
Ruangan itu benar-benar sudah tidak berbentuk lagi. Semua barang-barang yang ada di tempat itu hancur akibat perkelahian yang terjadi, bahkan Fathir dan Rian sendiri juga sudah babak belur.
"Argh!" Rian memekik kesakitan saat kaki Fathir menginjak lengannya dengan kuat, hingga rasanya sangat sakit sekali.
Fathir benar-benar tidak memberi ampun. Dia terus menghajar Rian walau dia sendiri juga sudah babak belur, bahkan pelipisnya terluka akibat terkena lemparan vas bunga.
"Lepas!" teriak Rian saat Fathir menarik salah satu kakinya, lalu dengan kuat menghempaskan tubuhnya ke dinding. "Argh!"
Suara teriakan Rian terus menggema di tempat itu. Keadaannya benar-benar terlihat sangat mengenaskan dengan luka di mana-mana, bahkan pakaiannya sudah bersimbah darah.
"Kenapa? Kenapa baru segini saja kau sudah kesakitan, hah?" teriak Fathir dengan napas tersengal-sengal. Dia lalu kembali menarik kerah kemeja Rian dan melayangkan beberapa kali pukulan ke wajah laki-laki itu.
Buak.
Buak.
Buak.
Brak.
Darah segar kembali mengalir dari sudut bibir Rian yang terluka, tubuhnya kembali tersungkur ke atas lantai saat Fathir sudah melayangkan pukulan yang bertubi-tubi ke wajahnya
"Argh!" Rian kembali memekik sakit sambil memejamkan kedua mata saat kaki Fathir menginjak kepalanya, bahkan laki-laki itu masih meletakkan kakinya di sana.
"Kenapa, apa kau sudah mau mati?" tanya Fathir dengan sarkas. Siapapun yang melihatnya saat ini pasti akan bergetar ketakutan, karena raut wajahnya benar-benar sangat menyeramkan.
Keanu dan Alden yang masih berada di dalam ruangan itu juga hanya diam sambil menatap dengan tajam. Sepertinya Fathir benar-benar tidak akan memberi ampun pada Rian.
"Kenapa kau diam, hah?" teriak Fathir kembali diiringi errangan kesakitan Rian karena dia menekan kakinya yang berada di kepala laki-laki itu. "Kenapa baru seperti ini saja kau sudah kesakitan, hah? Padahal apa yang aku lakukan ini tidak seberapa dengan rasa sakit yang selama ini kau lakukan!" Dia menggertakkan giginya dengan penuh kemarahan.
Fathir lalu menarik kakinya dari kepala Rian. Dia berjongkok di hadapan laki-laki itu sambil mencengkram wajah Rian yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Selama ini kau tertawa di atas penderitaanku dan kakak. Apa kau sudah puas menghancurkan hidup kami, hah?" tanya Fathir sambil menghempaskan wajah Rian yang sudah lemas tidak berdaya. Kedua matanya tampak sayu dengan wajah bengkak penuh luka.
"Sebenarnya apa salah kami padamu, kenapa kau melakukan semua itu?" tanya Fathir kembali. "Selama ini kami selalu memperlakukanmu dengan baik, bahkan kakakku menganggapmu sebagai adiknya sendiri. Tapi ternyata kebaikan kami kau balas dengan kekejaman, bangs*at!" Umpatnya dengan marah.
Rian tersenyum sinis mendengar umpatan Fathir, membuat darah laki-laki itu semakin mendidih.
"Kau-"
"Sudah, Fathir. Kau bisa membunuhnya nanti," ucap Keanu sambil menahan tangan Fathir yang sudah akan kembali menghajar Rian. Dia yang sejak tadi diam harus turun tangan. Jangan sampai Rian mati ditangan Fathir, atau akan timbul masalah yang lain. Bukankah kematian adalah hukuman yang terlalu mudah untuk Rian?
__ADS_1
Fathir mengusap wajahnya dengan kasar sambil menahan gejolak kemarahan yang terus merasuki jiwa, dia bahkan ingin sekali membunuh Rian dengan tangannya sendiri saat ini.
Melihat ada kesempatan, dengan cepat Rian mengambil sebuah pistol yang ada di bawah sofa dan berada tepat di samping tubuhnya. Dia segera menghunuskan senjata itu ke arah Fathir lalu menarik pelatuknya.
Dor.
"Argh!"
Suara tembakan disertai teriakan menggema di tempat itu. Sebuah peluru berhasil menembus lengan seseorang, tetapi bukan berasal dari senjata Rian, melainkan senjata Alden.
"Bangs*at!" teriak Rian sambil mengerrang kesakitan saat peluru Alden menembus lengannya, bahkan pistol yang ada ditangannya langsung jatuh ke lantai dan menembak ke arah lemari.
Fathir dan Keanu yang terkejut mendengar tembakan Alden langsung menoleh ke arah laki-laki itu. Lalu mereka kembali melihat ke arah Rian karena mendengar suara errangan kesakitan laki-laki itu.
"Kau!" Kedua mata Fathir berkilat penuh kemarahan saat melihat sebuah pistol berada tepat di samping tubuh Rian, begitu juga dengan Keanu. Jelas mereka tahu bahwa laki-laki itu pasti berniat untuk menembak mereka.
