
Angga segera menghubungi Abbas untuk memberitahu jika Evan datang ke rumah Ayun dan mencari wanita itu, walau dia merasa heran dari mana laki-laki itu tahu jika mereka tinggal di daerah ini.
Setelah beberapa kali menelpon tetapi tidak dijawab oleh Abbas, Angga lalu memutuskan untuk mengirim pesan. Mungkin saat ini laki-laki paruh baya itu sedang sibuk, sehingga tidak bisa menjawab panggilannya.
Sementara itu, di rumah sakit terlihat semua orang sedang berkumpul di ruangan Ayun, kecuali Keanu yang tetap setiap menunggu sang istri di depan ruang ICU.
Ezra segera menceritakan tentang pertemuannya dengan sang ayah pada ibunya, yang saat ini sudah dalam kondisi baik pasca operasi.
"Ayahmu pasti marah besar," ucap Ayun dengan lirih. Dia sudah bisa membayangkan betapa murkanya Evan saat mereka datang ke kantor dan mengusik semuanya.
"Sebesar apapun dia marah, itu tidak akan berpengaruh pada apa yang memang harus dilakukan, Nak," balas Abbas. "Semua itu sudah menjadi hakmu dan kedua anakmu, jadi sudah sepantasnya dia memberikan semua itu."
Ayun menganggukkan kepalanya sambil menghela napas kasar. Dia memang sudah mendapatkan hak yang dia perjuangkan, tetapi bagaimana mengelolanya? Dia sama sekali tidak pintar dalam semua itu.
"Oh yah, ada satu hal lagi yang ingin papa katakan padamu," ucap Abbas selanjutnya, membuat Ayun menatap dengan tanda tanya. "Begini, papa dan Keanu sudah menyiapkan rumah untukmu dan yang lainnya. Kami berpikir alangkah lebih baik jika kalian tinggal di rumah yang nyaman, dan dekat dengan rumah sakit agar mudah untuk kontrol." Dia berucap dengan pelan, karena takut jika Ayun merasa tidak nyaman.
"Rumah?" tanya Ayun dengan heran. "Aku sudah menyewa rumah, Pa. Walau tidak besar, tapi cukup untuk tempat tinggal kami." Dia merasa tidak enak hati jika sampai dibelikan rumah oleh Abbas.
Abbas lalu melirik ke arah Hasna yang sejak tadi duduk diam memperhatikan mereka. Wanita paruh baya itu mengendikkan bahunya tidak mau ikut campur, karena sejak awal Hasna menyetujui semua itu pun atas paksaan darinya.
"Papa tidak perlu repot-repot, kami-"
"Tidak, Nak. Semua itu tidak merepotkan," bantah Abbas dengan cepat. Sebenarnya dia hanya ingin memberikan tempat yang nyaman dan sepantasnya untuk mereka, walau dia sangat ingin sekali membawa mereka semua ke rumahnya.
"Papa tahu kalau kau sudah menyewa rumah untuk kalian tinggali, dan rumah itu tampak nyaman dan aman. Hanya saja papa ingin dekat dengan kalian, dan memberikan sesuatu yang seharusnya sejak dulu papa berikan." Lirih Abbas. "Papa tidak bermaksud buruk atau ingin menyinggungmu, Nak. Tapi papa mohon terimalah, walau sebenarnya papa ingin kalian tinggal bersama dengan papa." Dia menunduk sedih.
__ADS_1
Ayun terdiam saat mendengar ucapan sang papa, dia lalu melirik ke arah ibunya yang juga sedang menatapnya seolah mengatakan ambil saja apa yang Abbas berikan.
"Sungguh, aku benar-benar tidak ingin merepotkan Papa dan juga Keanu. Tapi jika Papa ingin aku menerimanya, maka baiklah. Aku akan tinggal di rumah itu, dan bolehkah aku mengajak semua keluargaku juga tinggal di sana?" ucap Ayun dengan pelan sambil mengulas senyum tipis.
