Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 26. Baku Hantam.


__ADS_3

Evan mengepalkan kedua tangannya dengan penuh kemarahan, tidak disangka kasih sayang dan cinta yang selama ini dia berikan dibalas dengan sedemikian rupa oleh Sherly. Padahal dia sudah kehilangan semua hal dalam hidupnya karena wanita itu.


"Kenapa kau diam, Evan? Apa kau tidak bisa memberitahu kami hasil cek darah itu?" ucap Endri dengan tajam.


Evan terkesiap mendengar suara sang ayah. "Aku akan mengatakannya pada ayah dan ibu setelah bicara dengan Sherly, karena ada sesuatu yang harus aku-"


"Mau apa lagi kau, hah? Apa kau tetap akan membela dan bersama wanita ular itu?" tukas Mery dengan sinis. "Kalau kayak gitu, memang lebih baik kami saja yang pergi dari hidupmu."


Dengan cepat Evan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Aku hanya ingin bicara sesuatu padanya, dan setelah itu aku akan benar-benar memutuskan hubungan kami. Aku, aku akan menceraikannya."


Endri dan Mery tercengang dengan tatapan tidak percaya saat mendengar ucapan Evan. "Kau, apa kau serius?" Mery bertanya dengan gusar.


Evan menganggukkan kepalanya, lalu kembali mengatakan jika dia akan benar-benar menceraikan dan mengusir wanita itu Sherly.


Walau merasa heran dan tidak percaya, Mery dan Endri tetap merasa lega dan tenang. Mereka tidak bertanya alasan kenapa Evan mengambil keputusan itu, yang jelas mereka hanya mau melihat kenyataan dari apa yang laki-laki itu katakan saja.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Sherly mengayunkan langkahnya dengan gontai menuju rumah salah satu karyawannya dulu untuk menjemput Suci.


"Kenapa kau mau dititipi anaknya sih, Li?"


Langkah Sherly terhenti saat mendengar suara seseorang. Dia yang awalnya menunduk dengan pikiran berkecambuk, kini tampak menatap ke arah tiga orang wanita yang merupakan mantan karyawannya.


"Iya benar. Padahal dia perempuan murahan kayak gitu, nyesal aku pernah kerja sama palakor. Udah pelakor, penjahat pula. Is, semua orang jadi nuduh aku yang enggak-enggak," ucap wanita yang berada di tempat itu.


"Mau kayak mana lagi, dia tiba-tiba datang nitip anaknya. Yaudah lah," tukas Lili, wanita yang dititipi anak oleh Sherly.


Sherly yang berada tidak jauh dari mereka jelas mendengar semuanya, membuat hatinya kian sakit dan memanas.


"Makanya itu. Kalau aku tau dia pelekor, sumpah aku gak akan mau kerja sama dia. Jijik banget."

__ADS_1


Ucapan wanitu itu disetujui oleh yang lainnya. Mereka terus menghina dan merendahkan Sherly yang seorang pelakor, jelas saja membuat amarah Sherly membumbung tinggi.


Dengan cepat, Sherly mendekati mereka dan langsung menggebrak meja membuat semua orang terlonjak kaget.


"Kalian pikir siapa kalian, hah? Beraninya berkata seperti itu!" bentak Sherly dengan wajah merah padam.


Jelas saja ketiga wanita itu merasa terkejut, tetapi mereka tidak semata-mata diam mendengar bentakan Sherly.


"Memangnya kenapa, hah? Apa yang kami katakan itu kenyataan. Dasar kau pelakor murahan, ambil sana anak harammu itu."


Plak.


Sherly melayangkan tamparan ke pipi wanita yang telah menghina putrinya, dia merasa tidak terima jika Suci dikatakan sebagai anak haram.


Keadaan semakin memanas, adu mulut pun terjadi membuat semua orang yang berada disekitaran tempat itu berhamburan keluar dari rumah mereka.


