
Ayun dan yang lainnya berjalan dengan beriringan untuk masuk ke dalam rumah sakit. Dia dan Fathir berada di depan, sementara Ezra, Adel, dan juga Faiz berada di belakang sambil bercerita panjang lebar. Tentu saja yang berisi perdebatan antara Adel dan Faiz saja.
"Lihat, Faiz selalu saja membuat gaduh di mana pun berada," ucap Fathir sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Helaan napas frustasi pun terdengar di telinga Ayun, membuat wanita itu tersenyum simpul.
"Namanya juga anak-anak. Kalau tidak membuat gaduh, lalu apa lagi yang akan mereka perbuat?" sahut Ayun sambil terkekeh pelan.
Faiz dan Adel memang selalu saja bertengkar di mana pun mereka berada, tetapi menurut Ayun pertengkaran mereka sangat manis dan masih berada di tahap wajar. Apalagi keduanya masih sama-sama labil, dan harus sering diarahkan serta dinasehati.
Fathir melirik ke arah Ayun dengan tatapan kagum. Semakin lama dia mengenal wanita itu, maka perasaan kagum dan sukanya terasa semakin besar.
Apalagi Ayun terus saja menunjukkan sikap yang sangat bijak dan baik, membuatnya merasa jika Ayun adalah wanita yang hampir mendekati sempurna, walau sejatinya tidak ada manusia yang sempurna.
"Jangan sungkan untuk memarahinya jika Faiz berbuat salah, Ayun. Dia itu-"
"Minggir!"
Semua orang tersentak kaget saat mendengar teriakan seseorang, termasuk Fathir dan yang lainnya hingga membuat ucapannya terhenti.
Ayun dan kedua anaknya langsung menoleh ke arah belakang, begitu juga dengan Fathir dan Faiz untuk melihat sebenarnya siapa yang sudah berteriak di tempat itu.
Deg.
"A-Ayah?" gumam Adel saat melihat seorang lelaki paruh baya sedang mendorong banker bersama dengan petugas medis, dia juga melihat wanita itu. Wanita yang sudah membuat kedua orang tuanya berpisah, wanita yang sangat dia benci.
Bukan hanya Adel saja yang melihatnya, tetapi yang lainnya juga. Tampak mereka terkejut saat melihat Evan, terutama Ayun yang menatap laki-laki itu dengan tajam.
"Tolong minggir, semuanya!" pinta petugas medis, membuat Ayun dan yang lainnya terkesiap.
Dengan cepat mereka semua berpindah tempat agar tidak menghalangi jalan, begitu juga dengan Ezra yang menatap sang ayah dengan tatapan nyalang.
"Suci, putriku. Bangun, Nak!" ucap Evan sambil mendorong banker. Air mata luluh lantak di wajahnya, karena saat ini Suci sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Sama halnya dengan Evan, Sherly juga tampak meraung-raung melihat keadaan Suci membuat seisi rumah sakit langsung memperhatikan mereka.
"Su-Suci," ucap Ayun dengan kaget saat mendengar ucapan Evan, dia merasa kaget saat melihat ke arah ranjang di mana Suci berada.
Fathir yang sejak tadi memperhatikan juga tampak terkejut saat melihatnya, apalagi ketika melihat kondisi Suci yang sepertinya tidak dalam keadaan baik.
"Apa, apa yang terjadi pada Suci?" tanya Ayun dengan lirih. Sudah lama dia tidak bertemu dengan gadis kecil itu, tentu saja dia merasa kasihan melihat keadaannya saat ini.
Ezra mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat melihat apa yang terjadi. Rasa iba dan kasihan sama sekali tidak ada dalam hatinya, yang ada hanyalah kemarahan dan juga rasa benci.
"Itu bukan urusan kita, Bu. Ayo, Dokter sudah menunggu!" ajak Ezra sambil menatap sang ibu dengan tajam.
Ayun tertegun saat mendengar ucapan Ezra, sementara Fathir hanya melirik laki-laki itu saja.
"Kakak benar. Kita harus segera bertemu Dokter dan pulang, Ibu," tambah Adel. Dia berucap dengan penuh penekanan, tetapi siapapun bisa tahu jika saat ini matanya memerah seperti ingin menangis.