Dengan cepat Fathir menarik kemeja Rian lalu kembali menghajar laki-laki itu. Tidak peduli jika Rian mati ditangannya, yang jelas dia harus mengeluarkan semua emosi yang ada dalam dada.
"Bangs*at! Kau benar-benar bajing*an, biad*ab!" sumpah serapah Fathir ucapkan sambil terus menghajar Rian, sementara Keanu hanya diam dan tidak lagi menghentikan. Persetan jika Rian benar-benar mati, karena dia juga emosi dengan apa yang laki-laki itu lakukan.
Untung saja Alden tetap memperhatikan Rian walau laki-laki itu sudah lemah tidak berdaya, hingga dia sadar jika laki-laki itu mengambil pistol dan berniat untuk menembak Fathir.
Tentu saja dia juga langsung mengambil senjatanya dan menembak lengan Rian, hingga pistol yang ada ditangan laki-laki itu terjatuh.
"Tuan!"
Keanu dan Alden langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar seruan seseorang, terlihat ada beberapa anak buah Rian yang ternyata baru sampai di tempat itu.
"Habisi mereka!" perintah Keanu.
Alden langsung menganggukkan kepalanya dan menyerang anak buah Rian, hingga perkelahian kembali terjadi di tempat itu.
Keanu sendiri juga menyerang mereka. Dia tidak mau lagi mengulur banyak waktu, itu sebabnya menyuruh Alden untung menghabisi mereka semua.
Sementara itu, Abbas dan yang lainnya berhasil menangkap anak buah Rian yang berada di luar, serta para pengunjung yang ada di bar itu. Tidak lupa mereka juga mengamankan para wanita yang bekerja di tempat itu, lalu membawa mereka semua ke kantor polisi.
"Ayo, kita harus melihat mereka!" ajak Abbas pada Haris dan juga Hery. Mereka harus segera melihat Keanu dan Fathir, serta membebaskan para gadis yang masih berada di dalam bar itu.
Brak.
Lani dan para gadis lainnya terlonjak kaget saat pintu kamar itu terbuka, mereka lalu saling berpelukan dengan takut saat melihat Abbas.
__ADS_1
"Jangan takut, kami datang untuk menyelamatkan kalian," ucap Abbas saat melihat ketakutan diwajah mereka semua.
"Benar, kami polisi. Ayo cepat, kalian harus segera keluar dari sini!" sambung Hery.
Para gadis itu mengangguk dan segera keluar dari kamar itu, walau pakaian yang mereka pakai ala kadarnya saja dan hanya bisa menutupi aset penting mereka.
Hery segera membawa para gadis itu menuju mobil polisi. Terlihat ada petugas medis juga di tempat itu yang langsung menghampiri mereka.
"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Abbas saat melihat seorang gadis masih berada di dalam ruangan itu.
Lani menatap Abbas dengan takut-takut. "Di-di mana tuan itu? Apa, apa dia baik-baik saja?" Dia bertanya dengan terbata-bata.
Abbas dan Haris mengernyitkan kening mereka karena tidak mengerti dengan apa yang Lani katakan. "Kami tidak tahu siapa yang kau maksud, tapi kau harus segera pergi dari tempat ini. Karena di sini sangat berbahaya." Ucap Abbas.
Lani yang merasa khawatir dengan keadaan Alden mau tidak mau segera keluar dari tempat itu bersama dengan Haris, sementara Abbas segera naik menuju lantai tiga untuk menghampiri Fathir dan Keanu.
Keadaan di ruangan itu benar-benar sangat menyeramkan sekali, bahkan Abbas sampai tercengang di ambang pintu saat melihat apa yang terjadi.
"Fathir!" panggil Abbas saat melihat Fathir masih menghajar Rian.
Ketiga lelaki yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah pintu, begitu juga dengan Fathir.
"Papa!" Keanu segera menghampiri Abbas yang sedang berjalan masuk ke dalam ruangan itu, sementara Fathir menghempaskan tubuh Rian tepat ke hadapan Abbas.
Abbas menelan salivenya dengan kasar saat melihat keadaan Rian yang sangat mengenaskan. Bukan hanya Rian saja, bahkan anak buah laki-laki itu juga sudah tergeletak bersimbah darah di atas lantai.
"Ka-kalian membantai mereka semua?" tanya Abbas dengan tergagap.
Fathir, Keanu, dan Alden menganggukkan kepala mereka secara bersamaan. "Maaf, Pa. Mereka pantas mendapatkan semua itu." Ucap Fathir.
Abbas menghela napas kasar. Dia lalu menyuruh Alden untuk membawa Rian keluar dari tempat itu dan serahkan pada petugas medis sebelum laki-laki itu mati.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan dengan mereka berdua?" Abbas melihat ke arah Fathir dan Keanu yang masih berdiri di hadapannya dengan tubuh bersimbah darah. Kepalanya berdenyut sakit melihat perbuatan kedua laki-laki itu, bisa-bisanya mereka membunuh anak buah Rian, bahkan keadaan Rian pun antara hidup dan mati sekarang
"Kalau Ayun dan Nindi melihat semua ini, mereka pasti akan syok dan pingsan. Kedua menantuku benar-benar menyeramkan."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.