Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 79. Seseorang yang Berperan Penting


__ADS_3

Semua orang tersentak kaget saat mendengar ucapan Ezra, terutama Evan yang kini menatap putranya itu dengan nyalang.


"Kenapa, aku tidak salah 'kan?" sambung Ezra dengan sinis.


Evan mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk menahan sesak di dalam dada, betapa sakit dan hancurnya perasaan yang dia miliki karena ucapan putra kandungnya sendiri.


Ayun yang berada di belakang Ezra juga menatap putranya itu dengan nanar. Dia tahu jika Ezra sangat membenci Evan, tetapi tidak baik mengatakan hal seperti itu di hadapan banyak orang seperti ini. Apalagi di hadapan Adel, dia takut membuat ikatan antara ayah dan anak di antara mereka semakin hancur.


"Ezra-" Ayun tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba tangannya di genggam oleh Fathir, sontak dia langsung menoleh ke arah laki-laki itu dengan tatapan heran dan terkejut.


Fathir menggelengkan kepalanya saat ditatap oleh Ayun, seolah memberikan isyarat bahwa wanita itu tidak boleh melanjutkan apa yang ingin dikatakan.


Ayun hanya bisa menghela napas kasar saat sudah memahami apa maksud dari isyarat yang Fathir berikan padanya, tetapi dia tidak melepaskan genggaman tangan laki-laki itu, begitu juga dengan Fathir.


"Kenapa kau berkata seperti itu, Nak? Ayah sama sekali tidak pernah berpikir seperti apa yang kau katakan. Ayah ingin bertemu dan bicara dengan kalian karena ayah sangat merindukanmu dan juga adikmu, sungguh ayah tidak ada maksud lain selain itu," ucap Evan dengan getir, suaranya bahkan terdengar gemetar karena menahan sakit di dalam relung hatinya.


Ezra tergelak saat mendengar ucapan sang ayah. Rindu? Apa ayahnya itu tidak salah? Memangnya sejak kapan ayahnya punya perasaan seperti itu terhadap mereka, dan kenapa pula baru sekarang merasa rindu setelah waktu berjalan lama? Sungguh sangat tidak masuk akal sekali.


"Sudahlah, jangan berkata sesuatu yang tidak masuk akal. Waktu kami terlalu berharga untuk meladeni ucapan Anda," sahut Ezra dengan sarkas, membuat gejolak hati Evan semakin remuk redam.


Evan terdiam pilu. Begitu besarkah rasa benci dalam hati putranya hingga sama sekali tidak percaya dengan apa yang dia katakan? Sungguh rasanya sangat sakit sekali bak disayat-sayat oleh sembilu.


Adel yang sejak tadi menunduk diam tampak mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Rasa benci, marah, dan kasihan terasa bercampur jadi satu dalam hatinya.


Dia benar-benar marah dan membenci sang ayah, tetapi dadanya juga terasa nyeri saat mendengar ucapan kakaknya yang sangat tajam dan sarkas untuk ayah mereka, hingga menumbuhkan rasa kasihan yang teramat besar.


"Sudah cukup, Nak. Ayo, kita pulang!" Ayun yang sudah tidak tahan mendengarnya beralih mengajak mereka semua untuk pulang, dia tidak mau Ezra semakin bertindak diluar kendali pada ayah kandungnya sendiri.


"Iya, Bu," sahut Ezra. Dia lalu menggandeng tangan sang adik dan membawanya pergi dari tempat itu tanpa mengatakan apa-apa, tidak peduli jika saat ini ayah mereka sedang menatap dengan penuh kesedihan.


Adel hanya menganggukkan saja dan mengikuti langkah sang kakak, begitu juga dengan Faiz yang memilih untuk pergi juga walau papanya dan Ayun masih belum beranjak dari tempat itu.


"Tu-tunggu Ezra, Adel. Ayah mohon dengarkan-"

__ADS_1


"Mas!"


Evan yang sudah berbalik dan hendak mengejar Ezra dan Adel tidak jadi melangkahkan kakinya saat mendengar panggilan Ayun, dia lalu kembali berbalik dan melihat ke arah wanita itu.


Deg.


Kedua mata Evan memanas saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Bagaimana tidak, saat ini dia melihat jika Ayun dan Fathir sedang berpegangan tangan dengan erat. Apakah mereka sengaja melakukannya?


Melihat tatapan tajam Evan ke arah tangannya, membuat Ayun juga ikut melirik ke bawah, dan betapa terkejutnya dia saat baru sadar jika masih saling berpegangan erat dengan Fathir.


Dengan cepat, Ayun melepaskan genggaman tangan itu membuat Fathir terlonjak kaget dan juga baru sadar jika sejak tadi dia belum melepaskan pegangan tangannya.


"Ma-maaf, aku tidak sengaja," ucap Fathir dengan tergagap.


