Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 134. Hari Kelulusan.


__ADS_3

Keanu tersenyum sinis saat mendengarnya. "Apa barang yang kau maksud itu adalah nark*oba?"


Deg.


Wajah Nico berubah pias dengan tatapan terkejut ketika mendengar ucapan Keanu, tetapi sesaat kemudian dia mencoba untuk bersikap seperti biasa.


"Saya adalah pedagang, jadi saya banyak menjual barang," sahut Nico mencoba untuk bersikap santai. Namun, sayangnya Keanu sempat melihat wajahnya yang berubah pias.


"Ya, nark*oba juga salah satu barang yang kau jual," sambung Keanu dengan tajam. "Jadi dia adalah salah satu pelangganmu, ya." Dia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan smirik sinis.


Nico mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Si*alan, kenapa laki-laki itu bisa tahu bahwa dia memperjual belikan barang terlarang itu? Padahal tidak ada yang tahu bahwa dia seorang pengedar selain para pelanggannya.


"Saya tidak pernah mengusik Anda, jadi bukankah seharusnya Anda juga tidak mengusik saya?" ucap Nico dengan penuh penekanan.


Percuma juga jika dia membantah ucapan laki-laki itu, karena Keanu bukanlah orang sembarangan. Jelas bantahannya malah akan menjadi bumerang untuk diri sendiri.


"Tentu saja," sahut Keanu sambil bersedekap dada, menunjukkan kesombongan bahwa kekuasaannya jauh lebih besar dari laki-laki itu. "Kau memang tidak pernah mengusikku, tapi laki-laki itu telah sangat menyusahkanku, sampai ingin sekali aku membunuhnya."


Glek.


Nico menelan salivenya dengan kasar. Dia merasa merinding dengan apa yang Keanu ucapkan, apalagi saat melihat sorot mata laki-laki itu yang tajam bak seekor elang.


"Maaf, tapi saya tidak ada hubungannya dengan-"


"Berikan padaku semua bukti pembelian yang Rian lakukan, atau kau yang akan ku seret ke dalam penjara," potong Keanu dengan cepat, dia tahu jika Nico akan berkilah.


Nico terdiam. Tidak, dia tidak bisa melanggar perjanjian dengan Rian. Namun, dia juga tidak bisa melawan Keanu. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Aku beri waktu sampai besok. Jika kau tidak menyerahkan bukti transaksi dan pemakaian laki-laki itu, maka jangan salahkan aku jika perusahaanmu hancur dalam semalam," ancam Keanu kembali dengan tidak main-main membuat tubuh Nico bergetar. "Dan jika kau memberitahu tentang kedatanganku ini padanya, maka hanya menunggu hitungan detik saja nyawamu hilang dari dunia ini." Dia melirik ke arah laki-laki yang sedang berdiri di belakangnya, membuat Nico bergidik ngeri melihat anak buahnya.


Nico hanya bisa terdiam dengan wajah pucat pasi mendengar ancaman demi ancaman yang Keanu layangkan, sampai akhirnya dia mengangguk karena laki-laki itu terus menatap dengan sinis.


Keanu lalu beranjak pergi dari tempat itu bersama dengan anak buahnya, yaitu seorang lelaki yang dulunya sangat dekat dengannya sebelum dia menikah dengan Nindi.


"Jangan katakan apapun pada istriku tentang apa yang kita lakukan, aku tidak mau dia khawatir," ucap Keanu saat sudah masuk ke dalam mobil.


Laki-laki bernama Aryan itu mengangguk. "Baik, Tuan. Tapi, tanpa diberitahu pun saya pikir Nyonya sudah tahu tentang apa yang kita lakukan, apalagi Anda bersama dengan saya."

__ADS_1


"Kau benar." Keanu mengusap wajahnya dengan kasar. Jelas Nindi tahu jika dia sedang melakukan sesuatu yang ilegal jika sudah bersama dengan Aryan, karena laki-laki itu adalah salah satu orang yang berkaitan erat dengan dunia hitam. "Sudahlah, nanti saja dipikirkan." Dia mendessah lelah sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Sudah cukup pekerjaan untuk hari ini, jadi sudah saatnya Keanu kembali ke rumah dan bersama dengan sang istri. Terserahlah jika nantinya Nindi marah saat mengetahui apa yang dia lakukan.


*


*


*


Beberapa hari kemudian, Ayun sedang bersiap untuk pergi ke sekolah bersama dengan Adel. Setelah tiga tahun menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah pertama, akhirnya hari ini gadis itu menerima hasil ujian yang menyatakan apakah dia lulus atau tidak.


"Ayo Sayang, nanti kita terlambat!" ajak Ayun sambil memakai pansus yang sangat pas dikakinya.


"Bentar, Bu," seru Adel yang masih berada di dapur. Tiba-tiba saja perutnya terasa mules, jadi dia harus laporan dulu ke kamar mandi.


Setelah semuanya siap, Ayun dan Adel bergegas pergi ke sekolah dengan diantar oleh supir. Tidak ada percakapan di antara mereka disepanjang perjalanan, apalagi Ayun terlihat sedang melamun karena memikirkan sesuatu.


"Apa hari ini dia datang ke sekolah juga?" Ayun menghela napas kasar. Tadi malam dia lupa bertanya pada Fathir apakah hari ini datang ke sekolah atau tidak, apalagi sejak semalam laki-laki itu tidak ada kabar.


