Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 51. Rencana Jahat.


__ADS_3

"Kau bilang apa?" tanya Evan dengan tajam dan nada membentak, tetapi dia tidak jadi mengeluarkan tanduknya saat melihat Sherly berjalan masuk ke dalam restoran.


"Cih. Memalukan sekali aku punya ayah sepertimu," gumam Ezra sambil melangkah pergi meninggalkan tempat itu, sementara Evan hanya diam sambil menunggu kedatangan Sherly.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Evan dengan tajam.


Sherly mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Evan. "Salahkan anakmu yang hampir membuat aku mati. Kau tidak tahu 'kan, kalau aku habis muntah-muntah gara-gara dia?" Dia menatap Evan dengan tajam membuat laki-laki itu menghela napas kasar.


"Dia masih belum dewasa, Sherly. Seharusnya kau ambil hatinya, dan dekati dia. Biar bagaimana pun juga, nanti kau akan tinggal bersamanya," ucap Evan dengan tajam. Dia tidak mau terjadi keributan di rumah hanya karena mereka.


Sherly hanya bisa mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Evan, tetapi dia tetap diam karena tidak mau bertengkar dengan laki-laki itu.


Sementara itu, di dalam ruangan VIP terlihat Ayun dengan bersenda gurau dengan Nia yang menceritakan tentang pengalamannya saat pergi ke luar negeri.


"Aku ingin sekali pergi naik pesawat, pasti seru sekali 'kan?" tanya Ayun dengan sangat antusias, padahal dia hanya membayangkannya saja.


Nia terdiam saat mendengarnya. Padahal suami wanita itu punya uang jika hanya untuk naik pesawat saja, bahkan Evan sering datang ke kotanya dengan menggunakan burung besi itu.


"Datanglah ke kotaku, aku akan memberi tiket pesawat untukmu," ucap Nia, membuat Evan yang baru masuk ke dalam ruangan langsung menatap tidak suka.


"Aku akan mempertimbangkannya," balas Ayun dengan tersenyum tipis, matanya melirik ke arah Evan yang baru masuk ke dalam ruangan.


Setelah itu, mereka semua menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapan mereka masing-masing dengan tenang. Hanya suara Evan dan Burhan saja yang terdengar karena sedang membahas masalah kerjaan, sedangkan yang lainnya fokus menikmati makanan.


Selesai makan, Sherly pamit untuk pergi ke toilet sebentar. Dia ingin membasuh wajahnya yang terasa sangat lesu, apalagi sejak tadi tidak ada yang mengajaknya bicara.


"Hey, Sherly."


Sherly tersentak kaget saat melihat Nia masuk ke dalam toilet. Dia yang sedang mengelap wajahnya dengan tisu di depan westafel langsung membuang tisu tersebut.


"Ya, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Sherly saat Nia terus menatapnya dengan tajam.


Nia menatap wanita itu dari atas sampai bawah, dan terus seperti itu sampai membuat Sherly merasa risih. "Hanya beda umur saja. Semuanya tidak beda jauh."

__ADS_1


Sherly mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Nia, dia merasa tidak mengerti dengan apa yang wanita itu katakan.


"Ka-kalau gitu saya duluan, Nyonya." Sherly memilih untuk menghindar saja karena sepertinya dia dan wanita itu tidak berada di jalan yang sama.


"Tunggu!"


Sherly yang sudah membuka pintu kembali melihat ke arah belakang. "Ya, Nyonya?" Dia bertanya tanpa melepaskan tangannya dari pegangan pintu.


"Sudah berapa lama kau menjadi simpanan Evan?"


Deg.


Tubuh Sherly langsung kaku saat mendengar ucapan wanita itu dengan dada berdegung kencang. "A-apa maksdu Anda, Nyonya?"


"Ayolah, Sherly. Cuma orang gila yang tidak akan mengetahui semua itu," ucap Nia sambil tersentum sinis. "Tapi Ayun pun sepertinya sudah tau, dan dia tidak melakukan apa-apa. Hebat ya, kamu." Dia mencebikkan bibirnya dengan tangan bersedekap dada.


Sherly terdiam saat mendengar ucapan wanita itu. Ingin sekali dia mengatakan jika dia bukan simpanan Evan, melainkan istrinya.


