kalau ayahmu sudah banyak melakukan salah dan dosa, tapi saat ini dia sedang dalam kondisi lemah," ucap Mery. Dia lalu memberitahu lokasi mereka saat ini, terserah Ezra mau datang atau tidak, dia juga tidak memaksa.


Ezra yang mendengar ucapan sang nenek hanya diam di tempat. Dia merasa terkejut saat mengetahui keadaan sang ayah, padahal selama ini ayahnya tampak baik-baik saja.


"Ezra?"


Ezra terlonjak kaget saat mendengar panggilan seseorang. Dia lalu berbalik untuk melihat siapa yang saat ini sedang memanggilnya.


"Bik Siti," balas Ezra sambil tersenyum tipis saat melihat keberadaan tetangganya dulu.


Wanita bernama Siti itu mendekati Ezra sambil membawa belanjaan ditangannya, sepertinya dia baru saja pulang dari warung.

__ADS_1


Siti lalu bertanya bagaimana kabar Ezra dan juga ibunya saat ini, yang dijawab ramah oleh laki-laki itu.


"Lalu apa yang kau lakukan di sini, Ezra? Mereka sedang tidak ada di rumah, tadi pagi pergi sama wanita itu," ucap Siti dengan sinis.


Ezra mengernyitkan kening saat mendengar ucapan wanita itu. "Wanita?"


"Iya, wanita yang menjadi istri kedua ayahmu itu. Cih, dasar pelakor. Benar-benar tidak tahu malu sekali dia," cibir Siti.


Jelas saja ucapan Siti membuat Ezra terdiam. Sangking sibuknya mengurus ini dan itu, dia sampai tidak tahu jika ternyata ayahnya sudah membawa wanita itu tinggal bersama mereka. Hebat sekali bukan?


"Kakek dan nenekmu juga apa-apaan sih, Ezra? Bisa-bisanya mereka membiarkan wanita itu tinggal di sini, padahal kau dan ibumu harus terusir karena kegilaan ayahmu. Cih, memang ayahmu saja yang tidak punya pikiran," tukas Siti dengan emosi. Bukan hanya dia saja yang merasa seperti itu, tetapi semua orang yang tinggal di sekitar tempat itu juga.


Ezra mengatupkan rahangnya dengan geram. Sungguh ayahnya sangat hebat sekali, sampai-sampai membuat kebenciannya semakin menjadi-jadi.


"Membawa wanita itu ke rumah ini dan tingggal bersamanya? Haha, ayah kau sangat hebat. Di depan kami kau mengakui kesalahan seolah-olah sangat menyesal, tapi ternyata kau sudah mempersiapkan semuanya." Kedua tangan Ezra mengepal kuat dengan tersenyum sinis.


Ezra lalu memberikan apa yang dia bawa pada wanita itu, membuat Siti merasa terkejut. "Ini untuk Bibi dan paman, saya permisi dulu." Dia segera berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu. Sudah tidak ada niat lagi untuk memberikannya pada nenek dan juga kakeknya.


"Nenek dan kakek juga sudah sangat keterlaluan, kenapa mereka membiarkan wanita itu tinggal di sini? Bukankah itu artinya mereka sedang merendahkan harga diri kami yang sudah diusir oleh ayah?" gumam Ezra dengan geram.


Selama ini dia tidak masalah jika kakek dan neneknya hanya diam dan tidak melakukan apa-apa, tetapi seharusnya mereka tahu batasan dan tidak melakukan semua ini. Bukankah itu artinya mereka mendukung perbuatan ayahnya?


"Benar, seharusnya aku tidak bersikap seperti ini. Seharusnya aku sadar bahwa kami sudah putus hubungan dan bukan siapa-siapa lagi. Aku tidak akan melihat mereka lagi, aku tidak akan mengulurkan tangan untuk mereka walau mereka terjatuh sekali pun. Lihat saja."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2