Selama beberapa hari ini, Fathir sama sekali tidak ada membahas tentang apa yang terjadi di rumah sakit waktu itu, dan Ayun pun juga tidak tahu harus bagaimana membahasnya. Mereka memang tetap berkomunikasi, tetapi hanya membahas tentang pernikahan saja. Dia bahkan belum sempat kembali ke rumah sakit untuk menemui Dokter.


"Y-ya, Adel?" Ayun tersentak kaget saat mendengar panggilan Adel. Dia menoleh ke arah sang putri yang sedang menatap bingung.


"Kenapa Ibu melamun, apa Ibu ada masalah?" tanya Adel dengan khawatir. Sejak tadi dia memanggil sang ibu, tetapi ternyata ibunya sedang melamun.


"Tidak ada, Sayang. Ibu hanya sedang memikirkan persiapan pernikahan," jawab Ayun dengan berbohong, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.


Adel mengangguk paham. Dia lalu menatap sang Ibu dengan tajam, seperti ingin mengatakan sesuatu yang serius.


"Ada apa, Nak? Apa kau ingin sesuatu?" tanya Ayun yang sangat paham jika saat ini Adel ingin membicarakan sesuatu.


Adel mengangguk. "Aku, aku hanya ingin mengatakan sesuatu tentang Ayah." Dia bersuara dengan ragu.


Ayun tersenyum. "Katakan saja, Nak. Kenapa kau ragu-ragu seperti itu?" Dia mengusap bahu Adel agar putrinya itu tidak merasa ragu, apalagi ini pertama kali Adel kembali membahas tentang Evan setelah sekian lama.


Adel mengangguk. Dia lalu mengatakan jika sudah dua hari ini sang ayah terus mengirim pesan padanya, yaitu menanyakan bagaimana kabarnya saat ini, dan bolehkah jika ayahnya itu berkunjung itu melihat keadaannya.

__ADS_1


"Lalu, Adel balas apa?" tanya Ayun.


Adel terdiam, sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya karena sama sekali tidak membalas pesan dari sang ayah.


Sebenarnya, sudah beberapa kali Evan mengirim pesan atau menelepon Adel. Namun, tidak pernah mendapat balasan dari gadis itu. Lalu dua hari belakangan, dia terus meminta untuk menemui Adel dan Ezra, karena ingin melihat keadaan mereka.


"Kau tidak membalas pesan dari Ayah, Sayang?" tanya Ayun kembali, dan dijawab dengan gelengan kepala Adel.


Ayun menghela napas kasar. "Dengarkan ibu, Nak." Dia menggenggam kedua tangan Adel dengan lembut, disertai tatapan penuh kasih sayang. "Ibu tahu apa yang sudah terjadi di masa lalu sangat menyakiti hatimu, begitu juga dengan ibu dan kak Ezra. Tapi, kalau kita terus menyimpan rasa sakit itu, bagaimana kita bisa menjemput bahagia?"


Adel terdiam dengan tatapan sendu. Sebenarnya dia juga merindukan sang ayah, tetapi hatinya juga tidak bisa berbohong bahwa masih menyimpan amarah yang besar pada ayahnya itu.


"Penyakit hati itu tidak baik, Nak. Jangan sampai kebahagiaan tidak datang pada kita hanya karena masih menyimpan dendam," sambung Ayun. "Sebentar lagi Ibu akan menikah dengan om Fathir. Apa Adel menyayangi om Fathir?"


Adel langsung mengangguk. "Aku menyayangi om Fathir, Bu. Aku juga sayang ayah. Tapi, tapi hatiku sakit kalau melihat ayah."


Ayun menatap sendu, bahkan air mata sudah menggenang dipelupuk mata. "Maaf, Nak. Maafkan Ibu." Dia segera memeluk Adel dengan erat, karena merasa bersalah tidak bisa mengobati rasa sakit dihati putrinya itu.


Adel terisak dalam pelukan sang ibu. Sungguh dia merasa sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi dia sangat merindukan sang ayah, tetapi di sisi lain dia juga membencinya. Bukankah perasaan seperti ini sangat menyiksa sekali?


"Tidak apa-apa, Nak. Tidak apa-apa kalau kau marah pada ayah, tapi jangan sampai membenci ataupun dendam padanya," ucap Ayun dengan lirih. "Terus dekatkan dirimu pada Allah, perbanyak shalat dan berdoa. Jika dekat dengan Allah, maka hati akan tenang. Tidak apa-apa, Sayang. Pelan-pelan saja. Ada Ibu di sini, Ibu pasti akan terus mendukungmu." Dia mengusap puncak kepala Adel dengan lembut.


Adel mengangguk paham. Dia lalu merenggangkan pelukan itu sambil mengusap wajahnya yang basah, karena saat ini mereka sudah sampai di tempat tujuan.


"Ayo, jangan menangis lagi, Sayang! Hari ini kan kita mau ambil pengumuman kelulusan, jadi sebentar lagi Adel akan masuk ke SMA," seru Ayun sambil mengajak Adel untuk turun.


Adel mengangguk sambil mengulas senyum tipis. "Iya, aku akan lulus dan masuk ke SMA favorit." Seketika dia kembali ceria.


Ayun ikut tersenyum senang saat melihat senyum ceria diwajah Adel, begitu juga dengan seorang lelaki yang sudah lebih dulu sampai di sekolah itu dan sejak tadi memperhatikan mereka.


"Adel."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2