
Farhan benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan diri, apalagi sejak awal dia memang sudah tahu tentang semua perbuatan yang telah Rian lakukan.
Semua orang yang ada di ruangan itu hanya diam, tanpa sedikit pun menghalangi pengusiran yang Farhan lakukan, sementara Rian sendiri menatap ke arah Farhan dengan emosi meluap.
"Anda tidak bisa mengusir saya seperti ini, Tuan. Saya sudah-"
"Aku bisa mengusir siapapun dari perusahaanku, termasuk kau!" potong Farhan dengan cepat. Dia menggertakkan giginya dengan rahang mengeras sambil menunjuk tepat ke depan wajah Rian. "Seharusnya sejak awal aku tidak menerimamu di perusahaanku, apalagi menjadikanmu sebagai asisten pribadi putraku. Kau hanyalah bajing*an yang selama ini mencuci otak anakku, kau laki-laki bangs*at!" Makinya dengan penuh kebencian.
Semua orang tersentak kaget saat mendengar ucapan pimpinan mereka, apalagi selama ini mereka tidak pernah mendengar Farhan mengucapkan hal seperti itu.
"Bukan putraku yang seharusnya ada di dalam penjara, tapi kau! Kaulah yang telah meracuni pikirannya untuk-"
"Sudah, Pa. Tenangkan diri Papa," ucap Fathir membuat ucapan sang papa terhenti. Dia segera menghampiri papanya lalu menepuk bahu sang papa dengan pelan, seolah memberikan kode bahwa papanya harus menyudahi kemarahan ini.
Farhan menghela napas kasar. Si*al, dia benar-benar tidak bisa menahan diri hingga mengeluarkan semua kemarahan yang ada dalam hatinya, apalagi melihat orang yang sudaulh menghancurkan putra berada tepat di hadapannya sendiri.
Orang-orang yang ada di tempat itu benar-benar dibuat kebingungan dan syok secara bersamaan. Berbagai pertanyaan memenuhi pikiran mereka saat ini, apalagi dengan semua ucapan Farhan yang memunculkan berbagai spekulasi dalam pikiran mereka.
Begitu juga dengan Rian. Keterkejutan terlihat jelas diwajahnya saat mendengar kemarahan Farhan, dia benar-benar tidak menyangka jika laki-laki paruh baya itu akan berkata hal seperti itu. Mungkinkah mereka sudah tahu semuanya?
"Si*al! Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia mengatakan hal seperti itu seolah tahu semua yang aku lakukan?" Rian benar-benar dilanda kebingungan. Wajah yang semula menatap penuh kemarahan dan kebencian, kini tampak pias dan gelisah.
__ADS_1
"Loh, kau masih di sini?"
Tiba-tiba suara Fathir mengagetkan Rian hingga membuat lamunannya terhenti, sontak dia melirik ke arah laki-laki itu dengan sengit.
"Saya akan pergi, tapi bukan berarti saya salah. Saya akan tunjukkan bahwa selama ini saya benar-benar mengabdikan diri pada perusahaan, dan tidak pernah melakukan hal yang merugikan perusahaan," ucap Rian. Dia memilih untuk mundur karena situasi sudah tidak terkontrol lagi, apalagi dia merasa tersudut dengan apa yang mereka katakan.
Rian lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu, sebelumnya dia sempat membungkukkan tubuh di hadapan mereka semua. Walau bagaimana pun, dia harus tetap terlihat tenang di hadapan mereka.
"Si*alan!" umpat Rian dengan kesal saat sudah sampai di parkiran mobil. "Kenapa, kenapa semuanya jadi seperti ini?" Dia menendang mobilnya sendiri dengan kuat hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.
Semua rencananya hancur berantakan gara-gara Fathir, bahkan semua kerja keras yang telah dia lakukan benar-benar tidak ada artinya sama sekali di hadapan mereka semua.
