
Hasna menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah, tetapi untuk sekali lagi hanya itu satu-satunya jalan yang harus dia lakukan agar tidak membuat banyak orang terluka, khususnya mendiang istri Abbas. Walau dia tahu jika Naira pasti sudah terluka saat mengetahui tentang apa yang terjadi di malam itu.
"Jangan meminta maaf, Hasna. Semua itu sudah berlalu. Jika pun ada kata maaf, itu harusnya berasal dari mulutku," ucap Abbas dengan lirih. Dia melirik ke arah Hasna yang tetap menundukkan kepalanya.
Perlahan Abbas beranjak bangun dari kursi, membuat Hasna melirik ke arahnya dan mulai mendongakkan kepala.
"Aku tidak akan memaksamu, Hasna. Sejujurnya, aku sudah sangat bahagia dengan apa yang terjadi saat ini. Tapi hatiku tetap saja serakah karena ingin memilikimu seperti dulu," lanjut Abbas. Dia lalu berdiri tepat di hadapan Hasna, membuat wanita itu menatapnya dengan nyalang.
"Jangan merasa terbebani, dan jangan memikirkan apa yang aku katakan tadi. Jalani saja semuanya sesuai dengan apa yang kau inginkan, aku hanya berharap kau dan anak kita hidup sehat serta bahagia." Abbas tersenyum simpul, yang dibalas dengan anggukan kepala Hasna.
Abbas lalu menjauh dari tempat itu untuk menelepon bawahannya, supaya datang dan mengangkut barang-barang mereka ke rumah yang sudah dia siapkan.
Hasna menatap Abbas dengan sendu. Dia mengusap air mata yang masih membekas diwajahnya, dan berusaha untuk tersenyum.
"Aku sudah menyerahkan semuanya pada Allah, tuan. Jika Dia berkehendak, maka aku juga tidak akan lagi menyangkal perasaan yang ada di antara kita. Semoga apa yang kita harapkan akan terkabul suatu saat nanti," gumam Hasna.
Perlahan Hasna bangun dari kursi dan berjalan pelan untuk masuk ke dalam rumah, terlihat Yuni dan Angga sudah bersiap untuk pergi, begitu juga dengan kedua cucunya yang baru saja bangun tidur.
Tidak berselang lama, datanglah Adel dengan menaiki taksi. Dia langsung menyalim tangan Abbas dengan senyum cerah, karena merasa senang akan pindah ke rumah baru.
Setelah anak buah Abbas sampai di tempat itu, mereka semua segera berangkat menuju perumahan yang berada tidak jauh dari rumah Abbas. Mereka semua berada dalam satu mobil, sementara barang-barangnya berada di mobil bawahan Abbas.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah sampai di tempat tujuan. Baik Adel dan yang lainnya menatap rumah yang ada di hadapan mereka dengan takjub, karena begitu indah dan juga mewah.
__ADS_1
"Ini, ini sangat cantik, Kakek," pekik Adel dengan senyum mengembang sempurna, membuat Abbas juga ikut tersenyum senang.
"Apa kau menyukainya?"
Adel langsung menganggukkan kepalanya saat mendapat pertanyaan dari sang kakek, matanya menatap ke sekitaran rumah yang ditumbuhi dengan berbagai macam bunga. Apalagi ada taman dan tempat bersantai tepat di samping rumah tersebut.
"Syukurlah kalau kau menyukainya, Sayang," ucap Abbas dengan bangga. Tidak sia-sia dia menghabiskan waktu lama untuk memikirkan rumah itu, yang tentu saja menghabiskan banyak uang untuk merenovasinya agar tampak sempurna.
"Apakah ini tidak terlalu berlebihan, Tuan?" ujar Hasna dengan tidak enak hati. Rumah itu hampir sama mewah dengan rumah Abbas sendiri, hanya ukurannya saja yang mungkin terlihat berbeda.
"Tentu saja tidak," sanggah Abbas dengan cepat. Dia lalu mengajak semuanya untuk masuk ke dalam rumah tersebut, membuat Hasna hanya bisa menghela napas kasar.
Dengan semangat membara, Adel menelusuri seisi rumah yang diberikan oleh sang kakek. Tatapan kagum jelas terpancar dari sorot matanya, begitu juga dengan nenek serta paman dan bibinya.
"Nah, ini kamarmu, Sayang. Bagaimana, apa kau menyukainya?" tanya Abbas saat mereka masuk ke dalam kamar yang akan ditempati oleh Adel.
"Terima kasih Kek, terima kasih banyak," ucap Adel dengan mata berkaca-kaca.
Abbas menganggukkan kepalanya sambil mengusap puncak kepala Adel. "Sama-sama, Sayang. Sekarang istirahatlah, kau pasti lelah karena baru pulang sekolah. Biar saja barang-barangnya ada di luar, nanti pembantu yang akan membereskannya."
Adel mengangguk paham. Dia mengantar sang kakek keluar kamar, lalu menutup pintu kamar itu dan berbaring di atas ranjang.
"Rumah ini sangat cantik dan mewah, aku sangat bahagia sekali bisa tinggal di tempat ini. Tapi, semua kebahagiaan ini pasti lebih lengkap kalau ada ibu dan ayah," gumam Adel. Dia lalu menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa sesak dan sakit yang mulai menyelimuti hati. Saat ini bukan waktunya untuk bersedih dan mengenang masa lalu yang menyakitkan, tetapi saatnya untuk membuka lembaran baru bersama dengan keluarganya.
__ADS_1
"Ayah, aku harap suatu saat nanti kau akan merindukan kami. Sama seperti aku merindukanmu saat ini, walau apa yang sudah terjadi benar-benar membuatku sakit hati." Lirih Adel. Tanpa sadar air mata mengalir dari sudut matanya, apalagi beberapa saat yang lalu dia menghindari sang ayah.
Adel tidak mau terbawa emosi yang nantinya malah akan membuat kekacauan, dan akan menyusahkan ibu serta keluarganya yang lain. Rasa rindu, sakit, kesal, dan amarah bercampur jadi satu dalam hatinya saat dia melihat sang ayah. Perasaan itu terus membara, dan membuatnya takut jika tidak bisa mengendalikan diri.
*
*
Beberapa hari kemudian, pihak kepolisian memberikan surat panggilan terhadap Evan agar datang ke kantor polisi setelah melakukan penyelidikan. Tentu saja membuat kedua orang tuanya merasa terkejut, begitu juga dengan Sherly.
"A-apa maksudnya ini?" Pekik Sherly saat mendengar ucapan Endri. Saat ini Evan sudah pergi ke kantor, dan yang menerima surat panggilan itu adalah mertuanya.
Mery juga sangat terkejut saat mendengar ucapan sang suami, dengan cepat dia merebut surat itu agar bisa membacanya secara langsung.
"Pe-pencemaran nama baik?" ucap Mery dengan tidak percaya saat membaca kasus yang membuat Evan dipanggil pihak kepolisian.
Endri mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak tahu apa lagi masalah yang sedang terjadi saat ini, padahal masalah yang lalu saja belum terselesaikan.
"Suruh suamimu pulang, dia harus melihat surat itu sendiri dan memenuhi panggilan polisi."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.