
Setelah kepergian Ayun dan Faiz, Fathir kembali masuk ke dalam tenda untuk mengambil matras lalu membentangnya di samping tenda tersebut.
Sudah ada banyak laporan yang masuk ke emailnya hari ini, dan Fathir harus segera memeriksa satu per satu selagi tidak ada kegiatan.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam dan suasana sekitar juga sudah mulai gelap.
"Om Fathir!"
Fathir mendongakkan kepalanya saat mendengar panggilan seseorang. "Ada apa, Adel?" Dia bertanya sambil memasukkan ponsel yang sejak tadi berada ditangannya ke dalam saku.
Adel yang baru membasuh wajahnya karena bangun tidur, mendekat ke arah Fathir yang sedang duduk tenang di atas matras.
"Ibu ada di mana ya Om, kok gak ada di tenda?" tanya Adel. Dia merasa kebingungan saat tidak melihat keberadaan sang ibu saat membuka mata.
Fathir terdiam saat mendengar pertanyaan Adel. Benar juga, sudah sejak tadi Ayun dan Faiz pergi mencari kayu dan sampai sekarang belum kembali.
"Astaga!" Fathir terkesiap saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan sudah menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit.
Sangking fokusnya memeriksa laporan, Fathir sampai tidak sadar jika hari sudah gelap, bahkan maghrib saja sudah hampir terlewat.
Seketika Fathir beranjak dari matras dengan wajah panik. Dia segera mengambil ponselnya kembali untuk menghubungi Faiz, membuat Adel merasa bingung dengan kepanikannya.
"Ada apa, Om?" tanya Adel dengan bingung. Dia menarik tangan Fathir agar laki-laki itu menjawab pertanyaannya.
Fathir yang sedang sibuk menelepon Faiz merasa geram karena ponsel anaknya itu ternyata berada di dalam tenda, dia lalu melihat ke arah Adel yang sedang menarik tangannya.
"Kau tunggu di sini saja, Adel. Om akan mencari Ayun dan Faiz," ucap Fathir. Dia lalu masuk ke dalam tenda untuk mengambil senter atau alat apapun yang penting untuk dibawa.
"Me-memangnya ibu dan Faiz ke mana, Om?" tanya Adel dengan panik sambil ikut masuk ke dalam tendanya Fathir.
Fathir lalu mengatakan jika Ayun dan Faiz sedang mencari kayu sejak pukul 5 tadi, tetapi tidak juga kembali sampai saat ini.
__ADS_1
"Segera beritahukan tentang hal ini pada semua orang, kita harus segera menemukan mereka," ucap Fathir kemudian.
Adel mengangguk paham dan langsung berlari ke tenda kepala sekolah untuk memberitahu tentang keadaan ibunya dan juga Faiz, sementara Fathir sendiri bergegas pergi ke arah hutan yang ada di belakang tendanya. Dia harus segera menemukan mereka berdua.
"Ayun, Faiz!" teriak Fathir sambil terus menyusuri jalan setapak di hutan itu. Dia benar-benar merasa gelisah dan juga khawatir.
"Ayun, Faiz! Kalian ada di mana?" teriak Fathir kembali. Sia*l, dia benar-benar menyesal karena tidak ikut dengan mereka berdua. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa mereka tidak kembali juga?
"Sh*it!" Fathir mengumpat kesal sambil memukuli sebuah pohon yang ada di sampingnya. Dia benar-benar merasa sangat khawatir pada Ayun dan juga Faiz. Jangan-jangan sedang terjadi sesuatu dengan mereka?
Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Fathir lalu kembali mencari keberadaan Ayun dan juga Faiz sambil terus berteriak memanggil nama mereka.
Fathir mengambil sebongkah kayu lalu mengayunkannya ke semak belukar yang ada di hadapannya untuk membuka jalan, karena hutan itu memang sangat semak sekali.
Sementara itu, Adel yang sudah memberitahu semua orang tentang ibunya tampak menangis dengan tersedu-sedu. Dia merasa takut dan khawatir dengan keadaan sang ibu yang tidak tahu entah di mana.