Ayun terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya. Dia merasa sedih dengan reaksi yang kedua anaknya berikan, tampak jelas jika luka dihati mereka masih sangat basah.
Fathir yang berada di belakang Ayun menatap punggung wanita itu dengan nanar. Dia mengerti jika saat ini Ayun pasti sedih memikirkan Ezra dan juga Adel, apalagi luka yang ada dihati wanita itu sendiri pun pasti masih belum hilang.
"Apa yang bisa kulakukan untuk mengurangi kesedihanmu, Ayun?" Fathir menghela napas kasar. "Ya Allah, aku adalah hamba-MU yang lalai dan penuh dengan dosa, tetapi tidak dengan Ayun. Dia adalah hamba-MU yang baik dan taat, tolong berikanlah dia ketenangan dan kebahagiaan. Aku mohon." Sekilas dia memejamkan kedua mata, berharap jika do'anya dikabulkan oleh sang maha pencipta.
Diam-diam Faiz yang berada di samping sang papa terus memperhatikan papanya itu. Sekarang dia yakin jika sang papa memang memiliki perasaan istimewa untuk Ayun, karena tatapan yang papanya berikan sama persis saat sang papa menatap mamanya sebelum masalah besar itu datang.
"Apa yang harus aku lakukan?" Faiz merasa bingung sendiri.
Jujur saja, Faiz sama sekali tidak merasa keberatan jika papanya memang benar-benar jatuh hati dengan Ayun. Dia bahkan merasa senang karena papanya bisa memiliki pendamping setelah apa yang terjadi di masa lalu.
Setelah Faiz mengetahui kebenaran tentang mendiang mamanya, dia merasa sangat terpuruk. Namun, lambat laun hubungannya dengan sang papa berangsur membaik.
Oma dan opanya juga sudah berulang kali bicara dengannya, dan memberi pemahaman yang sejelas-jelasnya tentang apa yang terjadi di masa lalu. Juga tentang penolakan papanya untuk kembali ke perusahaan.
__ADS_1
"Aku akan melihat dulu. Jika berjalan dengan baik, maka aku akan bilang pada oma dan opa. Mereka pasti senang mendengar kabar ini." Faiz sudah mengambil keputusan, dia akan menunggu sebentar lagi. Jika ada kemajuan tentang hubungan papanya dan Ayun, barulah dia akan mengatakan semua itu pada oma dan opanya.
Sementara itu, para petugas medis segera membawa Suci ke dalam ruang IGD untuk pemeriksaan. Evan dan Sherly di larang untuk masuk, mereka hanya bisa menunggu di luar ruangan itu saja.
"Suci, putriku. Huhuhu." Sherly menangis dengan tersedu-sedu sambil menatap ruang IGD. Perasaan khawatir, takut, dan juga sedih menyelimutinya. Hatinya terasa hancur melihat keadaan sang putri, jika bisa maka dia siap untuk menggantikan rasa sakit yang sedang Suci rasakan saat ini.
Evan sendiri terduduk di atas kursi dengan frustasi. Berulang kali dia mengusap wajahnya yang basah dengan perasaan khawatir dan cemas dengan keadaan Suci.
Sangking fokus dan cemasnya dengan Suci, Evan sampai tidak sadar jika tadi dia melewati kedua anaknya yang lain. Anak yang sudah lama tidak dia temui, dan tidak dia tanya bagaimana kabar mereka.
Nyut.
Evan langsung menekan dadanya yang terasa berdenyut sakit dan sesak. Rasa sakit ini sama persis seperti beberapa waktu yang lalu, di mana saat dia terkena serangan jantung.
"Tidak, aku tidak boleh sakit. Aku harus tetap berada di sini untuk menjaga Suci." Evan berusaha untuk menenangkan diri, apalagi saat melihat kondisi Sherly yang tidak lebih baik darinya.
"Tunggu, Adel. Kau mau ke mana?"
Deg.
Evan tersentak kaget saat mendengar suara nyaring dari seseorang, sontak dia menoleh ke arah samping di mana sumber suara itu berada.
"A-Adel?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1