"Bajing*an, kau benar-benar brengs*ek, Fathir!" umpat Rian kembali, dadanya naik turun karena emosi yang sedang melanda. "Seharusnya sejak awal aku memang menargetkanmu, tapi malah kakakmu yang bod*oh itu yang berhasil kuhancurkan!" Dia benar-benar murka.
"Aku harus mencaritahu siapa Keanu sebenarnya, aku yakin dari dialah Fathir mendapat semua laporan rekening pribadiku," gumam Rian dengan kedua tangan terkepal erat.
Selama ini dia tidak pernah mencari tahu tentang Keanu, dia bahkan sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki itu. Namun, ketidakpeduliannya itu ternyata menjadi kehancuran untuknya sendiri.
"Tapi, bagaimana mungkin Tuan Farhan bisa bicara seperti itu? Apa dia-" Tiba-tiba Rian menyadari sesuatu yang mungkin selama ini telah dia lupakan. "Fathan? Yah, pasti dia yang sudah memberitahu semua itu pada ayahnya. Dasar bangs*at!" Dia segera masuk ke dalam mobil dan bergegas untuk menemui Fathan. Laki-laki itu harus diberi pelajaran karena sudah mengatakan sesuatu pada mereka.
Sementara itu, semua orang masih tetap berada di dalam ruang rapat. Setelah kepergian Rian, para dewan direksi dan pemegang saham langsung bertanya pada Farhan tentang apa yang dia katakan tadi. Tentu saja mereka semua sangat penasaran dengan maksud dari ucapan laki-laki itu.
__ADS_1
"Saya minta maaf pada Anda semua jika sudah membuat keributan. Untuk saat ini, saya belum bisa memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saya janji, jika waktunya tepat nanti maka saya sendiri yang akan memberitahu Anda semua," ucap Farhan. Dia belum bisa menceritakan semua yang sudan Rian lakukan, karena masih ada orang-orang yang mendukung laki-laki itu.
"Jujur saja, kami semua benar-benar syok dengan apa yang terjadi saat ini. Kami harap ini bukan hanya permainan Anda saja, karena kami sudah cukup menghadapi semua masalah yang keluarga Anda buat," ucap salah satu dewan direksi.
Farhan dan Fathir menganggukkan kepala secara bersamaan. Walaupun perusahaan itu milik mereka, tetapi banyak orang-orang yang terlibat untuk memajukan perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan besar di negara mereka. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Sekali lagi saya benar-benar minta maaf pada Anda semua, karena apa yang terjadi di masa lalu maupun sekarang. Dan saya juga tidak akan memaksa Anda semua untuk menjadikan saya sebagai seorang pemimpin, walau sebenarnya kursi itu memang untuk saya dan juga kakak saya," ucap Fathir sambil melihat ke arah sang papa, dan dibalas dengan senyuman hangat papanya itu.
"Sejak awal, saya datang ke perusahaan bukan untuk menggantikan tuan Farhan, tapi saya datang untuk menghentikan kenaikan Rian, dan saya sudah menunjukkan bukti-bukti kejahatannya di hadapan Anda semua. Jadi saya serahkan semua keputusan ditangan Anda, karena saya tidak akan naik menggantikan ayah saya," sambung Fathir membuat papanya langsung menatap dengan tajam.
"Apa maksudmu, Fathir?" tanya Farhan dengan tidak mengerti, begitu juga dengan para pendukungnya.
Fathir tersenyum. Dia lalu beranjak dari kursi itu dan berdiri di hadapan semua orang.
"Saya akan mengisi jabatan itu karena kemampuan saya diakui, bukan hanya karena garis keturunan. Mungkin dulu Anda semua memang sudah mengusung saya agar menggantikan tuan Farhan, tapi saat ini keadaan dan kemampuan saya mungkin sudah tidak lagi sama. Jadi saya serahkan semuanya pada kalian, apakah menurut kalian saya layak untuk kembali ke perusahaan atau tidak."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.