"Jangan menangis, Adel. Kita pasti bisa menemukan ibumu," ucap pak kepala sekolah.
"Ibu, huhuhu." Adel menangis dengan sejadi-jadinya. Beberapa orang berusaha untuk menenangkannya, tetapi dia tetap tidak mendengar.
Pada saat yang sama, ditempat lain terlihat seorang wanita sedang terbaring di atas rerumputan dengan tidak sadarkan diri. Lalu di sampingnya ada seorang lelaki yang sejak tadi terus mencoba untuk menyadarkannya.
"Tante, bangun!" Faiz menggoyang-goyang tubuh Ayun agar wanita itu bangun. Sudah entah berapa kali dia melakukannya, tetapi Ayun tetap tidak bangun juga.
Faiz menatap Ayun dengan mata berkaca-kaca, sampai akhirnya air mata tumpah ruah membasahi wajahnya yang tampak sangat panik dan khawatir.
Beberapa jam yang lalu, Faiz tidak sengaja menginjak sebuah tali yang sengaja dipasang oleh pemburu untuk menangkap binatang liar.
Pemburu itu mengikat batu yang lumayan besar dan digantung di atas pohon, lalu mengikatkan talinya di tanah agar binatang bisa terjerat dan tertimpa oleh batu tersebut.
Naas, tali tidak sengaja terinjak oleh Faiz lalu menyebabkan batu yang tergantung di atas pohon jatuh ke arahnya.
__ADS_1
Namun, dengan cepat Ayun mendorong Faiz untuk menyelamatkan laki-laki itu, dan membuat dirinya sendiri tertimpa oleh batu tersebut.
Ayun meletakkan kedua tangannya di atas kepala agar batu itu tidak menimpa kepalanya, alhasil tangannya patah karena terbentur dengan keras.
"Bagaimana ini?" Faiz merasa bingung harus melakukan apa saat ini. Dia tidak membawa ponsel, bahkan untuk melihat Ayun saja dia tidak jelas sangking gelapnya.
"Ya Tuhan, tolong aku," gumam Faiz sambil terisak. Dia menggenggam kedua tangan Ayun dengan erat, dan berharap agar wanita itu segera membuka mata.
Beberapa saat kemudian, Ayun mulai mengerjapkan kedua matanya sambil mendesis menahan sakit membuat Faiz langsung menatap dengan penuh bahagia.
"Ta-Tante," panggil Faiz sambil tetap menggenggam kedua tangan Ayun, membuat wanita itu memekik keras karena merasa kesakitan. "A-ada apa, Tante? Ta-Tante sudah sadar?" Dia kembali bertanya dengan panik.
Ayun menganggukkan kepalanya walau Faiz tidak dapat melihat. "Tante baik-baik saja, Faiz. Tapi bisakah kau melepaskan tangan Tante? Rasanya sakit sekali."
Seketika Faiz langsung melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Ayun. "Ma-maaf, Tante. Aku, aku tidak tahu." Dia menatap Ayun dengan nanar.
Ayun tersenyum tipis. Dia lalu berusaha untuk duduk sambil menahan rasa sakit di tangan sebelah kanannya, membuat Faiz ikut membantu Ayun walau tanpa menyentuh tangan wanita itu.
"Terima kasih, Faiz. Tapi, sudah berapa lama Tante tidak sadar?" tanya Ayun dengan lirih. Dia memperhatikan ke sekitar tempat, dan keadaannya sangat gelap gulita.
"Tidak tahu, Tante. Maaf, maafkan aku," ucap Faiz sambil menundukkan kepalanya. Dia sangat merasa bersalah dengan apa yang terjadi, apalagi wanita itu menyelamatkannya dan rela mengorbankan diri sendiri.
Ayun tersenyum. Dia lalu mengusap puncak kepala Faiz membuat laki-laki itu terkesiap. "Orang tua memang harus melindungi anaknya, Faiz. Jadi jangan meminta maaf."
Faiz terdiam saat mendengar ucapan Ayun. Tubuhnya bergetar hebat dengan jantung berdegup kencang. "Orang tua? Ta-tante menganggapku sebagai anak?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.