Wajah Ayun kembali memerah dengan apa yang terjadi, dia merasa dejavu dengan kejadian beberapa saat yang lalu. Kenapa dia sama sekali tidak bisa mengendalikan diri saat bersama dengan Fathir? Padahal selama ini dia tidak pernah mengalami hal seperti ini, bahkan saat bersama dengan Evan.


"Ti-tidak apa-apa," sahut Ayun dengan gugup. Dadanya kembali berdegup kencang sampai membuat napasnya menjadi sesak.


Evan yang masih berada di tempat itu kian meradang. Dadanya bergemuruh hebat seperti akan meledak saat ini juga, bahkan rahangnya sudah mengeras sejak tadi.


Ayun mengernyitkan kening karena tidak mengerti dengan apa yang Evan katakan, tetapi lupakan dulu tentang hal itu.


"Maaf jika aku memanggilmu, Mas. Aku tidak bermaksud untuk menghalangimu bersama dengan anak-anak, hanya saja mungkin mereka butuh waktu untuk mengendalikan diri," jawab Ayun, dia tidak ingin nantinya mereka hanya akan saling menyakiti.


Evan tersenyum sinis. "Benarkah?" Dia bertanya dengan tajam. "Mereka yang butuh mengendalikan diri, atau kau yang memang ingin sengaja menunjukkan kemesraanmu dengan laki-laki lain di hadapanku?"


Ayun tercengang saat mendengarnya, begitu juga dengan Fathir yang tidak habis pikir kenapa Evan bisa berkata seperti itu.


"Apa maksudmu?" tanya Ayun dengan tajam.


Evan berdecih. "Berpelukan dan bergandengan tangan mesra dengan seorang laki-laki di depan umum, bahkan di depan anak-anakmu sendiri. Apakah itu hal yang pantas dilakukan oleh seorang wanita?" ucap Evan dengan sarkas. "Apalagi kalian tidak ada ikatan apapun, apa kalian tidak merasa malu?" Dia melirik ke arah Fathir dengan sinis.


Ayun menggelengkan kepalanya dengan tidak habis pikir, memangnya siapa yang bermesraan seperti itu? Dia dan Fathir hanya tidak sengaja melakukannya, dan kenapa pula Evan bisa tahu semua itu?

__ADS_1


"Tidak, aku sama sekali tidak merasa malu," jawab Fathir tiba-tiba membuat Ayun langsung menoleh ke arahnya, sedangkan Evan semakin menatap dengan murka.


"Kau bilang apa, kau tidak merasa malu?" seru Evan dengan nada suara yang mulai naik. "Kau sudah memberikan pemandangan yang buruk untuk anak-anakku, bagaimana mungkin kau tidak sadar diri, hah?"


Fathir tersenyum tipis, sementara Ayun mulai merasa gelisah. "Lalu, apakah kau sudah memberikan pemandangan yang baik untuk mereka?"


"A-apa?"


"Jangan terlalu sibuk dengan urusan orang lain sampai lupa dengan diri sendiri," ucap Fathir dengan cepat, dia lalu menoleh ke arah Ayun yang sejak tadi melihat ke arahnya. "Lagi pula, apa yang terjadi tadi adalah sebuah ketidaksengajaan. Dan kalau pun sengaja, maka aku yang sudah sengaja melakukan semua itu. Aku tidak bisa melepaskan seseorang yang sudah membuat dadaku berdegup kencang, apa kau merasa keberatan?" Dia kembali melirik ke arah Evan.


Evan terdiam dan tidak bisa membalas ucapan Fathir, jika bisa pun dia ingin sekali melayangkan pukulan ke wajah laki-laki itu.


Ayun sendiri juga terpaku dengan apa yang Fathir katakan. Seseorang yang sudah membuat dada laki-laki itu berdegup kencang? Apakah Fathir sedang membicarakannya, tetapi kenapa?


"Ya Allah, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa Fathir berkata seperti itu, apa dia menyimpan sebuah perasaan padaku?" Ayun mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk menahan sesuatu yang sedang menjalar di dalam hatinya.


"Aku sama sekali tidak peduli dengan kalian, aku hanya tidak mau kau memberikan dampak buruk untuk anak-anakku. Jadi, menyingkirlah dari hidup mereka dan jangan ganggu mereka lagi!" sahut Evan dengan penuh penekanan setelah bisa mengusai diri.


Ayun langsung menatap Evan dengan tidak terima. "Dengan alasan apa kau mengatakan hal seperti itu pada Fathir?" Dia bertanya dengan tajam.


"Aku ayah kandung mereka, jadi aku lebih tau mana yang-"


"Ya, kau memang ayah kandung mereka. Tapi bukan berarti kau bisa bersikap seperti ini pada Fathir, karena selama ini dialah yang telah menemani mereka. Seharusnya kau berterima kasih padanya, karena berkat kepeduliaannya, kedua anakmu bisa tertawa dengan riang seperti dulu lagi," ucap Ayun dengan menggebu-gebu, dia benar-benar murka jika Evan bersikap seperti itu pada Fathir.


"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kepedulianku juga membuatmu bisa kembali tertawa?"





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2