"Tapi aku salut denganmu. Bisa-bisanya kau mau menjadi simpanan yang suatu saat bisa dibuang dan tidak akan mendapatkan apa-apa. Memangnya kau tidak rugi, jika hanya membuka sela*ng*kangan saja tanpa punya masa depan? Gimana kalau sela*ng*kanganmu itu sudah tidak nikmat lagi?" ucap Nia dengan nada mengejek, membuat Sherly benar-benar murka.


"Benarkah? Apa kau tidak bermimpi terlalu tinggi?" cibirnya dengan tidak percaya.


"Aku benar-benar istrinya Evan Prayuda, jadi jaga bicaramu di hadapanku!" ucap Sherly sambil menunjuk tepat ke wajah Nia, membuat tawa wanita itu langsung lenyap.


Sherly benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Seenaknya saja wanita asing yang tidak dia kenal menghinanya seperti ini, memangnya siapa wanita itu?


"Bagus." Nia segera mengambil ponsel yang ada disaku bajunya, lalu mematikan rekaman yang ternyata sejak tadi sengaja dia pasang untuk merekamnya. "Aku sudah mengirim rekaman ini ke salah satu temanku yang bekerja sebagai wartawan, kita lihat akan secepat apa berita ini tersebar."


Deg.


Sherly terkesiap saat mendengar apa yang wanita itu katakan. "Apa yang kau lakukan?" Dia bertanya dengan wajah panik.


"Merekam ucapanmu lalu mengirimnya pada temanku, apa masih belum jelas?" tanya Nia dengan santai, seperti tidak habis melakukan sesuatu.

__ADS_1


Sherly menatap tidak percaya. Bagaimana mungkin wanita itu sampai merekamnya segala, memangnya apa yang akan Nia dapatkan?


"Evan memang bukan pengusaha besar, bahkan dia masih bisa dibilang menengah ke bawah. Tapi berita seperti ini akan langsung menghancurkan usahanya sampai tidak bersisa. Apalagi kalau aku mengirimnya ke dalam komunitas para istri-istri pengusaha, kau tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini."


Tubuh Sherly bergetar saat mendengarnya. "Apa, apa yang kau lakukan sih?" Dia bertanya dengan nada membantak dan panik. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh wanita di hadapannya ini?


"Aku hanya ingin bernegosiasi. Jadi lakukan apa yang aku mau, dan aku tidak akan mengganggumu," ucap Nia dengan tajam, tetapi dengan bahasa yang santai.


Sherly mengepalkan tangannya dengan erat. Siapa sebenarnya wanita si*alan ini yang datang-datang mengancamnya?


"Tunggu, apa kau melakukan ini karna Ayun?" tanya Sherly dengan tajam.


"Apa, Ayun? Aku tidak ada urusan dengan wanita bod*oh sepertinya," ucap Nia. "Kalau kau tidak menjawab sekarang, biar aku pergi. Lalu membuat berita panas tentang pengusaha yang baru mulai belajar jalan tapi sudah bermain wanita."


Sherly mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Benar-benar wanita yang sangat licik, tetapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. "Sebutkan apa maumu?"


"Nah, begitu kan bagus. Ternyata kau pintar juga ya," ucap Nia membuat Sherly menggertakkam giginya. "Ambil fomulir untuk pelelangan minggu depan yang ada di tangan Evan, dan berikan padaku beserta berkasnya."


"Apa?" Sherly memekik kaget. Seingatnya Evan pernah mengatakan jika pelelangan itu sangat penting, bagaimana mungkin dia bisa memberikannya?


"Kenapa kau diam? Cepat jawab, aku sudah tidak punya banyak waktu untukmu!" ucap Nia dengan tajam.


Sherly terdiam dengan bingung. Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan? Dia memang tidak tau jelas soal pelelangan itu, hanya sekilas mendengarnya saat Evan sedang bekerja. Namun, kalau dia tidak memberikannya, maka masa depannya dan Evan akan terancam punah.


"Aku akan hitung sampai 3, jika kau tidak menjawabnya. Maka jangan salahkan aku," ancam Nia membuat wanita itu semakin dilanda kebingungan.


"Satu ...." Nia mulai menghitung. "Dua ...." Dia menatap wanita itu dengan tajam. "Ti-"


"Akan aku berikan, akan aku berikan formulir itu padamu."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2