Orang-orang yang berkumpul di tempat itu semakin ramai. Bukannya melerai, mereka malah ikut meramaikan keadaan diiringi dengan pengambilan video dengan hastag pelakor gila.l yang mulai tersebar di dunia maya.


Keributan baru bisa berhenti saat RT datang ke tempat itu dan mengamankan semua orang. Tampak wajah Sherly sudah babak belur dengan dipenuhi lebam, rambutnya bahkan sudah acak-acakan tidak karuan.


Suci yang melihat semua itu menangis di dalam rumah dan tidak berani untuk keluar, membuat Sherly segera menghampiri putrinya dan memeluknya dengan erat.


"Kalian harus bertanggung jawab karena sudah membuat keributan, juga sudah menganiaya wanita itu," ucap pak RT, sambil menunjuk Sherly yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Pelakor itu duluan yang mulai Pak," seru mereka tidak terima, lalu kembali terjadi keributan.


Tidak mau semakin membuat Suci ketakutan, Sherly beranjak pergi dari tempat itu membuat semua orang meneriakinya penuh dengan emosi. Cacian serta hinaan masih tetap dia dengar, walau langkahnya sudah menjauh dari tempat itu.


Air mata Sherly jatuh membasahi wajah merasakan penghinaan dan cacian dari semua orang. Rasa sakit dan pedih diwajahnya tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya karena semua itu.

__ADS_1


Dengan cepat Sherly memanggil taksi dan berlalu pergi dari tempat itu. Dia mengusap wajahnya yang sudah membengkak, dan mencoba menenangkan Suci yang terus menangis dengan tubuh gemetar ketakutan.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ezra sudah berada di ruangan sang ibu. Rasa kesal dan amarah yang sempat dia rasakan, berubah menjadi senyuman ketika melihat semua keluarganya berkumpul di dalam ruangan tersebut.


"Gimana, Nak? Apa kau udah ketemu sama nenek dan kakek?" tanya Ayun dengan tersenyum manis.


Ezra menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya. "Nenek sama kakek sedang pergi, Bu. Makanya tadi gak jumpa." Dia menjawab dengan jujur, tetapi setelah itu diam dan tidak mengatakan perihal apa yang dia ketahui tadi.


Ayun lalu mengatakan jika besok Ezra bisa pergi ke sana lagi, sekalian membawa Adel agar bisa bertemu dengan kedua mantan mertuanya.


Abbas yang juga berada di tempat itu menatap Ezra penuh tanda tanya. Dia orang yang sangat peka, jelas saja dia tahu jika saat ini cucunya sedang tidak baik-baik saja. Namun, dia memilih untuk diam dan akan bertanya ketika hanya berdua saja dengan Ezra.


Ayun kemudian kembali mengobrol ria dengan Nindi dan juga Hasna, tidak lupa dengan Adel yang tampak bersemangat menceritakan tentang apa yang terjadi disekolahnya.


Tidak berselang lama, Dokter Alma masuk ke dalam ruangan itu membuat obrolan mereka terjeda. Dengan ramah Dokter itu menyapa mereka semua, karena memang sudah saling kenal dan dekat.


"Hari ini, saya ingin memberikan kabar baik untuk Anda semuanya. Saya harap setelah ini akan mendapatkan bonus besar dari tuan Abbas," ucap Alma, membuat Abbas dan yang lainnya mengernyitkan kening bingung.


"Bonus apa?" tanya Abbas tidak mengerti.


Alma tersenyum simpul. "Kami sudah melakukan pemeriksaan dan perawatan pasca operasi pada nona Nindi dan nona Ayun, hasilnya sangat baik sekali. Sekarang kondisi nona Ayun benar-benar sudah membaik dan stabil, begitu juga dengan nona Nindi walau masih harus menjalani beberapa perawatan pemulihan. Dengan ini, kami menyatakan bahwa nona Ayun dan nona Nindi sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2