Abbas yang tadinya menunduk langsung menatap Ayun dengan senyum cerah. "Tentu saja, Nak. Kau berhak mengajak siapa pun untuk tinggal di sana, karena itu adalah rumahmu." Dia menganggukkan kepala sampai beberapa kali sangking bahagianya.
Ayun ikut menganggukkan kepalanya dengan senyum haru. Sebenarnya dia sama sekali tidak menginginkan apapun dari sang papa, apalagi dia tidak mau dianggap mengambil kesempatan dengan hubungan mereka. Namun, jika semua itu bisa membuat papanya bahagia, maka dia akan melakukannya.
"Permisi Tuan, Nona," ucap seorang perawat yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu, membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Ya, ada apa suster?" tanya Ezra yang kebetulan duduk di dekat pintu.
"Saya ingin memberitahu jika saat ini nona Nindi sudah sadar,"
"Apa?" Semua orang memekik kaget saat mendengar ucapan wanita itu. Dengan cepat Abbas berlari keluar dari ruangan tersebut untuk melihat keadaan putrinya, sementara yang lainnya menatap dengan tidak percaya.
Wanita itu menganggukkan kepala dengan tersenyum tipis. "Benar, Nona. Mari, saya akan membantu Anda untuk melihat beliau."
Air mata Ayun langsung jatuh membasahi wajah saat mendengar jawaban wanita itu, dia lalu mengangguk dengan antusias dan bersiap-siap untuk menemui adiknya. Begitu juga dengan Hasna dan Yuni, yang juga bergegas melihat keadaan Nindi.
Abbas yang sudah berada tidak jauh dari ruang ICU segera menghampiri Keanu yang berdiri tepat di depan pintu. "Ken!"
Keanu segera menoleh ke arah belakang saat mendengar panggilan seseorang. "Papa?"
"Ba-bagaimana keadaan Nindi? Apa, apa dia sudah sadar?" tanya Abbas dengan tergagap. Wajahnya tampak cemas dan panik sambil menoleh ke arah ruang ICU.
__ADS_1
Keanu lalu mencoba untuk menenangkan sang mertua dan membawanya duduk di kursi yang ada di tempat itu. "Tenanglah, Pa. Saat ini Dokter sedang memeriksa keadaannya, dan yah. Dia memang sudah sadar."
Abbas langsung mengucap syukur yang teramat besar pada Allah karena sudah membuat putrinya sadar, tidak lupa dia juga terus berdo'a agar keadaan Nindi baik-baik saja.
Tidak berselang lama, Ayun dan yang lainnya ikut berkumpul di tempat itu, bersamaan dengan keluarnya Dokter dari ruang ICU.
Abbas dan Keanu bergegas menghampiri Dokter tersebut dan menanyakan bagaimana keadaan Nindi, begitu juga dengan Ayun dan yang lainnya.
"Saat ini keadaan nona Nindi cukup stabil, Tuan. Kami sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, tapi beliau belum bisa dipindahkan dari ruang ICU selama beberapa hari ke depan, karena masih harus menjalani pemeriksaan secara ketat," ucap Dokter itu menjelaskan.
Mereka lalu diperbolehkan masuk ke dalam ruangan itu tetapi harus satu persatu, dan tidak boleh memakan waktu yang cukup lama.
Satu persatu dari mereka masuk untuk menemui Nindi yang benar-benar sudah sadar, tetapi masih dalam keadaan lemas dan tidak bisa bergerak. Hingga tiba saatnya giliran Ayun yang masuk untuk menemui sang adik.
"Nindi," panggil Ayun dengan tangis yang coba dia tahan. Dia bergegas menghampiri wanita itu dengan menggunakan kursi roda, dan di dorong oleh Ezra.
Nindi menatap sang kakak dengan air mata yang sudah jatuh membahasahi wajah, tentu saja dia tahu perihal Ayun yang sudah mendonorkan sumsum tulang belakang untuknya.
"Padahal aku sudah menyerahkan semuanya pada-Mu, ya Allah. Aku bahkan sudah meminta suamiku agar menikah dengan Ayun, tetapi Kau memberikan jawaban yang berbeda."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.